Hari Sumpah Pemuda Jadi Momentum Pemuda untuk Berkembang dan Majukan Sektor Pertanian

Tenggarong – Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-96 dimaknai sebagai momentum penting bagi para pemuda tani untuk berkembang dan berkontribusi lebih besar dalam memajukan sektor pertanian.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kutai Kartanegara (Kukar) setelah upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, di halaman kantor Bupati Kukar, Senin (28/10/24).

Dalam momentum tersebut, Taufik menyampaikan Hari Sumpah Pemuda ini adalah kesempatan bagi para pemuda tani untuk lebih semangat dan aktif dalam mengembangkan usaha tani mereka.

Pemuda tani, lanjutnya, merupakan bagian dari pemuda nasional yang memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga ketahanan pangan dan keutuhan negara.

Dengan pemanfaatan teknologi dan inovasi, ia berharap para pemuda tani mampu menjadi pendorong utama kemajuan pertanian di Kukar.

“Mari kita ingat pesan Bung Karno: berikan aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia,” ujar Taufik, menekankan peran besar pemuda dalam membangun bangsa.

Ia juga menggaris bawahi pentingnya lahirnya generasi petani muda yang adaptif dan terlatih dalam menghadapi tantangan zaman.

Taufik menjelaskan, Distanak Kukar berkomitmen untuk mendukung modernisasi pertanian dengan memfasilitasi petani muda dan milenial agar dapat mengikuti perkembangan teknologi.

“Kami di Distanak Kukar siap mendorong lahirnya pemuda tani yang tangguh dan inovatif,” pungkasnya. (adv/ak)

Distanak Kukar Akan Optimalkan Bendungan untuk Tingkatkan Sektor Pertanian di Kecamatan Tabang

Tenggarong – Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kutai Kartanegara (Kukar) sedang berupaya mengoptimalkan potensi pertanian di Kecamatan Tabang dengan memanfaatkan keberadaan bendungan.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Distanak Kukar, Moh. Rifani, mengatakan area pertanian di wilayah tersebut cukup luas dan telah didukung dengan program bina desa.

Rifani menjelaskan setelah melakukan identifikasi, ditemukan bendungan yang tidak beroperasi. Diketahui, bendungan tersebut sudah ada sejak lama dan masih dalam kondisi yang dapat dioperasikan.

“Jika kita dapat mengaktifkan kembali bendungan ini, sawah di sekitar dapat terairi dengan baik. Kami tidak perlu membangun infrastruktur baru,” ungkapnya, Sabtu (26/10/24).

Perlu diketahui, Bendungan dapat menawarkan banyak manfaat bagi areal pertanian dan menjadi sumber air bersih bagi masyarakat.

Bendungan berfungsi sebagai penampung air hujan dan pengatur pasokan air untuk irigasi.

Dengan adanya bendungan, petani dapat mengairi sawah secara lebih efisien, terutama pada musim kemarau, yang sangat krusial untuk menjaga kelangsungan pertanian dan meningkatkan hasil panen.

Bendungan juga berperan penting dalam pencegahan banjir, dengan mengatur aliran air, bendungan dapat mengurangi risiko banjir yang dapat merusak lahan pertanian dan infrastruktur.

“Dengan irigasi yang memadai, kami yakin hasil pertanian mereka dapat meningkat,” ungkapnya.

Selain itu, keberadaan bendungan juga dapay membantu meningkatkan kualitas tanah.

Air yang dialirkan melalui sistem irigasi dapat menjaga kelembapan tanah dan mengurangi erosi, sehingga tanah tetap subur untuk pertumbuhan tanaman.

Manfaat ini tidak hanya berdampak pada hasil pertanian, tetapi juga pada kesehatan lingkungan.

Dampak positif lainnya dari bendungan adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dengan hasil pertanian yang lebih baik, pendapatan petani pun meningkat, memberikan kontribusi signifikan terhadap ekonomi lokal.

Stabilitas pasokan air memungkinkan petani untuk melakukan diversifikasi tanaman, memperluas jenis komoditas yang mereka tanam, dan meningkatkan potensi pendapatan.

Namun, Rifani mencatat para petani di daerah hulu menghadapi beberapa tantangan, terutama terkait keterbatasan alat mesin pertanian.

“Salah satu kendala yang dihadapi petani adalah kurangnya alat mesin pertanian. Distanak berkomitmen untuk membantu petani dengan memperbaiki sistem irigasi bendungan,” tutupnya. (adv/ak)

Distanak Kukar Rencanakan Perbaikan Saluran Irigasi untuk Atasi Masalah Pertanian di Kembang Janggut

Tenggarong – Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kutai Kartanegara (Kukar) mengidentifikasi masalah dalam sistem irigasi di Kecamatan Kembang Janggut yang berdampak pada produktivitas pertanian.

Dalam mengatasi hal tersebut Distanak Kukar akan rencanakan perbaikan sistem irigasi. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Sarana dan Prasarana, Moh Rifani pada, Sabtu (26/10/24).

Rifani menjelaskan bahwa ada laporan dari kelompok tani di Kembang Janggut yang mengungkapkan bahwa ada lahan pertanian seluas ratusan hektar tidak memiliki saluran irigasi yang memadai.

“Akibatnya saat hujan, area tersebut menjadi tergenang dan berubah menjadi danau,” ungkap Rifani.

Ia menyebut, masalah ini dapat menyebabkan kerugian bagi para petani dan menghambat pertumbuhan tanaman.

Pentingnya sistem irigasi yang efisien tidak bisa dipandang sebelah mata, karena irigasi yang baik dapat memastikan pasokan air yang cukup untuk tanaman, serta mengurangi risiko kerusakan akibat genangan air.

Rifani menekankan bahwa pihaknya berkomitmen untuk melakukan evaluasi terhadap perbaikan sistem irigasi pertanian yang ada.

Diharapkan, langkah ini akan membantu meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan para petani di kawasan tersebut.

“Kami akan fokus pada hal-hal seperti ini agar masalah yang dihadapi petani di Kembang Janggut dapat teratasi,” tutupnya. (adv/ak)

Jumlah Petani di Daerah Hulu Masih Rendah, Distanak Sebut Luas Lahan dan Sarana Menjadi Kendala

Tenggarong – Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kutai Kartanegara (Kukar), Moh. Rifani, mengungkapkan jumlah petani di daerah hulu Kukar masih tergolong rendah.

Kondisi ini disebabkan oleh luas lahan yang dikelola sebagian besar petani di daerah tersebut masih kurang dari satu hektar, dengan beberapa petani hanya memiliki lahan seluas 0,5 hingga 0,3 hektar.

“Untuk skala usaha, ini masih kurang,” kata Rifani ketika diwawancarai media ini, Jumat (25/10/24).

Rifani menjelaskan setelah dilakukan penelusuran, ditemukan sejumlah kendala yang memperlambat perkembangan pertanian di daerah hulu.

“Kami mengetahui ada kekurangan alat mesin pertanian dan di beberapa lokasi sistem pengairan kurang baik,” ujarnya.

Menurutnya, jika potensi pengairan ini dibuka, lahan yang dapat dialiri air bisa mencapai ratusan hektar lebih, memberikan peluang besar untuk peningkatan produktivitas pertanian.

Ia menambahkan, Distanak berupaya menggali potensi ini agar pengembangan pertanian tidak hanya terfokus di wilayah tengah, namun juga mencakup wilayah hulu.

“Potensi lahan pertanian kita luas, dan kita perlu mendorong agar daerah hulu lebih tergarap,” katanya.

Saat ini, hanya ratusan hektar lahan di wilayah hulu yang sudah tergarap, itupun terbatas pada titik-titik tertentu.

Kata dia, Daerah tersebut meliputi Kecamatan Tabang, Kembang Janggut, Kenohan, Muara Wis, dan Muara Muntai.

“Potensinya besar, dan ini yang memang harus kita dorong lagi,” tutup Rifani. (adv/ak)

Distanak Kukar Siapkan Peta Pertanian untuk Lima Kecamatan di Hulu

Tenggarong – Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak)Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tengah menyusun rencana untuk memetakan kawasan pertanian di lima kecamatan di wilayah hulu.

Langkah ini bertujuan untuk mengoptimalkan potensi pertanian di Kecamatan Muara Muntai, Muara Wis, Kenohan, Kembang Janggut, dan Tabang, yang selama ini dinilai memiliki potensi besar namun memerlukan pengelolaan yang lebih terarah melalui pemetaan yang terperinci.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Distanak Kukar, Moh. Rifani, menyampaikan peta tersebut tidak hanya akan memetakan kawasan secara umum, tetapi juga mencakup informasi spesifik tentang kelompok tani di setiap kecamatan.

Peta ini akan memberikan data mengenai luas lahan yang dikelola oleh masing-masing kelompok tani, sehingga pemerintah dapat merancang program yang lebih tepat guna.

“Kami akan memastikan peta ini meliputi semua informasi yang diperlukan, termasuk jumlah kelompok tani dan luas lahan yang mereka kelola,” ungkap Rifani, Jum’at (25/10/24).

Menurutnya, peta ini akan mirip dengan model yang sudah diterapkan di lima kawasan pertanian sebelumnya di Loa Janan, Tenggarong Seberang, Muara Kaman, Samboja, dan Sebulu, yang terbukti efektif dalam pengelolaan pertanian di wilayah tersebut.

Dengan adanya informasi yang lebih rinci, pemerintah dapat mengarahkan sumber daya secara lebih efisien serta memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan spesifik setiap kelompok tani.

Selain itu, peta ini akan digunakan sebagai alat untuk mengawasi penggunaan lahan agar sesuai dengan peruntukannya dan tidak terjadi penyimpangan.

“Ini adalah langkah penting untuk memastikan wilayah hulu tidak tertinggal dalam hal pengelolaan pertanian,” tambah Rifani.

Di akhir pernyataannya, Rifani menyampaikan harapannya agar peta kawasan pertanian di wilayah hulu ini dapat menjadi dasar yang kuat bagi pengembangan pertanian ke depan.

“Dengan peta ini, kita bisa lebih terfokus dalam mendukung para petani, dan memastikan bahwa setiap lahan dimanfaatkan dengan optimal,” pungkasnya. (adv/ak)

Hujan Deras dan Angin Kencang Rusak Gedung Enggang RSUD Aji Muhammad Parikesit, Pasien Dievakuasi

Tenggarong – Hujan deras disertai angin kencang yang melanda Kota Tenggarong, menyebabkan kerusakan di Gedung Enggang lantai tiga RSUD Aji Muhammad Parikesit, Tenggarong Seberang pada Kamis (24/10/24).

Bangunan lama yang selesai dibangun pada tahun 2011 tersebut mengalami kerusakan pada plafon setelah sebagian bangunan dihantam angin kencang, mengakibatkan bata ringan jatuh dan merusak bagian atap.

Direktur RSUD, Dr. Martina Yulianti, menjelaskan kerusakan ini terjadi saat hujan lebat dan angin kencang melanda.

Meskipun kerusakan cukup serius, ia memastikan tidak ada pasien yang mengalami cedera berat, hanya ada beberapa cedera ringan yang segera ditangani oleh tim medis.

“Yang penting saat ini adalah semua pasien sudah dievakuasi dengan aman dan pelayanan tetap berjalan. Alhamdulillah, semuanya tertangani dengan baik,” ungkapnya.

Dalam situasi tanggap darurat, pihak rumah sakit segera mengevakuasi seluruh pasien di lantai tiga ke Gedung Rajawali lantai dua.

Evakuasi juga dilakukan terhadap peralatan medis dan dokumen penting untuk memastikan keselamatan pasien dan menjaga kelancaran pelayanan.

Ia juga menjelaskan, meskipun suplai listrik dan oksigen di lantai tiga harus dihentikan demi keamanan. Pelayanan medis secara keseluruhan tidak terganggu karena pasien dipindahkan ke gedung baru yang akan segera difungsikan sebagai poliklinik.

Gedung Enggang yang mengalami kerusakan merupakan bangunan lama yang telah beroperasi lebih dari 10 tahun.

Dr. Martina menyebut perawatan rutin selalu dilakukan, namun kondisi cuaca ekstrem hari ini menyebabkan kerusakan yang tidak dapat dihindari.

“Gedung ini memang sudah lama, tapi biasanya tidak ada masalah kalau tidak ada angin kencang seperti tadi,” jelasnya.

Meskipun kerusakan hanya terjadi di satu ruangan, pihak rumah sakit tetap mengevakuasi pasien dari enam kamar lainnya sebagai langkah antisipasi.

Semua pasien yang dipindahkan dalam keadaan aman dan perbaikan segera dilakukan oleh para pekerja yang sedang bertugas di RSUD.

“Kami berharap proses perbaikan bisa segera selesai agar aktivitas di gedung tersebut kembali normal,” pungkas Dr. Martina. (ak)