Tenggarong 244 Tahun: Menjaga Sungai, Mewariskan Masa Depan

Oleh: Firnadi Ikhsan, S.Pi*

Tanggal 28 September 2026, Tenggarong genap berusia 244 tahun.

Sebagai kota sejarah yang lekat dengan perjalanan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura sekaligus ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara, Tenggarong telah mengalami perubahan panjang. Penduduk bertambah, permukiman berkembang, pusat kegiatan tumbuh dan kebutuhan terhadap ruang semakin besar.

Hari Jadi memberi kita kesempatan untuk mengenang perjalanan itu. Namun sebuah kota tidak hanya mempunyai masa lalu. Kota juga mempunyai masa depan yang harus dipersiapkan.

Karena itu, pada usia 244 tahun, ada pertanyaan yang layak kita renungkan:

Tenggarong seperti apa yang hendak kita wariskan kepada generasi berikutnya?

Salah satu jawabannya dapat kita mulai dari Sungai Tenggarong.

Belajar dari Perjalanan Sungai Tenggarong

Penataan permukiman di bantaran Sungai Tenggarong telah menjadi perhatian pemerintah dalam waktu yang panjang dan melewati beberapa periode pemerintahan.

Saya masih mengingat persoalan ini sejak menjadi anggota DPRD Kutai Kartanegara. Ketika itu, pembicaraan mengenai penataan bantaran, permukiman dan masa depan Sungai Tenggarong sudah berlangsung.

Saya juga pernah menyampaikan gagasan agar Daerah Aliran Sungai Tenggarong dijaga dari pertumbuhan permukiman dan dikembangkan dengan tetap mempertahankan fungsi lingkungannya, termasuk kemungkinan menjadi ruang ekowisata.

Perjalanan panjang tersebut memberikan satu pelajaran penting.

Ketika permukiman telah tumbuh dan menjadi ruang hidup masyarakat selama bertahun-tahun, penataan menjadi jauh lebih kompleks. Di sana ada keluarga, pekerjaan, hubungan sosial dan aktivitas ekonomi yang harus diperhatikan.

Karena itu, kawasan yang sudah terbentuk membutuhkan penyelesaian secara bertahap, adil dan manusiawi.

Kita patut menyambut baik bahwa Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara saat ini terus melanjutkan proses penataan tersebut. Berbagai tahapan administratif dan lingkungan telah bergerak, termasuk persiapan penanganan masyarakat yang terdampak.

Pekerjaan panjang itu mulai menemukan jalannya.

Landasan Kebijakannya Sudah Ada

Perkembangan lain yang patut diapresiasi adalah tersedianya landasan kebijakan.

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara telah menetapkan RDTR Kawasan Perkotaan Tenggarong Tahun 2025–2044 melalui Peraturan Bupati Kutai Kartanegara Nomor 44 Tahun 2025.

Kukar juga telah mempunyai Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai landasan jangka panjang pengelolaan lingkungan daerah.

Artinya, Tenggarong tidak memulai dari ruang kosong.

Instrumen kebijakannya telah tersedia.

Tantangan berikutnya bukan selalu membuat aturan baru, tetapi memastikan kebijakan yang sudah ada dilaksanakan secara konsisten.

Hilir Ditata, Hulu Dijaga

Di sinilah pengalaman masa lalu membantu kita membaca masa depan.

Ketika bergerak menuju bagian hulu Sungai Tenggarong, perkembangan pembangunan mulai terlihat mengikuti pertumbuhan kota. Itu merupakan konsekuensi yang wajar dari bertambahnya penduduk dan kebutuhan ruang.

Tetapi pengalaman di hilir memberikan pelajaran.

Jangan sampai kita mengetahui betapa sulitnya menata kawasan yang telah telanjur padat, tetapi membiarkan persoalan yang sama tumbuh kembali di bagian hulu.

Pendekatannya dapat dibuat sederhana:

Hilir ditata. Hulu dijaga.

Pada kawasan yang telah menjadi ruang hidup masyarakat, penataan dilakukan secara manusiawi dan memberikan kepastian.

Pada kawasan yang masih dapat dilindungi, instrumen tata ruang digunakan secara konsisten untuk mengendalikan pembangunan.

Bukan untuk menghentikan perkembangan Tenggarong.

Justru karena kota akan terus berkembang, kita perlu menentukan sejak sekarang ruang mana yang dapat dibangun dan ruang mana yang harus tetap dijaga.

Menjaga Hulu Tidak Harus Menunggu Anggaran Besar

Kita juga memahami bahwa pemerintah daerah saat ini menghadapi ruang fiskal yang semakin terbatas. Banyak kebutuhan pembangunan harus dipertemukan dengan kemampuan anggaran yang tersedia.

Kondisi tersebut membuat penentuan prioritas semakin penting.

Penataan kawasan hilir memang membutuhkan proses panjang dan dukungan pembiayaan yang tidak kecil. Relokasi, penyediaan hunian, infrastruktur dan penataan kawasan tidak mungkin diselesaikan sekaligus.

Tetapi menjaga hulu mempunyai karakter yang berbeda.

Perlindungan tidak selalu membutuhkan proyek besar.

Memastikan batas sempadan, mengendalikan pemanfaatan ruang, menertibkan perizinan, melakukan pengawasan terhadap pembangunan baru dan menjaga konsistensi RDTR dapat dilakukan tanpa menunggu kemampuan fiskal menjadi longgar.

Justru dalam situasi anggaran terbatas, pencegahan menjadi semakin penting.

Apa yang masih dapat dijaga hari ini jangan sampai berubah menjadi persoalan yang membutuhkan biaya jauh lebih besar pada masa mendatang.

Dengan demikian, menjaga hulu bukan tambahan beban pembangunan.

Ia merupakan cara menghindari beban fiskal, sosial dan lingkungan yang lebih besar pada masa depan.

Dari Regulasi Menuju Konsistensi

RDTR Tenggarong 2025–2044 mempunyai horizon hampir dua dekade.

Rentang waktu tersebut akan melewati beberapa periode kepala daerah, DPRD dan kepemimpinan perangkat daerah.

Di situlah tantangan sebenarnya.

Dokumen tata ruang mempunyai arti ketika keputusan pembangunan sehari-hari konsisten dengannya.

Perizinan harus mengikuti ruang. Sempadan harus dijaga. Pembangunan baru perlu dikendalikan. Kawasan yang mempunyai fungsi lingkungan harus tetap memperoleh perlindungan.

Pengawasan juga sebaiknya dilakukan ketika persoalan masih kecil, bukan setelah kawasan menjadi padat dan penyelesaiannya membutuhkan biaya besar.

Inilah pergeseran yang penting dalam tata kelola:

dari membiayai penyelesaian masalah menuju mencegah lahirnya masalah.

Sungai adalah Satu Kesatuan

Sungai Tenggarong perlu terus dibaca sebagai satu kesatuan dari hulu sampai hilir.

Apa yang terjadi di hulu akan berhubungan dengan kondisi di bagian bawah. Tutupan lahan, sempadan, aliran air, permukiman dan perkembangan kota saling memengaruhi.

Karena itu, penataan hilir dan perlindungan hulu bukan dua agenda yang berbeda.

Keduanya merupakan satu kebijakan tentang masa depan Sungai Tenggarong.

Jika ruang memungkinkan, sungai juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari ruang hijau, ruang publik, identitas kota dan aktivitas wisata berbasis lingkungan.

Namun fungsi ekologisnya harus tetap menjadi dasar.

Kebijakan yang Lebih Panjang dari Masa Jabatan

Ada satu pelajaran lain dari perjalanan persoalan Sungai Tenggarong.

Bupati berganti. DPRD berganti. Kepala perangkat daerah berganti. Kondisi fiskal dan prioritas pembangunan juga dapat berubah.

Tetapi sungai tetap mengalir pada ruang yang sama.

Karena itu, menjaga Sungai Tenggarong membutuhkan konsistensi kebijakan yang lebih panjang daripada satu periode pemerintahan.

RDTR hingga 2044 memberikan kesempatan untuk itu.

Ketika kemampuan anggaran sedang terbatas, pekerjaan besar dapat dilakukan secara bertahap. Tetapi perlindungan ruang tidak boleh ikut ditunda.

Setiap pemerintahan dapat melanjutkan tahapan sesuai kemampuan fiskalnya tanpa kehilangan arah besarnya.

Itulah kesinambungan kebijakan.

Warisan yang Tidak Selalu Berupa Bangunan

Hari Jadi biasanya membuat kita melihat apa yang diwariskan generasi sebelumnya.

Pada usia Tenggarong yang ke-244, mungkin kita perlu membalik pertanyaannya:

Apa yang hendak kita wariskan?

Warisan pembangunan tidak selalu berupa jalan, jembatan, gedung, taman atau monumen.

Ada warisan yang bentuknya justru sesuatu yang berhasil kita pertahankan.

Sungai yang tetap mempunyai ruang.

Sempadan yang tetap terjaga.

Kawasan hulu yang tidak telanjur menjadi persoalan baru.

Ruang hijau yang masih dapat dinikmati anak cucu kita.

Kebijakan seperti ini mungkin tidak selalu menghasilkan sesuatu yang segera terlihat. Bahkan keberhasilan kebijakan preventif sering terlihat dari masalah yang berhasil dicegah agar tidak pernah terjadi.

Karena itu, kita mendukung langkah Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara melanjutkan penataan Sungai Tenggarong dan memperkuat landasan tata ruang kota.

Kita memahami bahwa tidak semua pekerjaan dapat diselesaikan sekaligus dalam situasi fiskal hari ini.

Tetapi ada pekerjaan yang tidak boleh menunggu anggaran menjadi besar.

Menjaga hulu adalah salah satunya.

Di hilir, kita selesaikan secara bertahap sesuai kemampuan dengan tetap memperhatikan kehidupan masyarakat.

Di hulu, kita cegah persoalan yang sama tumbuh kembali.

Tenggarong akan terus berkembang. Penduduk akan bertambah. Kebutuhan ruang akan meningkat.

Tetapi sungai juga harus tetap mempunyai ruang untuk hidup bersama perkembangan kota.

Pada Hari Jadi Tenggarong ke-244, mungkin salah satu hadiah terbaik yang dapat kita berikan bukan hanya apa yang mampu kita bangun tahun depan.

Tetapi keputusan bersama tentang apa yang harus tetap kita jaga untuk puluhan tahun mendatang.

Hilir kita tata. Hulu kita jaga. Sungai Tenggarong kita wariskan.

Selamat Hari Jadi ke-244 Tenggarong.

Semoga Kota Raja terus tumbuh tanpa kehilangan sungai yang menjadi bagian dari perjalanan dan masa depannya. (*Mahasiswa Magister Administrasi Publik FISIP Universitas Mulawarman)

Bukan Sekadar Ramai, Firnadi Ingin Erau Gerakkan Ekonomi Kukar

Tenggarong – Festival Erau Adat Kutai 2026 mendapat apresiasi dari Anggota Komisi II DPRD Kalimantan Timur Firnadi Ikhsan.

Masuknya Erau dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) dinilai menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan sekaligus memperkuat manfaatnya bagi masyarakat.

Firnadi yang menghadiri pembukaan Erau di Tenggarong, Minggu (20/9/2026), mengatakan peningkatan status tersebut perlu diikuti dengan evaluasi yang lebih menyeluruh.

Menurutnya, penyelenggaraan event berskala nasional membutuhkan ukuran keberhasilan yang tidak hanya melihat kemeriahan acara.

“Erau sudah naik kelas. Menurut saya, cara kita mengevaluasinya juga harus naik kelas. Budaya tetap menjadi ruh utama, tetapi kita juga perlu mengetahui seberapa jauh event sebesar ini memberi manfaat kepada masyarakat,” kata Firnadi.

Ia mengapresiasi target sekitar 40 ribu pengunjung yang disampaikan penyelenggara.

Rencana untuk menghitung dampak ekonomi selama pelaksanaan Erau juga dinilai sebagai langkah yang dapat dikembangkan dalam evaluasi tahunan.

Menurut Firnadi, data pengunjung sebaiknya tidak berhenti pada jumlah orang yang datang.

Pemerintah juga perlu mengetahui asal wisatawan, durasi kunjungan, destinasi yang mereka datangi hingga aktivitas ekonomi yang muncul selama berada di Kukar.

“Kalau 40 ribu orang datang, pertanyaan berikutnya adalah berapa yang berasal dari luar Kukar, berapa yang menginap, ke mana mereka berkunjung, dan bagaimana belanja mereka menggerakkan hotel, kuliner, transportasi, UMKM serta ekonomi kreatif masyarakat,” ujarnya.

Ia menilai pencatatan data tersebut bukan berarti menggeser Erau menjadi sekadar kegiatan ekonomi. Justru, data yang konsisten dapat menjadi dasar untuk menjaga keberlanjutan event sekaligus membantu pemerintah menentukan kebijakan pariwisata yang lebih sesuai dengan perkembangan.

“Kalau kita memiliki data yang konsisten setiap tahun, kita bisa membandingkan perkembangan Erau. Kita tahu apa yang berhasil, apa yang perlu diperbaiki, dan dukungan pemerintah sebaiknya diarahkan ke mana,” jelasnya.

Firnadi berharap hasil evaluasi Erau 2026 dapat digunakan sebagai bahan perencanaan untuk penyelenggaraan berikutnya.

Menurutnya, penguatan budaya, peningkatan kualitas event, perkembangan pariwisata dan manfaat ekonomi bagi masyarakat dapat berjalan beriringan tanpa menghilangkan identitas Erau.

“Budayanya kita jaga, kualitas event-nya kita tingkatkan, pariwisatanya berkembang, dan manfaat ekonominya semakin dirasakan masyarakat. Saya kira di situlah Erau dapat terus tumbuh tanpa kehilangan jati dirinya,” tutup Firnadi. (ko)

260 Pelari dari Berbagai Daerah Adu Ketangguhan di Pelandok IDI Kukar Mixed Trail 2

Tenggarong – Sebanyak 260 pelari dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Timur (Kaltim) adu ketangguhan menaklukkan lintasan ekstrem sepanjang 10 kilometer dalam Pelandok IDI Kukar Mixed Trail 2 Tahun 2026 di Desa Loa Raya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Minggu (19/7/2026).

Sejak pukul 06.00 Wita, para peserta mulai menyusuri lintasan dengan batas waktu atau Cut Off Time (COT) selama tiga jam.

Mereka dihadapkan pada medan yang lebih menantang dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya, dengan kombinasi tanjakan dan turunan yang menguji stamina hingga kemampuan pelari menjaga ritme di jalur lintas alam.

Ketua Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI) Kutai Kartanegara (Kukar), Firnadi Ikhsan, mengatakan Pelandok Mixed Trail tahun ini terselenggara melalui kolaborasi sejumlah pihak, termasuk Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kukar dan Rumah Aspirasi.

“Ini adalah kegiatan kedua yang dilaksanakan oleh Pelandok, yang kita beri nama Pelandok Mixed Trail. Untuk kali ini ada tambahan menjadi Pelandok IDI Kukar Mixed Trail 2 Tahun 2026,” ujarnya.

Berbeda dari event sebelumnya, penyelenggara kali ini hanya membuka satu jarak perlombaan, yakni 10 kilometer.

Peserta kemudian dibagi dalam kategori umum putra dan putri usia 17 tahun keatas, pelajar usia 12-16 tahun, serta master bagi pelari berusia 45 tahun ke atas.

Meski hanya menyajikan satu jarak, tingkat kesulitan lintasan justru ditingkatkan.

Sejumlah bagian rute bahkan belum pernah digunakan dalam penyelenggaraan sebelumnya sehingga memberikan tantangan baru bagi para peserta.

“Tantangannya lebih tinggi. Ada tanjakan dan turunan yang belum pernah dilewati pada rute-rute di event sebelumnya,” ungkapnya.

Firnadi mengungkapkan bawa ajang tersebut menarik pelari dari berbagai penjuru Kaltim.

Dari 260 peserta yang ambil bagian, mereka datang dari Bontang, Balikpapan, Samarinda, Kutai Timur hingga sejumlah wilayah di Kukar.

Menurut Firnadi, tingginya minat peserta menunjukkan olahraga trail mulai mendapatkan tempat tersendiri di tengah masyarakat.

Di Kukar, lanjutnya, aktivitas lari lintas alam bahkan mulai berkembang dari sekadar olahraga rekreasi menjadi bagian dari gaya hidup sekaligus diarahkan menuju olahraga prestasi.

“Kita melihat olahraga ini bahkan mulai menjadi lifestyle atau gaya hidup masyarakat Kukar, khususnya di Tenggarong,” ungkapnya.

Firnadi menjelaskan, jika dihitung sejak awal kegiatan pengenalan olahraga trail yang mereka lakukan, penyelenggaraan kali ini merupakan event keempat.

Kegiatan-kegiatan sebelumnya menjadi bagian dari upaya mengenalkan kembali olahraga lintas alam sekaligus membuka ruang bagi munculnya atlet-atlet potensial.

Terlebih, kata dia, olahraga trail kini telah memiliki wadah organisasi dan masuk dalam cabang olahraga di bawah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), sehingga peluang pembinaan atlet menuju berbagai kejuaraan semakin terbuka.

“Belakangan ini kami mencoba mengarahkannya menjadi olahraga prestasi, dengan rute dan kategori yang memang umum diperlombakan,” jelasnya.

Tak hanya perlombaan, aspek kesehatan turut menjadi bagian dalam penyelenggaraan Pelandok IDI Kukar Mixed Trail 2.

IDI Kukar memberikan penyuluhan kesehatan kepada peserta maupun masyarakat, sementara para pelari juga dibekali perlindungan BPJS Kesehatan untuk mengantisipasi risiko yang tidak diinginkan selama mengikuti perlombaan.

Kemeriahan kegiatan juga melibatkan masyarakat Desa Loa Raya. Warga mengikuti zumba bersama yang digelar di sekitar lokasi kegiatan, sementara penampilan DJ menjadi hiburan setelah rangkaian perlombaan berlangsung.

Di tengah ratusan peserta, semangat Nyaniran mencuri perhatian. Warga Tenggarong Seberang berusia 67 tahun itu turut menantang dirinya menyelesaikan lintasan 10K yang didominasi tanjakan dan turunan.

Bahkan, dirinya sempat dua kali terjatuh selama menyusuri jalur tidak membuatnya menyerah.

“Tidak ada kendala. Cuma jatuh dua kali, tidak apa-apa,” kata dia.

Ia mengaku hampir selalu mengikuti kegiatan lari serupa ketika ada kesempatan.

Kecintaannya terhadap olahraga bahkan membawanya mengikuti kegiatan hingga ke luar Kukar, salah satunya di Bontang.

Bagi Nyaniran, bertambahnya usia bukan alasan untuk berhenti aktif berolahraga, selama dilakukan sesuai kemampuan tubuh.

“Jangan sampai karena umur sudah 50 tahun ke atas lalu berhenti. Marilah kita berolahraga untuk kesehatan badan, supaya tetap sehat,” tuturnya.

Nyaniran pun berharap semangat berolahraga tidak hanya tumbuh di kalangan mereka yang telah berusia lanjut.

Ia mengajak generasi muda memanfaatkan usia produktif untuk mulai membiasakan diri berolahraga agar manfaatnya dapat dirasakan hingga masa tua.

“Mari kawan-kawan, adik-adikku dan anak-anakku, mari kita berolahraga. Manfaatnya banyak sekali nanti kalau sudah tua,” pungkasnya. (ko)

Aerosport di Kukar Bangkit Kembali, Firnadi Ikhsan Optimistis Kukar Bisa Sumbang Prestasi

Tenggarong – Ketua Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Kutai Kartanegara (Kukar), Firnadi Ikhsan, menyatakan optimisme olahraga aerosport yang kembali bangkit di Kukar mampu melahirkan prestasi bagi daerah.

Hal tersebut disampaikannya saat latihan bersama komunitas aerosport di lapangan sepak bola Desa Loa Raya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Selasa (28/1/2026).

Firnadi mengungkapkan, aerosport sejatinya bukan cabang olahraga baru di Kukar. “Aerosport ini sebenarnya sudah pernah hadir di Kukar di era 2000-an, tetapi sempat teredup dan hilang, sekarang kita hidupkan kembali,” ujarnya.

Menurutnya, kebangkitan aerosport saat ini menjadi momentum penting, karena olahraga tersebut telah diperlombakan secara luas di berbagai daerah di Indonesia.

Ia menilai, Kukar memiliki potensi wilayah dan sumber daya yang mendukung untuk kembali bersaing di cabang ini.

“Ini olahraga yang dipertandingkan secara nasional, jadi sangat terbuka peluang bagi Kukar untuk berprestasi,” kata dia.

Ia menjelaskan, aerosport memiliki karakter yang berbeda dibandingkan cabang olahraga lain, karena memanfaatkan media udara.

Selama ini, aktivitas olahraga lebih banyak dilakukan di darat dan perairan, sementara aerosport ini ustru menggabungkan teknologi dan inovasi.

“Selama ini kita terbiasa dengan olahraga di darat dan sungai, sekarang kita bersentuhan dengan udara yang padat teknologi dan inovasi,” ungkapnya.

Pria yang juga dikenal sebagai anggota DPRD Kalimantan Timur tersebut menilai, keunikan yang hanya di miliki olahraga tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi muda.

Selain menantang, kata dia, aerosport juga menuntut keterampilan, ketelitian, serta pengetahuan yang baik.

Karena itu, FASI Kukar terus mendorong sosialisasi agar olahraga ini semakin dikenal luas.

“Olahraga ini membutuhkan skill dan pengetahuan, dan ini sangat baik untuk merangsang minat serta kreativitas generasi muda,” ujarnya.

Selain aspek pembinaan atlet, Firnadi juga melihat aerosport memiliki potensi sebagai tontonan olahraga yang menarik perhatian masyarakat.

Aktivitas terbang dinilai mampu menghadirkan pengalaman berbeda dibandingkan olahraga pada umumnya.

“Selama ini orang hanya melihat pesawat yang terbang, sekarang lewat aerosport kita bisa melihat orang terbang melalui wahana olahraga, dan itu tentu menarik,” kata dia.

Ke depan, Firnadi berharap aerosport di Kukar dapat terus eksis dan berkembang secara berkelanjutan.

Ia optimistis, dengan konsistensi pembinaan dan keterlibatan generasi muda, aerosport mampu menjadi cabang unggulan daerah.

“Harapan kami, aerosport Kukar bisa menjadi wadah pembinaan generasi muda, melahirkan atlet berprestasi, dan mengharumkan nama Kukar,” pungkasnya. (ak/ko)

Firnadi Ikhsan Dukung Aerosport Jadi Wadah Prestasi Generasi Muda Kukar

Tenggarong – Anggota DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) Firnadi Ikhsan mendukung pengembangan olahraga aerosport sebagai wadah prestasi bagi generasi muda di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Dukungan tersebut disampaikannya saat melaksanakan kegiatan reses yang digabung dengan latihan bersama komunitas aerosport di lapangan sepak bola Desa Loa Raya, Tenggarong Seberang, Selasa (28/1/2026).

Ia mengatakan, masa reses dimanfaatkannya untuk turun langsung ke lapangan dan berinteraksi dengan masyarakat, khususnya komunitas olahraga.

“Hari ini saya melaksanakan reses sekaligus bergabung dengan komunitas yang bergiat di bidang olahraga aerosport, karena ini punya potensi besar untuk dikembangkan di Kukar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, latihan bersama ini juga diarahkan untuk mendukung target prestasi daerah ke depan, termasuk persiapan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi 2026.

“Tujuan kita tentu ingin bersama-sama para atlet mempersiapkan diri dan mengaitkan latihan ini dengan target prestasi, termasuk menghadapi Porprov 2026,” kata dia.

Menurutnya, dari cabang aerosport, Kukar ditargetkan mampu menyumbangkan hingga 10 medali emas apabila pembinaan dilakukan secara serius dan berkelanjutan.

Ia menilai, lokasi lapangan sepak bola Desa Loa Raya sangat mendukung kegiatan latihan, karena memiliki ruang terbuka yang memadai dan aman untuk aktivitas terbang.

“Tempat ini menurut kawan-kawan merupakan spot yang baik dan aman untuk melaksanakan latihan aerosport,” ungkapnya.

Firnadi juga mengajak masyarakat serta para pelajar untuk ikut menyaksikan dan mengenal olahraga aerosport secara langsung.

Ia berharap, keterlibatan tersebut dapat memunculkan minat generasi muda untuk mengembangkan potensi diri melalui cabang olahraga yang menantang dan berbasis teknologi.

“Kami ingin adik-adik pelajar dan generasi muda melihat langsung, lalu tertarik dan mau mengembangkan potensi mereka melalui olahraga ini,” ucapnya.

Ia mengakui, saat ini jumlah atlet aerosport di Kukar masih terbatas sehingga perlu sosialisasi dan regenerasi secara terus-menerus.

“Olahraga ini membutuhkan skill dan pengetahuan, sehingga sangat cocok untuk membentuk karakter positif generasi muda,” jelasnya.

Ia berharap aerosport bisa terus eksis dan berkembang dalam jangka panjang.

“Harapan kita ke depan, aerosport bisa menjadi wadah pembinaan generasi muda yang positif, berprestasi, dan mampu mengharumkan nama Kutai Kartanegara,” pungkasnya. (ak/ko)

Firnadi Ikhsan Gelar Dialog Rakyat di Sebulu Modern, Petani Keluhkan Tumpang Tindih Lahan

Tenggarong – Anggota DPRD Kaltim Firnadi Ikhsan menggelar kegiatan Dialog Rakyat di Desa Sebulu Modern, Kecamatan Sebulu, Kukar pada Sabtu (13/12/2025).

Kegiatan ini membahas tentang program pembangunan sekaligus pengawasan penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kaltim.

Koordinator Kelompok Tani Seturus Satu jawatan Etam Segala 1,2,3, M Yakin menyampaikan bahwa kondisi kehidupan masyarakat saat ini kesulitan mengolah lahan untuk kegiatan pertanian hortikultura dan perkebunan.

Hal itu disebabkan oleh keberadaan lahan petani yang belakangan ini diketahui berada dalam kawasan hutan penelitian dan pengembangan. Persoalan ini menimbulkan kerisauan bagi para petani karena menghambat proses pemanfaatan lahan oleh petani.

Menanggapi persoalan itu, Firnadi Ikhsan menekankan bahwa ada banyak program di bidang pertanian dalam arti luas yang bisa di akses oleh kelompok tani dalam rangka mengembangkan potensi lahan dan menciptakan ketahanan pangan dan ekonomi keluarga, seperti pertanian perkebunan, peternakan dan perikanan.

“Adapun terkait permasalahan lahan maka ada beberapa opsi hingga kemungkinan mengusahakan pelibatan dalam kelompok perhutanan sosial,” katanya.

Ketua Fraksi PKS DPRD Kaltim ini, menyambut positif semangat warga dengan ide pembangunan sebagai modal dasar pengembangan pembangunan lebih jauh.

Kata dia, keterlibatan aktif masyarakat juga merupakan pilar utama dalam mewujudkan pemerintahan yang transparan dan akuntabel.

“Besarnya APBD harus sejalan dengan pemenuhan kebutuhan nyata masyarakat di lapangan,” ujarnya.

Dialog interaktif ini menjadi wadah bagi masyarakat Desa Sebulu Modern untuk menyampaikan aspirasi dan tantangan pembangunan yang mereka hadapi secara langsung.

Serta, memastikan bahwa setiap kebijakan publik yang dihasilkan berpihak pada kepentingan rakyat.

Pertemuan ini akan ditindaklanjuti dalam waktu dekat dengan mendalami posisi masalah dan mencari jalan keluar bersama pemerintah kabupaten dan pihak BPKH Kaltim. (ak/ko)