BERITA TERBARU

DPRD Samarinda Ingatkan Pentingnya Kualitas Pendidikan di Momen HUT ke-80 RI

Samarinda – Peningkatan kualitas pendidikan menjadi salah satu sorotan DPRD Kota Samarinda pada momen peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia.

Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie, menegaskan pembangunan pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada penyediaan infrastruktur, tetapi juga harus menyentuh aspek kualitas pembelajaran.

Menurut Novan, generasi muda Samarinda perlu dipersiapkan dengan baik agar mampu bersaing di masa depan. Pemerintah, kata dia, harus benar-benar hadir dalam meningkatkan mutu pendidikan mulai dari jenjang dasar hingga menengah.

“Yang terpenting bukan hanya infrastruktur pendidikan, tetapi juga kualitasnya,” ujarnya, Rabu (20/8/2025).

Politisi Partai Golkar itu menekankan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama pembangunan manusia dan harus menjadi prioritas bersama agar cita-cita kemerdekaan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dapat terwujud.

Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk tidak hanya memperbaiki infrastruktur sekolah, tetapi juga meningkatkan kualitas guru dan tenaga pendidik.

Upaya tersebut diharapkan dapat melahirkan generasi emas yang mampu memajukan Samarinda ke depan.

“Kita berharap siswa dan siswi di Samarinda bisa lebih kompetitif di jenjang berikutnya. Itu menjadi modal penting untuk menyongsong generasi emas,” pungkasnya. (adv/hr/ko)

PLTSa Jadi Harapan Baru Samarinda, DPRD Ingatkan Pentingnya Pemilahan Sampah dari Rumah

Samarinda – Upaya mewujudkan Samarinda yang lebih bersih dan berkelanjutan kembali mencuat dengan adanya wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

Proyek ini digadang-gadang mampu mengatasi persoalan sampah yang kian menumpuk, sekaligus menghadirkan sumber energi baru bagi kota.

Anggota DPRD Samarinda, Andriansyah, menyambut baik gagasan tersebut. Menurutnya, PLTSa adalah pilihan terbaik dibandingkan insinerator yang sebelumnya direncanakan pemerintah kota.

“Kalau PLTSa kita pilih, maka insinerator tidak perlu,” ujarnya, Rabu (20/8/2025).

Namun ia mengingatkan, keberhasilan PLTSa tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga kesiapan sistem pengelolaan sampah. Ia menekankan perlunya pembenahan dari hulu ke hilir, termasuk membiasakan masyarakat memilah sampah sejak dari rumah.

Konsep Ku Pilah, Ku Pilih, Ku Olah (KU3) yang ia gagas, diyakini bisa menjadi fondasi edukasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. “Sistemnya harus dibangun dari tingkat rumah tangga,” jelasnya.

Lebih jauh, Andriansyah menyarankan agar proyek PLTSa tidak membebani APBD. Ia mendorong keterlibatan investor swasta sehingga dana daerah bisa digunakan untuk kebutuhan lain.

“Kalau bentuknya investasi ya monggo saja dikerjakan bersama, tidak ada masalah,” tegasnya. (adv/hr/ko)

Pasar Segiri Akan Direhabilitasi, DPRD Samarinda Serukan Dukungan Bersama

Samarinda – Wajah Pasar Segiri, pasar tradisional terbesar di Samarinda, dipastikan akan berubah. Pemerintah Kota Samarinda berencana melakukan rehabilitasi besar-besaran, dan langkah ini mendapat dukungan penuh dari DPRD Samarinda.

Sekretaris Komisi II DPRD Samarinda, Rusdi Doviyanto, menilai program tersebut bukan sekadar penataan fisik, melainkan menyangkut kepentingan bersama.

“Apapun yang dilakukan Wali Kota untuk kepentingan masyarakat banyak, tentu kita dukung. Ini bukan soal siapa wali kotanya, tetapi karena program ini ditujukan untuk keindahan, kebersihan, dan kesejahteraan warga,” ucapnya, Rabu (20/8/2025).

Rusdi menambahkan, dukungan masyarakat sangat dibutuhkan agar proses rehabilitasi berjalan lancar. Pasar Segiri, yang dalam satu tahun terakhir sudah dua kali mengalami kebakaran, dinilainya memang membutuhkan penataan menyeluruh demi kenyamanan pedagang dan pengunjung.

Pemkot pun telah menyiapkan desain penataan dengan konsep pasar modern yang lebih tertib dan ramah. Rencana itu mencakup pengaturan lapak, akses jalan, hingga area parkir.

“Karena menyangkut kepentingan banyak orang, saya kira sudah seharusnya kita semua ikut mendukung,” tegas Rusdi. (adv/hr/ko)

Masyarakat Desa Sebuntal Marangkayu Ultimatum PTPN XIII soal Lahan yang Tak Kunjung Dibayar

Tenggarong – Masyarakat Desa Sebuntal, Kecamatan Marangkayu, Kutai Kartanegara (Kukar), melayangkan ultimatum keras kepada PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XIII.

Masyarakat menegaskan bahwa sudah tidak lagi percaya pada janji penyelesaian ganti rugi lahan yang digantung sejak belasan tahun lalu.

Bahkan, masyarakat menyatakan siap mengambil kembali lahan mereka dengan cara apa pun jika perusahaan dan pemerintah terus berdiam diri.

Beredar pernyataan sikap masyarakat yang beredar di media sosial, “Dengan ini kami warga Kecamatan Marangkayu dari dua desa menyatakan sikap. Kami berhenti menyampaikan aspirasi. Kami akan hancurkan bendungan, dan ambil kembali lahan dan rumah kami. Jika pejabat dan aparat berusaha menghalangi kami, maka kami akan nyatakan perang. Hasbunallah wani’mal wakil.”

Koordinator aksi, Nina Iskandar mengungkapkan, keresahan warga bermula sejak 2007, ketika pemerintah dan PTPN XIII berjanji akan membebaskan lahan dengan syarat warga tidak lagi melakukan aktivitas, seperti bersawah maupun mendirikan rumah di atas tanah tersebut.

Namun, janji yang sudah sepakati bersama oleh PTPN XIII dan masyarakat tidak kunjung sepenuhnya ditepati.

Menurut Nina, perusahaan memang sempat membayar sebagian kecil ganti rugi, tetapi nilainya jauh dari total kewajiban yang harus dibayarkan.

“Sisanya setelah itu tahun 2012 pindah ke provinsi. Gagal, tidak ada pembayaran sama sekali sejak tahun 2012, terakhir itu 2011. Tahun 2012 sudah tidak ada lagi pembayaran mangkrak sampai 2017,” jelasnya.

Dari total Rp 130 miliar, kata Nina, baru sekitar 12 persen yang sudah di ganti rugi oleh perusahaan.

Masalah semakin pelik, ketika PTPN XIII mengklaim memiliki Hak Guna Usaha (HGU) atas lahan yang selama ini dikelola warga Sebuntal.

Padahal, lanjutnya, tanah di Sebuntal sejak dulu adalah lahan persawahan, sementara kebun sawit perusahaan berada jauh di Desa Bunga Putih.

“Di Sebuntal itu sawah. Enggak pernah ada HGU PTPN XIII karena mereka kebun sawitnya jauh di Bunga Putih sana,” tegasnya.

Nina mengungkapkan, upaya penyelesaian juga pernah dilakukan dengan membawa perwakilan masyarakat ke Jakarta oleh BPN Kukar.

Dari hasil pertemuan, masyarakat telah dijanjikan akan ada kejelasan, bahkan sempat bertemu pejabat Kementerian ATR/BPN dan mendengar langsung pengakuan bahwa lahan yang mereka kelola bukanlah bagian dari HGU perusahaan.

“Bahkan direktur PTPN dipanggil menteri dan dia bilang memang tidak punya HGU di sana,” ujarnya.

Namun, janji itu tak pernah dituangkan dalam berita acara resmi, masyarakat hanya pulang dengan keyakinan kosong.

“Pulang dengan janji. Katanya nanti PDF dikirim via email, nyatanya tidak ada,” bebernya.

Sejak itu, generasi muda Sebuntal mulai ikut memperjuangkan hak mereka, menggantikan orang tua yang sebagian telah meninggal dunia.

Pada 2024, kekecewaan warga semakin dalam ketika alasan konsinyasi di kedepankan, dana ganti rugi disebut dititipkan ke pengadilan tanpa sepengetahuan dan persetujuan warga.

“Tiba-tiba uang warga enggak dikasih ke warga. Katanya dititipkan ke pengadilan. Setahu saya kalau konsinyasi itu harus ada persetujuan kedua belah pihak. Faktanya tidak ada,” tuturnya.

Sejumlah mediasi dan aksi demonstrasi telah berulang kali digelar, namun hasilnya selalu buntu. Situasi itu membuat warga mengambil sikap paling tegas.

“Kalau kita diam juga mati. Kalau kita melawan juga perang, nanti tetap mati. Jadi, lebih baik mati dengan melawan,” ujarnya.

Menurut Nina, ultimatum masyarakat adalah tanda bahwa ruang dialog sudah tertutup kecuali PTPN XIII berani jujur soal status lahan.

“Langsung saja mereka cabut HGU mereka. Karena mereka sendiri sudah menyatakan tidak punya HGU. Selesai urusan,” pungkasnya. (ak/ko)

Sempat Vakum, Perhiptani Kukar Kini Dipimpin Mantan Bupati Edi Damansyah

Tenggarong – Setelah kepengurusannya sempat vakum sejak 2020, Perhimpunan Penyuluh Pertanian (Perhiptani) Kutai Kartanegara (Kukar) kini kembali bangkit.

Edi Damansyah resmi dikukuhkan sebagai Ketua Perhiptani Kukar periode 2025-2030, dengan misi utama memperkuat organisasi dan mendorong peningkatan kinerja Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di seluruh kecamatan.

Pengukuhan ini digelar di Hotel Grand Elty Singgasana, Tenggarong pada Rabu (20/8/2025).

Dalam kesempatan itu, Edi Damansyah menyampaikan apresiasinya kepada seluruh penyuluh pertanian yang telah mempercayakan kepemimpinan organisasi kepada dirinya.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan penyuluh pertanian Kabupaten Kukar yang terhimpun dalam Perhimpunan Penyuluh Pertanian,” ucapnya.

Edi yang juga mantan Bupati Kukar itu menyebut, Perhiptani adalah wadah berhimpunnya para penyuluh pertanian, sebuah organisasi profesi yang berperan sebagai mitra pemerintah dalam mensukseskan program pembangunan pangan sekaligus meningkatkan kapasitas para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).

Sebagai ketua, Edi berharap Perhiptani Kukar dapat menjadi organisasi yang maju dan bermanfaat bagi seluruh anggotanya.

Kebangkitan Perhiptani Kukar, menurut Edi, harus menjadi momentum baru setelah sempat mengalami kevakuman.

Ia menekankan pentingnya kerja sama antaranggota untuk menghadirkan semangat baru, perubahan budaya kerja, dan pola pikir yang adaptif terhadap kebijakan pangan nasional maupun daerah.

“Insya Allah, Perhiptani Kukar akan terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten, termasuk Bupati dan jajaran, sehingga Perhiptani menjadi wadah berhimpun PPL yang produktif dan mampu mengambil peran nyata di Kabupaten Kutai Kartanegara,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menyebutkan program kerja Perhiptani Kukar akan dibahas dalam rapat kerja mendatang.

Fokus utamanya diarahkan pada penguatan kompetensi PPL melalui pelatihan tambahan maupun pengembangan kapasitas secara swadaya.

Saat ini, Kukar memiliki 130 PPL ASN, ditambah dengan penyuluh swadaya yang juga akan diperkuat perannya dalam mendukung pembangunan pertanian.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Muhammad Taufik mengungkapkan bahwa kepengurusan sebelumnya sempat mengalami kevakuman sejak 2020 dan baru selesai dibentuk lagi pada 2022.

Sehingga, lanjutnya, momentum pengukuhan ini menjadi penting bagi keberlanjutan organisasi perhiptani yang ada di kukar.

Ia juga menegaskan pentingnya sinergi antara organisasi profesi dengan program-program pemerintah.

“Memang tidak mudah, karena satu sisi PPL adalah aparat pemerintah, sementara di sisi lain mereka berada dalam organisasi profesi. Kedua langkah ini harus seirama,” ujarnya.

Dukungan Distanak terhadap Perhiptani di antaranya mencakup peningkatan kapasitas, sarana kerja, dan motivasi bagi penyuluh agar peran mereka di lapangan maksimal.

“Kepemimpinan Pak Edi diharapkan dapat memperkuat peran penyuluh di lapangan dan memperjuangkan kebutuhan serta kesejahteraan anggota Perhiptani,” pungkasnya. (ak/ko)

DLHK Kukar Pangkas Pohon Rawan Tumbang di Jalan KH Ahmad Muksin Tenggarong

Tenggarong – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kutai Kartanegara (Kukar) melakukan pemangkasan pohon rawan tumbang di Jalan KH Ahmad Muksin, Tenggarong yang merupakan salah satu jalur protokol utama di Tenggarong.

Langkah ini diambil sebagai upaya pencegahan untuk menjaga keselamatan masyarakat dan pengendara yang melintas.

Pemangkasan difokuskan pada pohon-pohon berusia tua dengan batang dan cabang yang rapuh, terutama di beberapa titik yang padat lalu lintas.

Sejak awal 2025, DLHK telah memetakan area rawan dan menjadikan Jalan KH Ahmad Muksin sebagai salah satu prioritas utama untuk mengurangi risiko pohon roboh.

Kepala DLHK Kukar, Slamet Hadiraharjo, mengatakan bahwa kegiatan ini bukan reaksi atas insiden pohon tumbang di Kecamatan Tenggarong Sebrang yang sempat merenggut nyawa, melainkan bagian dari program tahunan yang sudah direncanakan.

“Prioritas kami adalah pohon yang dekat dengan jalur padat lalu lintas. Selain itu, laporan masyarakat juga menjadi pertimbangan kami,” ujarnya Rabu (20/8/2025).

Ia mengungkapkan, pemangkasan dilakukan secara bertahap karena keterbatasan tenaga dan anggaran, namun titik-titik paling mendesak tetap menjadi prioritas pihaknya.

“Hanya saja pelaksanaannya bertahap karena keterbatasan tenaga dan anggaran. Jadi kami dahulukan titik yang paling mendesak,”tuturnya.

Pada 2025 ini, kata dia, DLHK Kukar memusatkan pemangkasan di ruas jalan prototal Tenggarong yang ramai dilalui kendaraan.

Ke depan, DLHK berencana memperluas kegiatan serupa ke ruas jalan lain sesuai hasil dari pemetaan risiko.

Slamet juga mengimbau agar masyarakat lebih aktif melaporkan pohon yang dianggap berbahaya, tujuannya agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat oleh DLHK Kukar.

“Kami berharap masyarakat juga aktif melapor jika ada pohon yang dianggap berbahaya. Itu sangat membantu kami menentukan prioritas,” tutupnya. (ak/ko)