BERITA TERBARU

Abdul Rasid Dukung Penertiban Pasar Tumpah di Tenggarong untuk Tata Kota yang Lebih Rapi

Tenggarong – Wakil Ketua I DPRD Kukar, Abdul Rasid mendukung langkah pemerintah daerah dalam menertibkan pedagang pasar tumpah yang berjualan di ruas-ruas jalan utama Kota Tenggarong.

Sejumlah titik seperti Jalan Maduningrat, Kartini, Panjaitan, dan Pesut menjadi fokus utama dalam upaya penataan kota.

Rasid menegaskan bahwa keberadaan pedagang di lokasi tersebut perlu segera ditertibkan. Ia mengacu pada Perda Nomor 5 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat.

“Saya pikir perlunya penertiban ini untuk memperbaiki tata kota Tenggarong. Pasar tumpah yang semakin menjamur justru memperparah kekumuhan kota,” ujar Rasid kepada awak media, Kamis (6/2/25).

Ia juga menyinggung citra Tenggarong yang kini dikenal dengan julukan “1000 wajah ruko” akibat dominasi aktivitas perdagangan informal di berbagai sudut kota.

Menurutnya, kebijakan ini bukan untuk menghambat pedagang, tetapi demi menata kota agar lebih rapi dan nyaman.

“Ini bukan soal menghambat pedagang, tapi bagaimana kita menata kota agar lebih rapi dan nyaman bagi semua,” tegasnya.

Rasid juga menambahkan penertiban ini sejalan dengan upaya Pemkab Kukar untuk menciptakan lingkungan yang lebih tertata, meski ia menyadari adanya tantangan dalam implementasinya.

“Penataan ini untuk kebaikan jangka panjang. Kami mendukung langkah pemerintah dalam menciptakan kota yang lebih bersih dan teratur,” tutupnya. (Ak)

PMI Kukar Lakukan Strategi Jemput Bola untuk Memenuhi Kebutuhan Darah Selama Musim Hujan dan Ramadhan

Tenggarong – memasuki Musim hujan menjadi tantangan bagi Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Kutai Kartanegara (Kukar) dalam menjaga ketersediaan darah.

Lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) menyebabkan permintaan trombosit meningkat drastis. Sementara menjelang bulan Ramadan, jumlah pendonor cenderung berkurang.

Staf UDD PMI Kukar, Novi menjelaskan, untuk memastikan stok darah tetap aman, UDD PMI Kukar menerapkan strategi jemput bola dengan mendatangi tempat-tempat umum seperti gereja, masjid, dan festival komunitas guna mengadakan kegiatan donor darah.

Strategi ini terbukti efektif dalam menjaga ketersediaan darah selama periode kritis.

Selain mengandalkan donor sukarela, PMI juga melakukan seleksi terhadap setiap pendonor untuk memastikan darah yang didonorkan memenuhi standar kesehatan.

“Biasanya kami seleksi dulu, melihat kondisi fisik dan rekam medis pendonor. Jika semuanya baik, proses donor bisa dilanjutkan. Jika ada masalah, kami tidak bisa melanjutkan,” jelas Novi ketika di wawancarai adakaltim.com pada Kamis (6/2/25).

Golongan darah yang paling banyak dibutuhkan saat ini adalah O dan A, namun stok golongan darah A sering kali terbatas.

Salah satu penyebabnya adalah pendonor dengan golongan darah A harus menunggu dua bulan sebelum bisa mendonor lagi.

Selain itu, banyak pendonor berasal dari luar daerah, sehingga sulit bagi mereka untuk rutin mendonorkan darahnya. Untuk mengatasi masalah ini, PMI sering meminta keluarga pasien menjadi pendonor pengganti.

Menjelang bulan puasa, PMI juga menyesuaikan jadwal donor agar lebih nyaman bagi pendonor. Biasanya, donor darah dilakukan setelah shalat Isya untuk menghindari efek lemas saat berpuasa.

“Menjelang bulan puasa, kami tetap menerapkan strategi jemput bola dengan mengunjungi gereja, masjid, atau acara komunitas untuk mengumpulkan darah,” pungkas Novi. (Ak)

Musim Hujan Sulitkan Budidaya Sawi, Hasil Panen Turun 50 Persen

Tenggarong – Musim hujan menjadi tantangan tersendiri bagi petani sawi, termasuk Tarno, petani dari Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu.

Hujan yang terus-menerus melanda, menyebabkan banyak tanaman sawi mati dan pertumbuhannya tidak optimal.

Meskipun harga jual meningkat, hasil panen tetap rendah, turun hingga 50 persen dari biasanya.

“Kalau di luar musim hujan, satu hektare bisa menghasilkan 8 ribu sampai 10 ribu ikat sawi. Sekarang, paling banyak hanya 5 ribu ikat saja,” ujar Tarno kepada adakaltim.com, Rabu (5/2/25).

Tarno memiliki lahan seperempat hektare. Untuk hasil panen, biasanya Tarno memasarkannya ke Samarinda, Loa Janan, dan Tenggarong.

Jika hasil melimpah, distribusi bisa diperluas hingga Bontang dan Balikpapan. Namun, karena panen menurun, pasokan lebih difokuskan untuk kebutuhan lokal.

Menurutnya, kendala utama saat musim hujan bukanlah hama, melainkan cuaca ekstrem yang semakin tidak menentu setiap tahunnya.

“Kalau hama, paling sering ulat yang menyerang daun sawi, tapi masalah terbesar itu cuaca,” katanya.

Dalam kondisi normal, sawi bisa dipanen dalam 18 hari. Namun, saat musim hujan, panen bisa lebih lama, hingga 23 hari.

“Biasanya dari tanam sampai panen butuh sekitar 20 hari. Kalau cuaca mendukung, malah bisa lebih cepat,” pungkasnya. (Ak)

Teknologi Apheresis, Solusi Efisien UDD PMI Kukar untuk Pemenuhan Kebutuhan Trombosit

Tenggarong – Dalam upaya memenuhi kebutuhan trombosit yang terus meningkat, Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Kutai Kartanegara (Kukar) memperkenalkan teknologi apheresis.

Alat ini memungkinkan pengambilan trombosit secara efisien tanpa harus mendonorkan darah utuh, menjadi solusi penting dalam mengatasi keterbatasan stok trombosit yang kerap terjadi.

Meskipun jumlah kantong darah di UDD PMI Kukar mengalami peningkatan yang signifikan, mencapai 439 kantong, ketersediaan trombosit masih menjadi tantangan.

Trombosit memiliki masa simpan yang lebih pendek dibandingkan darah utuh, sehingga stoknya cepat menipis ketika permintaan meningkat.

Staf UDD PMI Kukar, Novi, menjelaskan permintaan trombosit seringkali sulit dipenuhi karena kebutuhan satu orang pasien, untuk satu kantong trombosit.

Permintaan trombosit biasanya meningkat pada musim hujan, terutama karena banyaknya kasus Demam Berdarah (DBD).

Sementara itu, untuk pasien kanker juga sangat membutuhkan trombosit untuk pengobatan. Setiap pasien kanker bisa membutuhkan 10 hingga 15 kantong trombosit, yang semakin menambah persediaan trombosit terbatas.

Untuk mengatasi keterbatasan ini, UDD PMI Kukar berupaya mencari solusi agar kebutuhan pasien tetap terpenuhi.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mendatangkan alat apheresis, sebuah teknologi yang memungkinkan pengambilan trombosit langsung dari darah pendonor.

Meskipun alat ini masih dalam tahap awal penggunaan, pihak UDD PMI Kukar berharap dapat mengoptimalkan penggunaannya untuk memenuhi kebutuhan pasien.

“Karena ini masih baru, kami belum menginformasikan secara luas kepada pendonor. Kami harap dengan alat apheresis ini, ketersediaan trombosit bisa mencukupi kebutuhan pasien, terutama pasien kanker,” tambah Novi.

Selain itu, untuk menghadapi lonjakan permintaan, UDD PMI Kukar juga mengandalkan para pendonor sukarela yang siap dipanggil kapan saja.

“Biasanya kami memanggil pendonor, dan alhamdulillah mereka kooperatif, datang bahkan di tengah malam meskipun hujan,” pungkasnya. (Ak)

Perkuat Sinergi, Kapolres Kukar dan Jurnalis Bahas Peran Media dalam Keamanan dan Pembangunan

Tenggarong – Dalam upaya memperkuat sinergi antara kepolisian dan media, Kapolres Kutai Kartanegara (Kukar) AKBP Dody Surya Putra menggelar silaturahmi dengan para jurnalis di Tenggarong.

Pertemuan ini berlangsung di Royal Cafe, Jalan Mawar, Kelurahan Panji, Kecamatan Tenggarong, pada Selasa (4/2/25).

Silaturahmi ini menjadi ajang diskusi mengenai peran strategis media dalam menjaga keamanan dan mendukung pembangunan daerah.

Suasana penuh keakraban tercipta ketika Kapolres dan para jurnalis berbincang santai mengenai berbagai tantangan yang dihadapi dalam dunia kepolisian dan jurnalistik.

AKBP Dody mengatakan, kemitraan yang baik antara kepolisian dan insan pers sangat penting dalam menyajikan informasi yang akurat serta membangun kesadaran masyarakat terhadap isu-isu sosial dan keamanan.

Ia juga mengungkapkan kesan mendalamnya terhadap Kukar, daerah yang pernah ia kenal baik saat menjabat sebagai Kasatreskrim Polres Kukar pada 2013.

“Kutai Kartanegara masih tetap aman dan damai seperti dulu. Saya kembali ke sini dengan semangat baru, ingin lebih fokus pada kegiatan yang menolong masyarakat,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa sinergi antara kepolisian dan media bukan hanya sekadar penyampaian informasi, tetapi juga upaya bersama dalam menjaga stabilitas keamanan daerah.

Dirinya mengajak insan pers untuk turut serta dalam membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan dan ketertiban.

“Mari kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih peka terhadap permasalahan di lingkungan kita,” tambahnya.

Tak hanya membahas keamanan, AKBP Dody juga berharap media dapat terus menjalankan fungsinya dengan profesionalisme, memberikan edukasi kepada masyarakat, serta membantu menangkal berita hoaks yang beredar di tengah arus informasi yang semakin cepat.

“Saya mohon rekan-rekan media menerima saya kembali seperti dulu. Mari kita bersama-sama membangun Kutai Kartanegara yang lebih baik,” katanya.

Sementara itu, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kaltim, Abdurahman Amin, turut mengapresiasi pertemuan ini dan menyoroti pentingnya menjaga kebebasan pers yang bertanggung jawab.

“Indeks kebebasan pers di Kalimantan Timur saat ini berada di posisi kedua secara nasional. Ini menunjukkan bahwa ekosistem jurnalistik kita cukup baik,” ungkapnya.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa tantangan besar bagi dunia pers saat ini adalah maraknya berita yang tidak terverifikasi, yang berpotensi menyesatkan masyarakat.

“Kita perlu mengantisipasi penyebaran berita yang mengatasnamakan pers namun tidak melalui proses verifikasi yang benar,” tambahnya.

Disisi lain, Ketua PWI Kukar, Bambang Irawan, juga menyampaikan apresiasi terhadap kepedulian Kapolres terhadap insan pers dan berharap silaturahmi semacam ini dapat terus berlanjut.

“Kami sangat menghargai inisiatif Kapolres yang menyempatkan waktu bertemu dengan rekan-rekan pers di tengah kesibukannya,” ujarnya.

Sebagai bentuk kebersamaan, ia mengundang Kapolres dan jajarannya untuk berpartisipasi dalam agenda olahraga bersama yang akan digelar pada Kamis mendatang. (Ak)

80 Persen Tabung LPG 3 Kg Bocor, Kelangkaan Bukan karena Penimbunan

Tenggarong – Kepala Gudang Agen Liquefied Petroleum Gas(LPG) 3 Kg PT. Nararya, Kistoro, mengungkapkan sekitar 80 persen tabung LPG 3 Kg yang beredar di masyarakat Kecamatan Tenggarong dan sekitarnya mengalami kebocoran.

Kebocoran ini ternyata menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kelangkaan LPG 3 Kg di lapangan, bukan karena penimbunan seperti yang banyak disangka masyarakat.

“Banyak yang mengira kelangkaan LPG 3 Kg disebabkan oleh penimbunan, padahal kenyataannya kebocoran pada tabung menjadi masalah utama. Jika tabung bocor, gas yang ada di dalamnya bisa habis dengan cepat tanpa sempat digunakan,” jelas Kistoro, Selasa (4/2/2025).

Menurut Kistoro, meskipun banyak tabung yang masih beredar di masyarakat, 80 persen dari tabung tersebut dalam kondisi bocor.

Gas dalam tabung yang bocor ini akan cepat habis, bahkan dalam waktu sehari jika kebocoran cukup parah. Hal ini tentu merugikan para konsumen yang sudah membeli tabung tersebut.

“Jika ada yang menimbun 100 tabung, dalam waktu tiga hari mungkin hanya 20-30 tabung yang masih layak jual. Selebihnya gasnya sudah habis atau tinggal sedikit,” ujarnya.

Kistoro juga menekankan masalah kebocoran ini terjadi karena banyak valve tabung yang sudah rusak.

“Tabung yang bocor seharusnya diganti. Kami menerima tabung dari fasilitas pengisian, namun banyak yang sudah bocor,” pungkasnya. (Ak)