Tenggarong – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menargetkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tahun 2026 menembus angka Rp1,97 triliun.
Target tersebut menjadi fokus utama dalam Rapat Koordinasi Pendapatan Daerah yang digelar di Ruang Rapat Lantai 3 Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kukar pada Kamis (15/1/2026).
Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri dan dihadiri seluruh kepala organisasi perangkat daerah (OPD).
Aulia menuturkan bahwa selama ini struktur pendapatan Kukar masih terlalu bergantung pada dana bagi hasil dari pemerintah pusat yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan oleh daerah.
“Kita selama ini masih sangat bergantung pada dana bagi hasil yang sifatnya tidak bisa kita kontrol. Ini kondisi yang harus segera kita perbaiki,” ujarnya.
Menurut Aulia, pemerintah daerah kini mulai menggeser fokus pada sumber pendapatan yang dapat dikelola langsung oleh daerah melalui optimalisasi PAD.
“Sekarang kita ingin memaksimalkan pendapatan yang bisa kita kelola sendiri, yaitu Pendapatan Asli Daerah. Inilah yang menjadi kunci kemandirian fiskal daerah ke depan,” kata dia.
Ia menjelaskan, potensi PAD di Kukar masih sangat besar dan tersebar di berbagai sektor, mulai dari pariwisata, parkir, jasa perusahaan, hingga berbagai jenis pajak daerah.
“PAD itu berasal dari usaha dan aktivitas kita di daerah, seperti pengelolaan tempat wisata, parkir, katering perusahaan, pajak air tanah, opsen kendaraan, pajak alat berat, dan sektor-sektor lain yang masih sangat potensial untuk kita tingkatkan,” jelasnya.
Aulia juga menegaskan, target PAD 2026 sebesar Rp1,97 triliun memang tidak kecil, namun realistis jika seluruh potensi tersebut digarap secara serius dan terencana.
“Target Rp1,97 triliun ini tinggi, tapi bisa kita capai jika kita bekerja lebih rapi, lebih terukur, dan lebih terencana,” tegasnya.
Terkait kebijakan pajak kepada masyarakat, Aulia memastikan peningkatan PAD tidak akan membebani warga kecil.
“Untuk masyarakat desil 1 sampai desil 3 dan keluarga prasejahtera, PBB kita gratiskan. PBB hanya dikenakan kepada masyarakat yang memang mampu, dan sampai sekarang tidak ada kenaikan PBB,” ucapnya.
Dalam evaluasi pendapatan daerah, Aulia mengungkapkan masih banyak potensi yang belum tergarap optimal, khususnya dari sektor perusahaan.
“Di Kukar ini ada lebih dari 900 perusahaan, tapi yang benar-benar terdata dan terjangkau dalam sistem pendapatan daerah masih sedikit. Ini yang akan kita benahi,” katanya.
Untuk itu, Pemkab Kukar akan memperkuat sinergi antara Bapenda, pemerintah kecamatan, dan seluruh OPD, termasuk dengan menyiapkan petugas operasional teknis di setiap kecamatan.
“Kita perkuat kolaborasi, kita siapkan petugas teknis di lapangan, supaya pengawasan dan optimalisasi pendapatan bisa berjalan maksimal dan target PAD 2026 benar-benar tercapai,” pungkasnya. (ak/ko)