DPU Kukar Ungkap Kekeringan Diduga Picu Pergerakan Tanah di Sejumlah Titik

Kepala Bidang SDA DPU Kukar Awang Agus Sahbani. (nisa/adakaltim)

Kutai Kartanegara – Kondisi tanah yang mengalami kekeringan menjadi perhatian Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Retakan pada permukaan tanah dinilai dapat mengurangi kekuatan tanah dan berpotensi memicu pergerakan, termasuk di kawasan yang memiliki konstruksi turap di tepi sungai.

Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPU Kukar, Awang Agus Sahbani, mengatakan pergerakan tanah saat ini ditemukan di sejumlah titik, di antaranya Margasari, Bayan, serta Dusun Oloi, Kecamatan Muara Muntai. Pada beberapa lokasi, kondisi tersebut disertai pengikisan tanah di sekitar konstruksi penahan tebing.

“Kontur tanah kita memang berpotensi bergeser atau bergerak. Kondisi ini terjadi akibat kekeringan. Ketika air dalam kondisi normal, tidak ada masalah. Namun, sekarang tekstur tanah terlihat pecah-pecah sehingga menjadi gembur,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kondisi tanah sebelumnya relatif padat. Namun, ketika kekeringan berlangsung dan permukaan tanah mulai retak, kekuatan tanah dapat berkurang sehingga meningkatkan potensi pergeseran.

“Sebelumnya, tanah dalam kondisi padat dan tidak mengalami masalah. Sekarang, akibat kekeringan, tanah menjadi retak-retak sehingga kekuatannya berkurang,” jelasnya.

Selain kondisi tanah, pengikisan di sekitar turap juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Awang menyebut, pada turap dengan konstruksi CCSP, gerusan di bagian tepi sungai ketika air surut dapat memicu pergerakan tanah di sekitarnya.

“Kasus tersebut terjadi pada turap yang menggunakan CCSP. Saat air surut, tanah di pinggir sungai mengalami pengikisan sehingga terjadi pergerakan tanah,” katanya.

Dampak kondisi tersebut ditemukan pula di Dusun Oloi, Kecamatan Muara Muntai. Di lokasi itu, penggerusan tanah mengakibatkan abrasi pada bagian bawah turap. Menurut Awang, kondisi di bawah konstruksi belum dapat dipastikan secara menyeluruh.

“Kasus di Oloi, Muara Muntai, juga sama, yaitu terjadi pergerusan. Akibatnya, terjadi abrasi di bagian bawah turap,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pengalaman dari kejadian di Margasari dan hasil penelitian menunjukkan bahwa gerusan pada bagian bawah dapat memengaruhi kondisi CCSP di atasnya. Karena itu, pemeriksaan dan penanganan perlu mempertimbangkan kondisi tanah serta konstruksi di sekitar lokasi.

“Kami tidak mengetahui secara pasti kondisi di bawahnya. Namun, jika bercermin dari kejadian di Margasari dan hasil penelitian, CCSP di bagian atas mengalami dampak akibat gerusan di bawahnya sehingga terjadi abrasi,” paparnya.

Untuk penanganan, DPU Kukar saat ini memprioritaskan titik yang dinilai lebih berisiko, yakni turap di depan Telkomsel, Jalan S. Parman, Tenggarong. Perbaikannya ditargetkan selesai pada bulan ini, sedangkan titik di Kartini belum ditangani karena risikonya dinilai lebih rendah.

“Saat ini, kami sedang melakukan perbaikan. Insyaallah, perbaikannya selesai dalam bulan ini,” katanya.

Ia berharap upaya tersebut dapat mengatasi persoalan di lokasi prioritas. DPU Kukar juga menegaskan bahwa kontraktor tetap bertanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaan perbaikan.

“Mudah-mudahan, dengan doa dan dukungan semua pihak, perbaikan yang kami lakukan bisa menyelesaikan permasalahan ini,” tutupnya. (adv/ns/ko)

Bagikan :