Kutai Kartanegara – Pengembangan dua Pusat Kawasan Pertanian Terpadu (KPT) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) masih menghadapi sejumlah kendala meski pembangunan fisik bangunan telah rampung. Kemarau panjang dan keterbatasan sumber air menjadi faktor yang memengaruhi aktivitas pertanian di kedua kawasan tersebut.
Dua KPT yang dibangun Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara itu berlokasi di Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu, dan Desa Karang Tunggal, Kecamatan Tenggarong Seberang.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kukar, Ananias, mengatakan penyelesaian bangunan utama belum berarti seluruh fasilitas di kawasan tersebut telah siap digunakan secara optimal. Sejumlah sarana pendukung masih harus dilengkapi dan ditargetkan berlanjut pada 2027.
“Jadi baru bangunannya yang selesai, sementara sarana-sarana pendukung di dalamnya belum,” katanya.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan kedua kawasan belum diresmikan. Selain masih membutuhkan kelengkapan fasilitas, kondisi kemarau panjang turut berdampak terhadap aktivitas pertanian.
“Ketersediaan sumber air juga menjadi perhatian karena kegiatan budi daya membutuhkan dukungan air yang memadai,” ungkapnya.
Kendala tersebut membuat pengembangan KPT perlu dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kesiapan sarana dan kondisi di lapangan. Kelengkapan fasilitas serta dukungan sumber air menjadi faktor penting agar kawasan dapat menjalankan fungsi yang telah direncanakan.
Meski menghadapi sejumlah hambatan, aktivitas di kedua kawasan tidak sepenuhnya berhenti. KPT mulai dimanfaatkan untuk kegiatan tertentu, termasuk pelaksanaan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM).
Disketapang Kukar juga membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi lain, seperti Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) dan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT). Kerja sama ini diarahkan untuk mendukung penerapan inovasi dan teknologi di sektor pertanian.
Ananias mengatakan mahasiswa yang menjalankan KKN di kedua lokasi diharapkan dapat menghasilkan prototipe atau model inovasi yang berpotensi diterapkan dalam pengembangan kawasan.
“Setiap ada program KKN, kami minta dilaksanakan di dua KPT ini. Sehingga teknologi atau inovasi yang dibuat mahasiswa bisa menjadi prototipe. Kalau memang memiliki peluang untuk dikembangkan, akan kami coba tindaklanjuti,” pungkasnya. (adv/ns/ko)




