Pipa Air 2,5 Inci Tak Cukup untuk Hidran, Pemkab Kukar Kaji Solusi Pasokan Air

Sekda Kukar Sunggono. (nisa/adakaltim)

Kutai Kartanegara – Keterbatasan kapasitas jaringan pipa air menjadi salah satu kendala dalam rencana penyediaan hidran untuk mendukung penanggulangan kebakaran di kawasan permukiman padat Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar, Sunggono, menjelaskan jaringan pipa yang saat ini melayani kebutuhan air warga di kawasan Danau Aji belum memadai untuk digunakan sebagai sumber pasokan hidran. Padahal, hidran membutuhkan debit air yang lebih besar untuk menunjang proses pemadaman kebakaran.

Persoalan ini menjadi perhatian setelah kebakaran di RT 033, Jalan Danau Aji, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, pada 5 Oktober 2026, menghanguskan sekitar 70 bangunan.

“Misalnya di lokasi ini, kapasitas pipa yang memberikan pelayanan air kepada warga hanya 2,5 inci. Itu tidak memungkinkan digunakan untuk hidran. Pipa untuk hidran minimal empat atau enam inci karena kebutuhan debit airnya besar,” katanya.

Ia menuturkan, kondisi tersebut membuat pemasangan hidran tidak bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan jaringan pipa yang sudah tersedia. Pemerintah daerah perlu mengkaji alternatif yang memungkinkan pasokan air tetap tersedia ketika kebakaran terjadi.

Salah satu opsi yang tengah didiskusikan adalah membangun tempat penampungan air di beberapa titik permukiman. Fasilitas tersebut diharapkan dapat menjadi sumber air tambahan bagi petugas pemadam kebakaran, terutama saat menangani kebakaran di kawasan yang memiliki keterbatasan infrastruktur.

Selain mencari solusi untuk kawasan Danau Aji, Pemkab Kukar juga akan melakukan inventarisasi terhadap wilayah lain yang membutuhkan perhatian serupa. Pemetaan diperlukan untuk mengetahui lokasi dengan tingkat kerawanan tinggi, kepadatan rumah yang besar, serta akses jalan yang menyulitkan kendaraan pemadam.

“Teman-teman saya minta supaya diinventarisasi titik-titik wilayah kita yang lain, mana yang juga tingkat kerawanannya tinggi, rumah penduduk padat, kemudian akses jalan tidak memungkinkan dilewati kendaraan roda empat,” ungkapnya.

Menurut Sunggono, penyediaan sarana penanggulangan kebakaran harus disesuaikan dengan karakteristik setiap kawasan. Permukiman yang sulit dijangkau kendaraan roda empat membutuhkan perhatian khusus agar petugas tetap memiliki dukungan sarana dalam memperoleh air untuk pemadaman.

Pemkab Kukar juga akan membahas mekanisme pemeliharaan hidran apabila fasilitas tersebut nantinya disediakan. Perawatan menjadi bagian penting agar sarana yang dibangun tidak terbengkalai dan tetap dapat digunakan saat keadaan darurat.

Salah satu usulan yang muncul adalah memanfaatkan titik hidran untuk mencuci selang pemadam kebakaran. Selain membantu menjaga peralatan, kegiatan tersebut dapat digunakan untuk memantau kondisi fasilitas secara berkala.

“Evaluasi jaringan air, pemetaan kawasan rawan, dan pembahasan pemeliharaan diharapkan menjadi dasar bagi Pemkab Kukar dalam memperkuat sistem penanggulangan kebakaran secara bertahap,” tegas Sunggono. (adv/ns/ko)

Bagikan :