Tanggapi Polemik PKKMB, Anhar: Yang Penting Komunikasi Antara Mahasiswa dan Pihak Universitas Lancar

Samarinda – Polemik seputar Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di salah satu universitas di Samarinda, yang mengundang petinggi TNI sebagai pembicara, mendapat sorotan dari Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Anhar.

Bagi Anhar, perbedaan pendapat yang muncul harus dijembatani dengan komunikasi terbuka antara kampus, mahasiswa, dan narasumber.

“Semangat dunia kampus itu berbeda dengan di luar. Tapi yang paling penting adalah komunikasi,” ujarnya, Senin (11/8/2025).

Ia menilai kampus perlu bersikap inklusif terhadap berbagai narasumber, termasuk dari unsur TNI dan Polri. Sebaliknya, aparat yang hadir juga perlu memahami bahwa mereka sedang berbicara di ranah akademik, bukan di lingkungan militer.

“Kalau diundang ke kampus, mereka harus terbuka bahwa sedang berbicara di luar lingkungan TNI, bukan di barak. Begitupun mahasiswa, ini kan menjadi sarana mengukur komunikasi, narasi, dan intelektual kita,” jelasnya.

Menurutnya, PKKMB sejatinya bertujuan memperluas wawasan mahasiswa baru dari berbagai sudut pandang. Kehadiran praktisi seperti TNI dinilainya mampu memberikan perspektif praktis yang melengkapi teori, terutama dalam konteks bela negara.

“Justru bagus karena ada sisi dari praktisi dan teorinya, apalagi kalau tentang bela negara,” pungkasnya. (adv/hr/ko)

Anhar Apresiasi Peran Pemuda Perkuat Literasi Media di Samarinda

Samarinda – Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Anhar, menilai penguatan literasi media dan sosial di kalangan pelajar semakin mendesak di tengah masifnya penggunaan media digital.

Ia mengapresiasi langkah anak muda yang mengambil peran langsung di tingkat akar rumput, salah satunya Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri PMII).

Menurut Anhar, program literasi yang dijalankan Kopri PMII mencakup pendidikan, media, budaya, hingga sosial-politik, dan telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Mereka sudah menjalin kerja sama dengan PKK dan pemerintah kelurahan, menyasar anak-anak sekolah dengan fokus pengembangan diri, pemahaman bermedia sosial yang baik, hingga penggunaan media secara bijak,” jelasnya, Senin (11/8/2025).

Politisi PDI Perjuangan itu menegaskan, persoalan media, khususnya yang berdampak pada anak-anak, tidak boleh dianggap sepele. Karena itu, kolaborasi antara organisasi kepemudaan dan pemerintah menjadi kunci memperkuat ketahanan masyarakat terhadap dampak negatif media digital.

“Dewan tentu mendukung, karena kami juga sering bersentuhan dengan persoalan sosial dan ekonomi. Dengan kerja sama ini, kita bisa saling berbagi pemahaman dan pengalaman,” tambahnya. (adv/hr/ko)

Saat Air Lebih Penting dari Megaproyek: Suara Warga Pinggiran Samarinda

Samarinda – Di tengah gemerlap proyek-proyek besar yang menjulang di Kota Samarinda, ada suara lirih dari warga pinggiran kota yang hingga kini belum tersentuh air bersih.

Suara itu kini disuarakan kembali oleh Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Anhar. Ia mengingatkan bahwa pembangunan sejatinya bukan tentang seberapa besar anggarannya, tapi seberapa dalam manfaatnya dirasakan oleh rakyat.

“Pembangunan memakan triliunan rupiah, tetapi masih banyak masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih. Ini sangat ironis,” kata Anhar.

Kelurahan Bukuan di Kecamatan Palaran menjadi contoh nyata. Di wilayah ini, aliran air bersih dari PDAM tak kunjung mengalir, dan warga hanya bisa berharap pada jasa swasta untuk bertahan hidup sehari-hari.

Menurut Anhar, pembangunan infrastruktur seperti terowongan, Teras Samarinda, atau pasar modern memang penting, namun bukan prioritas ketika kebutuhan dasar seperti air bersih masih belum terpenuhi.

“Yang terpenting bagaimana pelayanan kepada masyarakat. Air bersih adalah kebutuhan utama, bukan sekadar fasilitas pelengkap,” ujarnya.

Bagi Anhar, keluhan warga yang terus disuarakan adalah tanda bahwa arah pembangunan perlu dikaji ulang. Pemkot Samarinda, tegasnya, harus memastikan bahwa setiap kebijakan menyentuh akar kehidupan masyarakat, bukan hanya mengutamakan estetika kota.

“Pembangunan hebat jika semua warga merasakan manfaatnya. Kalau air bersih saja belum tersedia, bagaimana kita bicara tentang kota layak huni?” pungkasnya. (adv/hr/ko)