Kutai Kartanegara – Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mendorong pemasaran produk dan jasa ekonomi kreatif melalui platform digital KukarGo.
Aplikasi ini diharapkan menjadi etalase digital yang memudahkan masyarakat memasarkan berbagai potensi lokal, sekaligus memperluas jangkauan pasar di luar transaksi konvensional.
Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kukar, Zikri Umulda, mengatakan pengembangan KukarGo berawal dari diskusi bersama tim kreatif Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).
Menurutnya, pengembangan aplikasi tersebut merupakan inisiatif pemerintah untuk menyediakan ruang pemasaran bagi produk lokal agar dapat menjangkau konsumen melalui media digital.
“Kalau disebut sebagai inisiasi, ini merupakan inisiasi dari pemerintah itu sendiri. Pemerintah memang perlu menyediakan etalase bagi produk-produk lokal,” ujar Zikri, Selasa (13/10/2026).
Ia menjelaskan, pemasaran produk ekonomi kreatif perlu diperluas dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. Dengan demikian, pelaku usaha tidak hanya mengandalkan penjualan secara langsung, tetapi juga dapat memasarkan produk maupun jasa melalui platform digital.
KukarGo dirancang untuk memfasilitasi beragam subsektor ekonomi kreatif, tidak terbatas pada produk fisik, tetapi juga layanan jasa. Di antaranya jasa pertunjukan tari, penyewaan busana, produksi film, pembuatan video promosi, fotografi, hingga jasa tata rias atau makeup artist (MUA).
Selain itu, platform tersebut diharapkan dapat menampung potensi dari sektor fesyen dan seni rupa, termasuk produk lukisan serta karya kreatif lainnya.
Zikri menilai, keberadaan platform digital perlu diikuti dengan pemahaman pelaku ekonomi kreatif terhadap nilai produk dan jasa yang mereka tawarkan. Hal ini penting agar setiap komunitas maupun pelaku usaha memiliki gambaran yang jelas mengenai standar harga atas karya dan layanan mereka.
“Setiap komunitas atau produk harus memiliki nilai. Mereka harus mengetahui berapa nilai jasa yang mereka tawarkan,” jelasnya.
Ia mencontohkan, pelaku seni yang menerima pesanan pertunjukan tari, pembuatan film, video promosi, maupun fotografi perlu memahami nilai jasa masing-masing. Dengan begitu, mereka dapat menawarkan layanan secara lebih terukur dan profesional kepada calon pengguna jasa.
Menurut Zikri, pemahaman tersebut juga diperlukan oleh pelaku ekonomi kreatif dari subsektor lain agar potensi yang dimiliki dapat dikembangkan menjadi peluang usaha yang berkelanjutan.
Karena itu, KukarGo diharapkan berkembang menjadi platform yang mampu menampung berbagai potensi ekonomi kreatif di Kukar dalam satu ruang digital. Kehadiran aplikasi ini juga menjadi bagian dari upaya mempertemukan pelaku ekonomi kreatif dengan pasar yang lebih luas.
Dalam pengembangannya, Dispar Kukar berkolaborasi dengan tim teknologi informasi (IT) dan DPMPTSP. Zikri mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak yang memungkinkan aplikasi tersebut diselesaikan dalam waktu relatif singkat.
“Saya sangat senang dan mengapresiasi teman-teman IT serta DPMPTSP. Luar biasa, dalam waktu dua minggu aplikasi tersebut bisa diselesaikan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Dispar Kukar berperan memberikan gagasan serta masukan terkait kebutuhan dan fitur yang perlu dikembangkan dalam aplikasi. Sementara itu, dukungan teknis dari tim IT menjadi bagian penting dalam proses realisasi platform tersebut.
“Kami sendiri tidak memiliki tenaga ahli di bidang IT. Yang bisa kami lakukan adalah bertukar ide dan menyampaikan masukan tentang apa yang perlu dikembangkan,” jelasnya.
Melalui KukarGo, pemerintah daerah berharap pelaku ekonomi kreatif semakin mudah memperkenalkan produk dan jasa mereka kepada masyarakat.
Platform ini juga diharapkan menjadi salah satu sarana untuk memperkuat pemasaran digital dan mendorong perkembangan ekonomi kreatif di Kutai Kartanegara. (adv/nr/ko)




