BERITA TERBARU

Data Kependudukan Samarinda Masih Semrawut, Suparno Dorong Kesadaran Warga

Samarinda – Akurasi data kependudukan di Kota Samarinda kembali menjadi sorotan. Kali ini, suara tegas datang dari Anggota Komisi I DPRD Kota Samarinda, Suparno, yang menilai kondisi data kependudukan saat ini masih jauh dari kata tertib.

“Sebetulnya data kependudukan ini kan carut-marut,” ujarnya, mengawali pandangan kritisnya.

Meski Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) disebut telah menunjukkan komitmen pembenahan, Suparno menggarisbawahi bahwa inti persoalan justru berada di tangan masyarakat sendiri.

Menurutnya, rendahnya kesadaran warga dalam memperbarui informasi kependudukan telah memperburuk kualitas data.

“Yang jadi permasalahan kita sekarang itu adalah ketika masyarakat pindah, dia tidak segera melaporkan ke Capil,” ungkapnya.

Situasi ini, menurut Suparno, bukanlah kasus yang jarang. Ia kerap menemui warga yang baru mengurus dokumen kependudukan setelah menikah dan bahkan baru melakukan pencatatan resmi ketika anak pertama lahir.

“Pada saat mereka melakukan pernikahan, mereka pindah, belum mengurus data kependudukan. Akan diurus setelah anaknya lahir,” jelasnya.

Masalah serupa juga terjadi dalam pencatatan kematian. Banyak keluarga yang baru melaporkan kematian anggota keluarganya saat ada urusan warisan atau masalah hukum seperti utang-piutang.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa pentingnya data kependudukan yang akurat belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat. Suparno pun menegaskan bahwa perbaikan data tidak cukup hanya dari sisi pemerintah, tetapi juga harus dibarengi dengan perubahan perilaku warga.

Data yang valid, kata dia, menjadi fondasi pelayanan publik yang efektif dan akurat. Tanpa partisipasi aktif masyarakat, upaya modernisasi sistem administrasi akan sulit membuahkan hasil. (adv/hr/ko)

Gantikan Almarhum Junaidi, Akbar Haka Resmi Dilantik Jadi Anggota DPRD Kukar

Tenggarong – Akbar Haka Saputra resmi dilantik sebagai anggota DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) melalui mekanisme Pengganti Antar Waktu (PAW), menggantikan almarhum Junaidi dari Fraksi PDI Perjuangan untuk sisa masa jabatan 2024-2029.

Pelantikan ini berlangsung dalam Rapat Paripurna ke-28 Masa Sidang III yang berlangsung di Ruang Sidang Utama DPRD Kukar pada Senin (28/7/2025).

Rapat Paripurna dipimpin langsung oleh Ketua DPRD Kukar, Ahmad Yani dan turut dihadiri Bupati Kukar Aulia Rahman Basri, Sekretaris Daerah Sunggono, perwakilan DPRD Provinsi Kaltim, jajaran Forkopimda, serta para kepala dinas dan badan di lingkungan Pemkab Kukar.

Setelah pembacaan SK Gubernur Kaltim dan pengucapan sumpah jabatan, Akbar Haka dinyatakan sah sebagai anggota dewan.

“DPRD ini konsisten pada peraturan perundang-undangan. Dengan jumlah 45 orang, artinya sudah memenuhi aspirasi seluruh rakyat Kutai Kartanegara tanpa terkecuali. Sehingga kerja-kerja DPRD bisa lebih maksimal,” ujar Ketua DPRD Kukar, Ahmad Yani usai paripurna.

Ahmad Yani mengatakan, dengan hadirnya Akbar Haka sebagai anggota baru memperkuat soliditas lembaga dalam menjalankan peran dan fungsinya.

Dengan formasi yang kembali utuh, DPRD Kukar diyakini akan lebih optimal dalam mendukung program pembangunan daerah secara menyeluruh.

“Dan kita berharap beliau ini bisa lebih maksimal bekerja, tentu harapan kita menjalankan sumpah jabatannya lebih optimal lagi. Kita harap aspiratif, mampu berkomunikasi di semua tingkatan dan semua kalangan,” ucapnya.

Akbar nantinya akan mengisi posisi di Komisi IV yang membidangi pendidikan, kesehatan, pariwisata, dan sektor sosial.

Ia juga ditunjuk sebagai anggota Badan Musyawarah (Banmus), menyesuaikan struktur Fraksi PDIP di alat kelengkapan dewan.

“Saya sangat mengenal karena beliau itu merupakan Ketua Kekraf Kukar. Dengan bergabungnya beliau akan membuat DPRD ini lebih progresif lagi, lebih mandiri lagi, dan bisa mengoptimalkan kemampuan-kemampuan yang selama ini belum dilakukan DPRD termasuk kreasi-kreasi khas anak muda,” kata Ahmad Yani.

Sementara itu, di hadapan awak media, Akbar menyatakan kesiapannya menjalankan amanah sebagai wakil rakyat.

Ia menegaskan tekad untuk aktif menyerap aspirasi masyarakat dan memajukan potensi budaya lokal sebagai bagian dari penguatan ekonomi kreatif daerah.

Akbar mengatakan, dirinya ingin membawa perspektif baru dalam lembaga legislatif, terutama dengan latar belakangnya di bidang seni dan ekonomi kreatif yang dinilainya relevan untuk mendorong transformasi ekonomi Kukar yang lebih berkelanjutan dan partisipatif.

“Perintah partai langsung turun ke bawah untuk menyerap keluhan warga, karena memang Ketua Umum langsung Ibu Megawati Soekarnoputri bahwasannya jabatan yang diemban itu bukanlah jabatan untuk bermewah-mewahan, tapi harus turun ke bawah ke rakyat, mendengar aspirasi untuk disuarakan,” pungkasnya. (ak/ko)

Stabilitas Harga Tak Bisa Ditunda, Komisi II DPRD Samarinda Minta Pemkot Susun Langkah Jangka Panjang

Samarinda – Fluktuasi harga bahan pokok menjadi perhatian serius Komisi II DPRD Kota Samarinda. Rusdi Doviyanto, salah satu anggotanya, menilai inflasi yang tak menentu di kota ini harus ditangani lebih dari sekadar respons sesaat.

Ia menyebut, pemerintah memang telah berupaya—seperti dengan menggelar pasar murah saat harga melonjak. Namun, menurutnya, itu hanya solusi sementara.

“Kenaikan harga selalu muncul menjelang hari-hari besar. Jika tak diantisipasi sejak dini, masyarakat selalu jadi korban,” ungkap Rusdi.

Bagi Rusdi, pengawasan distribusi dan harga bahan pokok harus dilakukan secara konsisten. Ketatnya pemantauan diyakini bisa menekan potensi inflasi, menjaga daya beli, dan menciptakan kestabilan pasar.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya kebijakan jangka panjang. Komisi II, katanya, akan mendorong program ketahanan pangan yang tidak hanya bersifat situasional, tapi berkelanjutan untuk menjamin ketersediaan komoditas strategis.

“Ini bukan hanya persoalan hari ini. Kita bicara masa depan harga pasar dan kesejahteraan warga,” pungkasnya. (adv/hr/ko)

Pelantikan Pejabat Fungsional Tandai Transformasi Birokrasi di Lingkup Pemkab Kukar

Tenggarong – Transformasi birokrasi di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) kembali ditegaskan melalui pelantikan sejumlah pejabat fungsional yang digelar di Mal Pelayanan Publik (MPP) Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) pada Senin (28/7/2025).

Langkah ini menjadi bagian dari reformasi struktural yang terus diupayakan Pemkab Kukar demi mewujudkan tata kelola pemerintahan yang lebih efisien dan berbasis kompetensi.

Prosesi pelantikan dipimpin langsung oleh Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri. Dalam sambutannya, ia menyampaikan perubahan status dari struktural menjadi fungsional bukan sekadar penyesuaian administratif, melainkan bagian penting dari upaya menciptakan birokrasi yang profesional dan berdedikasi.

“Dulu ada eselon IV dan III. Sekarang, sebagian besar sudah berubah menjadi pejabat fungsional,” ujarnya.

Ia menyebutkan bahwa para pegawai yang dilantik telah melalui proses penilaian berbasis kompetensi.

Dari semula berstatus staf atau pelaksana umum, kini mereka diangkat sebagai pejabat fungsional yang memiliki tugas spesifik sesuai bidang keahliannya.

“Tentunya mereka memiliki kompetensi tertentu sesuai fungsinya, sehingga layak untuk diangkat,” jelasnya.

Bupati Kukar juga menegaskan, pelantikan ini adalah langkah strategis untuk mempercepat reformasi birokrasi.

Ia berharap para pejabat yang baru dilantik bisa menjadi motor penggerak pelayanan publik yang lebih baik dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Sementara itu, Kepala Bidang Mutasi dan Promosi BKPSDM Kukar, Mopfiyanto, menjelaskan bahwa pelantikan ini diikuti oleh lebih dari 20 orang dari berbagai sektor, seperti bidang kesehatan dan pelayanan terpadu satu pintu (PTSP).

Mereka dipilih karena kebutuhan jabatan fungsional yang mendesak di unit masing-masing.

“Jadi sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Pak Bupati, bahwa jabatan fungsional ini memang sejalan dengan program dedikasi beliau dalam meningkatkan pelayanan publik,” terang Mopfiyanto.

Ia menyampaikan, pelantikan ini diharapkan mampu memperlancar proses layanan publik di berbagai sektor.

Terkait kekosongan sejumlah jabatan struktural seperti kepala dinas, Mopfiyanto mengungkapkan proses pengisiannya sedang menunggu izin dari pemerintah pusat.

Ia menyebutkan pemerintah daerah telah mengirimkan surat kepada Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan kementerian terkait untuk mendapatkan persetujuan pelaksanaan pelantikan.

“Pemerintah daerah sudah mengirimkan surat kepada BKN dan instansi terkait lainnya untuk mendapatkan izin pelaksanaan. Semua pelantikan tetap menunggu arahan pimpinan dan izin resmi dari pemerintah pusat,” pungkasnya. (ak/ko)

Suara untuk Seragam: Ismail Laitisi Dorong Aturan yang Adil dan Fleksibel

Samarinda – Di balik ragam warna seragam siswa, terdapat dilema yang tak kasat mata. Ismail Laitisi, Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, melihat langsung satu persoalan yang selama ini luput dari perhatian: ketidakjelasan regulasi soal seragam sekolah.

Dalam kunjungannya ke salah satu sekolah dasar di wilayah Samarinda Seberang, Ismail mendapati sekolah tersebut tidak menyediakan seragam batik dan olahraga bagi siswa. Bukan karena tak peduli, tetapi karena belum ada aturan yang tegas menjadi pegangan.

“Menurut saya ini menjadi persoalan juga, karena seragam batik dan olahraga mencerminkan ciri khas masing-masing sekolah,” katanya.

Bagi Ismail, seragam bukan sekadar pakaian. Ia adalah identitas dan kebanggaan siswa. Namun, tanpa aturan yang jelas, sekolah berpotensi kebingungan: apakah boleh mengadakan? Berapa harga yang wajar? Atau sebaiknya ditiadakan saja?

“Kita perlu regulasi yang pasti supaya sekolah punya pegangan. Jangan sampai ada yang terlalu berkreasi dengan harga, dan ada pula yang justru diam di tempat karena bingung,” ujarnya menegaskan.

Lebih dari itu, Ismail juga ingin meringankan beban orang tua. Ia mengusulkan agar perlengkapan seperti topi, dasi, dan kaos kaki dapat dibeli di luar sekolah. Menurutnya, koperasi boleh menjual, tapi tidak memaksakan.

“Kalau ada saudara yang punya seragam batik atau olahraga yang masih layak pakai, sebaiknya siswa tetap bisa menggunakan itu tanpa diwajibkan beli baru,” tuturnya.

Bersama rekan-rekannya di DPRD, Ismail terus mendorong Pemerintah Kota Samarinda agar segera menyusun regulasi yang berpihak kepada siswa dan orang tua.

Ia percaya, kebijakan pendidikan yang baik adalah yang menyentuh langsung kebutuhan nyata di lapangan, tanpa membebani ekonomi keluarga. (adv/hr/ko)

Jasno Ajak Warga Berpikir Solutif dalam Isu Sampah Samarinda

Samarinda – Di tengah meningkatnya sorotan publik soal pengelolaan sampah di Kota Samarinda, suara menyejukkan datang dari Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda, Jasno.

Ia mengajak masyarakat untuk tidak terjebak dalam sikap pesimis, melainkan ikut berkontribusi aktif dalam mencari solusi atas persoalan yang ada.

Baginya, pengelolaan sampah bukan sekadar urusan pemerintah. Ini adalah tanggung jawab bersama antara negara dan warganya.

“Kalau memang peduli, mari kita bantu dengan solusi dan tindakan nyata,” ucap Jasno penuh semangat.

Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar. Jasno menyoroti upaya yang telah dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda, khususnya dalam pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sambutan.

Ia menyebutkan, kemajuan itu bahkan telah mendapat pengakuan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI, Hanif Faisal Nurofiq, dalam kunjungan kerjanya ke TPA Sambutan awal Juli lalu.

“Kunjungan Menteri itu jadi bukti nyata bahwa Samarinda sedang bergerak ke arah yang benar dalam membenahi sistem persampahan,” jelasnya.

Namun, di balik langkah maju ini, Jasno menyayangkan munculnya komentar-komentar publik yang hanya berisi keluhan, bahkan tudingan tanpa solusi.

Ia menyampaikan keprihatinannya atas maraknya kritik yang tidak disampaikan secara konstruktif.

“Kalau ada yang kurang, mari sampaikan secara baik dan membangun. Jangan asal bicara dan memperkeruh suasana. Ini soal kota kita, tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.

Pemkot Samarinda sendiri saat ini tengah menggencarkan pembenahan sistem pengelolaan sampah. Selain revitalisasi TPA Sambutan, ada pula rencana pengadaan insinerator guna mengatasi masalah open dumping yang selama ini menjadi sorotan nasional.

Dalam pandangan Jasno, kerja pemerintah memerlukan dukungan moral dari masyarakat. Karena hanya dengan gotong royong dan partisipasi aktif, lingkungan bersih bukan lagi sekadar wacana, tapi kenyataan. (adv/hr/ko)