Ekonomi Samarinda Melesat, DPRD: Jangan Terlena dengan Angka

Samarinda — Ekonomi Samarinda sedang moncer! Dalam setahun terakhir, pertumbuhannya tembus 8,64 persen. Tapi, Anggota DPRD Samarinda, Arif Kurniawan, mengingatkan agar pemerintah kota tidak terlena hanya karena grafik naik.

“Angka boleh tinggi, tapi yang penting itu rakyat benar-benar merasakan dampaknya atau tidak,” ujarnya saat diwawancarai.

Menurut Arif, DPRD tidak ingin hanya menjadi pengamat. Kritik yang mereka berikan adalah bentuk tanggung jawab terhadap suara rakyat.

“Kalau kami kasih masukan, itu langsung ke dewa-nya. Supaya pembangunan nggak cuma indah di atas kertas, tapi nyata di lapangan,” ujarnya lugas.

Meski mengakui banyak pembangunan fisik di Samarinda berjalan cepat, Arif menilai masih banyak PR yang belum selesai, terutama soal kemiskinan, pendidikan, dan layanan kesehatan.

Ia berharap pemerintah kota mau lebih terbuka terhadap kritik dan saran dari legislatif maupun masyarakat.

“Sekarang ini zamannya transparansi. Kritik itu bukan bentuk benci, tapi sinyal untuk jadi lebih baik,” tutupnya. (Adv)

Pemkab Kukar Job Fair Kukar 2025 Jadi Langkah Konkret untuk Tekan Pengangguran

Tenggarong – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menggelar Job Fair 2025 selama dua hari pada 2-3 Juli 2025 di Gedung Bela Diri, Kompleks Stadion Aji Imbut, Tenggarong Seberang.

Kegiatan ini diikuti 28 perusahaan dari berbagai sektor yang membuka 719 formasi kerja dengan total 92 jabatan berbeda.

Dari data panitia, tercatat sebanyak 675 pencari kerja telah terdaftar secara online pada hari pertama pelaksanaan.

Perusahaan peserta datang dari sektor pertambangan, perbankan, pembiayaan, penjualan kendaraan, hingga penyedia tenaga kerja alih daya (outsourcing).

Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, menilai antusiasme peserta cukup tinggi dibanding tahun sebelumnya.

Namun, ia mengingatkan agar kualitas pelaksanaan job fair tetap menjadi perhatian agar hasilnya benar-benar dirasakan pencari kerja.

“Jangan sampai cuma ramai orang daftar, tapi yang diterima sangat sedikit. Apalagi untuk posisi yang butuh skill khusus,” ujarnya saat diwawancarai awak media disela kegiatan pada Rabu (2/7/2025).

Ia menjelaskan, ke depan Pemkab Kukar akan mendorong agar mekanisme job fair bisa menyediakan skema rekrutmen langsung di lokasi.

Dengan begitu, peserta tidak hanya menyerahkan lamaran, tetapi juga bisa langsung mengetahui hasil seleksi atau bahkan menerima SK sementara sebagai tanda diterima.

Selain memperbaiki mekanisme perekrutan, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) lokal juga menjadi perhatian pemerintah daerah agar lulusan job fair sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

“Kita akan perbaiki bahan bakunya. Artinya SDM-nya, supaya yang ikut job fair memang sudah layak pakai,” katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kukar tahun 2023, tingkat pengangguran terbuka tercatat sebanyak 20.109 jiwa atau sekitar 4,05 persen dari total angkatan kerja sebanyak 371.349 orang.

Meski masih lebih rendah dibanding beberapa daerah lain di Kalimantan Timur, angka ini tetap menjadi fokus Pemkab Kukar untuk ditekan.

Pertumbuhan penduduk akibat migrasi dan tingginya minat kerja di sektor pertambangan serta pertanian membuat Kukar menjadi magnet bagi para pencari kerja dari luar daerah.

Hal ini memicu pertumbuhan angkatan kerja lebih cepat daripada penambahan lapangan kerja.

“Masalahnya, pertumbuhan angkatan kerja lebih cepat dari ketersediaan lapangan kerja. Karena itu job fair seperti ini sangat penting sebagai langkah konkret mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan,” tutupnya. (adv/ak/ko)

Aturan Pemakaman Umum Samarinda Masih Nganggur, Pansus I Tambah Waktu Kerja

Samarinda – Rencana pembentukan Perda tentang pemakaman umum di Kota Samarinda belum juga menemui kejelasan. Wakil Ketua Pansus I DPRD Samarinda, Ronal Lonteng, menyebut pihaknya butuh waktu tambahan untuk merampungkan aturan yang ternyata cukup rumit ini.

“Pemakaman itu banyak jenisnya, terutama kalau dilihat dari sisi agama. Jadi kita nggak bisa bikin aturan sembarangan,” kata Ronal kepada wartawan.

Menurutnya, saat ini Pansus I masih menggodok draf Raperda bersama sejumlah OPD terkait seperti Disperkim dan Badan Pengelolaan Aset Daerah. Di lapangan, pengelolaan makam yang melibatkan pihak swasta juga jadi persoalan tersendiri.

“Nggak bisa asal jadi, takutnya malah bentrok sama aturan lain,” tambahnya.

Ronal menegaskan, Pansus tak ingin buru-buru mengajukan Raperda ke Bapemperda jika isi draf belum matang. Apalagi ini menyangkut kepentingan umum.

“Kalau belum siap, mending kita tambah masa kerja dulu. Biar nanti saat diterapkan, aturan ini nggak bikin masalah baru,” pungkasnya. (Adv)

IKN Jadi Pemicu, DPRD Samarinda Dorong Pemuda Ambil Peran dalam Pembangunan Infrastruktur Kota

Samarinda – Perpindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kalimantan Timur menjadi momentum penting bagi Kota Samarinda dalam mempercepat pembangunan infrastruktur.

Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda, Deni Hakim Anwar, mengajak generasi muda untuk ikut andil menciptakan terobosan demi menjawab tantangan dan peluang yang hadir dari perubahan besar ini.

Menurut Deni, Kota Samarinda sebagai salah satu gerbang utama menuju kawasan IKN akan mengalami tekanan urbanisasi dan mobilitas yang tinggi. Oleh karena itu, kesiapan infrastruktur menjadi sangat krusial.

“Pembangunan jalan, sistem drainase, transportasi publik, hingga penataan kawasan harus ditingkatkan. Ini bukan semata tugas pemerintah, tapi juga ruang kontribusi bagi anak muda untuk hadir dengan gagasan segar,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya inovasi lokal dalam menjawab kebutuhan perkotaan yang semakin kompleks. Deni juga menilai, para pemuda di Samarinda memiliki potensi besar untuk terlibat dalam pengembangan konsep kota cerdas, transportasi ramah lingkungan, serta manajemen tata ruang yang efisien.

Komisi III DPRD sendiri, lanjut Deni, terus melakukan pengawasan terhadap proyek-proyek strategis yang berkaitan langsung dengan konektivitas dan kenyamanan warga. Ia berharap, melalui pendekatan partisipatif, perencanaan pembangunan tidak lagi bersifat top-down, tetapi membuka ruang kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan komunitas pemuda.

“Pindahnya IKN adalah momentum sekali seumur hidup. Jika pemuda Samarinda tidak mengambil bagian sejak sekarang, kita akan kehilangan kesempatan untuk menjadi tuan rumah di wilayah sendiri,” ujarnya menegaskan.

Dengan akselerasi pembangunan yang tengah berlangsung, Deni berharap Samarinda dapat tumbuh menjadi kota penyangga yang kuat, berdaya saing, dan siap menyambut babak baru dalam sejarah Kalimantan Timur. (Adv)

Sri Puji Astuti Dorong Orang Tua Berani Laporkan Kasus Pelecehan Anak

Samarinda – Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, menyerukan kepada para orang tua untuk berani melaporkan kasus pelecehan seksual terhadap anak. Hal ini ia sampaikan menyusul meningkatnya jumlah kasus serupa di wilayah Samarinda.

“Kalau anak Anda jadi korban, segera laporkan. Jangan diam saja. Ini tanggung jawab kita dalam menjaga hak anak,” tegas Puji.

Menurutnya, banyak kasus yang tidak tuntas karena orang tua memilih bungkam demi menjaga citra sosial di lingkungan tempat tinggal. Padahal, sikap demikian justru memperburuk kondisi psikologis korban.

Puji juga menekankan pentingnya peran aktif Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan institusi pendidikan untuk ikut memantau aktivitas anak secara berkala. Ia berharap, upaya perlindungan terhadap anak tidak hanya menjadi wacana, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata.

“Anak-anak merupakan generasi penerus yang harus kita lindungi, bukan membiarkan kasus yang menimpa mereka dibiarkan begitu saja,” tandasnya. (Adv)

DPRD Samarinda Dukung FPPL, Tekankan Program Konkret Hadapi Isu Lingkungan

Samarinda – Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda, Andriansyah, menyampaikan dukungan penuh terhadap langkah-langkah Forum Pemuda Peduli Lingkungan (FPPL) dalam menghadapi persoalan lingkungan hidup di Kota Tepian.

Namun demikian, ia menekankan pentingnya strategi yang lebih konkret dan terukur dalam menjalankan program-program forum tersebut.

Dalam pernyataannya, Andriansyah mengungkapkan bahwa terdapat tiga isu utama yang saat ini menjadi fokus FPPL, yaitu persoalan sampah, banjir, dan keterbatasan Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Ketiga isu ini dinilai krusial dan memerlukan penanganan serius yang melibatkan partisipasi aktif komunitas lokal.

“Forum harus bisa menjadikan isu-isu ini sebagai prioritas dalam setiap pergerakan, sekaligus mendorong keterlibatan komunitas lokal agar lebih efektif dan berkelanjutan,” ujar Andriansyah.

Ia menyoroti pentingnya edukasi kepada masyarakat, terutama dalam melihat sampah sebagai komoditas yang memiliki nilai ekonomi. Meski regulasi pengelolaan sampah telah tersedia, implementasi di lapangan dinilainya masih lemah.

Untuk mengatasi persoalan banjir, Andriansyah mengusulkan program kerja bakti rutin dan pembersihan saluran air sebagai langkah konkret. Ia juga menyarankan agar FPPL mengajukan anggaran operasional kepada pemerintah guna mendukung keberlanjutan program-program yang dijalankan.

Sementara itu, terkait dengan keterbatasan RTH, politisi tersebut mendorong adanya program penanaman pohon secara terencana, terutama di kawasan rawan longsor dan daerah padat penduduk yang minim ruang hijau.

Tak hanya itu, Andriansyah juga menekankan pentingnya sinergi antarkomunitas untuk memperkuat gerakan lingkungan. Ia menyebut keterlibatan kelompok seperti komunitas peduli sungai dan keluarga tangguh berencana sebagai elemen penting dalam membangun gerakan lingkungan berbasis masyarakat.

“Untuk menyukseskan program ini, perlunya melibatkan komunitas lokal untuk bergerak bersama,” pungkasnya.

Dengan kolaborasi yang kuat dan pendekatan yang strategis, ia berharap FPPL dapat menjadi motor penggerak perubahan positif dalam menjaga kelestarian lingkungan di Kota Samarinda. (Adv)