Jadi Destinasi Romantis Pasangan di Tenggarong: Jembatan Repo-repo Banyak Terdapat Gembok Cinta

KUTAI KARTANEGARA – Impian memiliki hubungan romantis seperti dalam drama Korea kini bisa diwujudkan tanpa perlu jauh-jauh ke Korea Selatan. Tenggarong, ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara, menawarkan sensasi serupa di Jembatan Repo-Repo.

Mengambil inspirasi dari N Seoul Tower di Korea Selatan, yang terkenal dengan ritual gembok cintanya, Jembatan Repo-Repo menawarkan pengalaman serupa bagi pasangan yang ingin mengabadikan cinta mereka. Jembatan ini menghubungkan Kota Tenggarong dengan Pulau Kumala dan menjadi daya tarik wisata di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).

Terletak di Jalan K.H. Ahmad Muksin, Timbau, Kecamatan Tenggarong, jembatan ini hanya berjarak sekitar 4,5 km dari Kantor Bupati Kutai Kartanegara dan dapat dicapai dalam waktu sekitar 10 menit dengan kendaraan bermotor. Sejak dibuka untuk umum pada 22 Maret 2016 oleh Bupati Kutai Kartanegara, Ibu Rita Widyasari, jembatan ini langsung menarik perhatian warga dan wisatawan.

Di Jembatan Repo-Repo, pengunjung dapat menuliskan nama mereka dan pasangannya di gembok, menguncinya di pagar jembatan, dan membuang kuncinya ke dasar Sungai Mahakam. Ritual ini dipercaya dapat membawa kelanggengan dalam hubungan cinta. Ribuan gembok yang tergantung di sepanjang pinggir jembatan menjadi pemandangan unik dan romantis.

Selain memasang gembok cinta, pengunjung juga bisa menikmati sunset dan pemandangan lampu kota di malam hari dari ujung jembatan. Aktivitas berfoto menjadi sangat populer di sini, sehingga pengunjung disarankan untuk menyiapkan kamera dan memori yang cukup.

Dengan panjang 230 meter dan lebar hanya 3,5 meter, Jembatan Repo-Repo memang dirancang khusus untuk pejalan kaki. Pemandangan indah Sungai Mahakam, sungai terbesar di Kalimantan Timur, bisa dinikmati dari atas jembatan. Dari sini, pengunjung juga dapat melihat Pulau Kumala yang menawarkan berbagai daya tarik wisata.

Jembatan Repo-Repo dengan semua keunikannya telah menjadi destinasi wisata wajib bagi siapa saja yang berkunjung ke Kutai Kartanegara. Tak hanya menjadi tempat untuk mengekspresikan cinta, jembatan ini juga menghadirkan pengalaman wisata yang tak terlupakan dengan pemandangan alam yang memukau. (ADV)

Kukar Festival Budaya Nusantara (KFBN) Sukses digelar di 3 Lokasi

KUTAI KARTANEGARA – Kukar Festival Budaya Nusantara (KFBN) sukses digelar Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. 3 titik lokasi acara KFBN yang berlangsung pada 8-13 Juli 2024 semuanya berjalan lancar, yaitu di Lapangan Parkir Stadion Rondong Demang, Lapangan Basket Timbau, dan Amphitheater Taman Kota Raja.

Ketiga lokasi tersebut memang kerap dijadikan tempat acara KFBN setiap tahun. Di Lapangan Parkir Stadion Rondong Demang dan Lapangan Basket Timbau digelar olahraga tradisional Kukar, sedangkan Amphitheater Taman Kota Raja dijadikan pentas seni, tari, musik, dan lain-lain.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Pembinaan Industri Pariwisata, Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar, Antoni Kusbiantoro baru-baru ini.

“Ini merupakan wujud keseriusan Pemkab Kukar dalam melestarikan dan memperkenalkan budaya tradisional,” ucap Antoni, Sabtu (15/6/2024).

Lebih lanjut, Antoni menyatakan harapan Pemkab Kukar agar festival ini dapat di pertahankan dan di lestarikan.

“Kami berharap dari Festival ini, kita dapat mempertahankan dan melestarikan budaya lokal kita,” tegasnya.

Beberapa sanggar seni dapat hadir pada gelaran ini untuk berpartisipasi.

“Melalui KFBN 2024, dapat menjadi ajang yang tidak hanya melestarikan kebudayaan yang ada di Kukar dan Indonesia, tetapi juga dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat,” sambung Antoni. (ADV)

Jelajah Wisata Menantang Air Terjun Kandua Raya di Desa Kedang Ipil

KUTAI KARTANEGARA – Selain dikenal dengan keunikan budaya adatnya, Desa Kedang Ipil di Kecamatan Kota Bangun Darat, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), juga menawarkan potensi wisata alam yang menakjubkan, yaitu Air Terjun Kandua Raya, yang lebih populer dengan sebutan Air Terjun Kedang Ipil.

Air terjun ini terletak di jalan poros antara Kota Tenggarong dan Kota Bangun Darat. Dari jalan raya, pengunjung harus menempuh jarak sejauh 19 km untuk mencapai Desa Kedang Ipil. Perjalanan dari Kota Samarinda ke lokasi memakan waktu kurang lebih 2,5 jam.

Sedangkan dari Kota Tenggarong, waktu tempuhnya sekitar 1,5 hingga 2 jam untuk mencapai gerbang akses masuk Desa Kedang Ipil, dilanjutkan dengan perjalanan sekitar 45 menit ke lokasi air terjun.

Selama perjalanan, pengunjung tidak perlu khawatir tersesat karena setiap persimpangan jalan dilengkapi dengan papan petunjuk arah yang jelas. Setibanya di Desa Kedang Ipil, suasana pedesaan yang asri dengan rumah-rumah tua menambah daya tarik tersendiri.

Warga setempat yang ramah siap menyambut pengunjung. Di ujung desa terdapat pos penjagaan yang menjadi gerbang masuk menuju lokasi air terjun.

“Warga disini ramah-ramah, dan alam disini masih asri, lumayan gak sia-sia jauh-jauh kesini, buat refresing,” ucap Ackwan Hanafi, Sabtu (15/6/2024).

Di air terjun Kandua Raya, pengunjung dapat mencoba tantangan melewati arus deras air terjun dengan berpegangan pada tali tambang yang disediakan oleh pengelola. Tali tambang tersebut cukup kuat untuk dijadikan pegangan, namun pengunjung harus berhati-hati karena derasnya air terjun dan bebatuan licin bisa menyebabkan terjatuh.

Tips pentingnya adalah jangan pernah melepaskan pegangan dari tali. Tantangan ini memang menegangkan, namun kepuasan dan euforia setelah berhasil menyeberangi air terjun memberikan pengalaman tak terlupakan.

“Yang pasti disini jaga kesopanan dan hati-hati, karena sangat jauh dari kota kalo terjadi apa-apa, biar bisa menikmati keindahan alam disini dan menikmati air terjun yang sejuk disini,” sambung Hanafi.

Berbeda dari kebanyakan air terjun yang berbentuk patahan vertikal, Air Terjun Kandua Raya memiliki bentuk bertingkat-tingkat, cukup lebar, dan sangat panjang, memberikan panorama yang unik dan memukau.

Air terjun ini dibuka untuk kunjungan mulai pukul 09.00 pagi hingga pukul 17.00 sore, memberikan waktu yang cukup bagi wisatawan untuk menikmati keindahan alam yang disuguhkan. Bagi para pecinta alam dan pencari petualangan, Air Terjun Kandua Raya di Desa Kedang Ipil adalah destinasi yang wajib dikunjungi. (ADV)

Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin: Warisan Kesultanan Kutai yang Menjadi Situs Sejarah Nasional

KUTAI KARTANEGARA – Bagi pecinta wisata religi, Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin merupakan destinasi wajib saat berkunjung ke Kota Raja, Tenggarong.

Masjid ini adalah warisan berharga dari Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan telah berdiri kokoh selama satu setengah abad, mencerminkan kekayaan sejarah dan budaya Kutai yang masih terjaga hingga kini.

Jika Anda ingin mengunjungi masjid ini, berlokasi di satu kompleks dengan Kedaton Sultan Ing Martadipura, tepat di persimpangan Jalan Monumen Timur dan Jalan Mayjen Sutoyo, Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin mempertahankan gaya arsitektur khas tempo dulu yang relevan dengan usianya yang mencapai 132 tahun.

Di halaman depan masjid, terdapat menara setinggi 30 meter dengan tiga tiang yang tergabung di bawah kubah, memberikan kesan megah dan klasik.

Bangunan utama masjid berukuran 50×50 meter persegi ini didirikan dengan gotong royong oleh rakyat dan ulama pada tahun 1874 atas prakarsa Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Pada tahun 1930, Sultan Aji Muhammad Parikesit memimpin peningkatan bangunan menjadi masjid yang megah dengan bantuan menteri kerajaan, Aji Amir Hasanuddin.

Masjid ini dirancang oleh arsitek kepercayaan Kesultanan Kutai dengan gaya rumah lokal dan pengaruh budaya Melayu. Struktur bangunan utamanya menggunakan kayu ulin, komoditi khas hutan Kalimantan yang terkenal akan kekuatannya. Dinding luar masjid berlapis cat putih dengan aksen hijau tua, menambah kesan elegan dan klasik.

Masjid ini memiliki 19 pintu di setiap sisi dengan warna krem yang khas. Di dalamnya, terdapat 16 tiang utama dari kayu ulin yang menopang langit-langit dan atap kayu tumpang tiga dengan kubah berbentuk poligon. Bagian atap masjid juga dilengkapi kaca bening yang memungkinkan cahaya matahari masuk, memberikan penerangan alami sepanjang hari.

Dirancang dengan ventilasi yang baik, Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin memastikan sirkulasi udara yang optimal. Pada tahun 1962, nama masjid ini diubah dari Masjid Sultan menjadi Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin oleh Iskandar Usat, ketua takmir masjid saat itu, melalui musyawarah dengan tokoh masyarakat Tenggarong.

Masjid ini dibangun dengan semangat gotong royong tanpa paksaan atau janji upah. Masyarakat berkontribusi dengan penuh iman dan keikhlasan, dipimpin oleh Aji Amir Hasanuddin dan dibantu oleh Sayid Saggaf Baraqbah, seorang penyiar Islam yang berdakwah di sekitar Kutai.

Kini, Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin telah ditetapkan sebagai salah satu masjid bersejarah di Indonesia dan menjadi situs sejarah serta cagar budaya nasional. Meskipun telah mengalami beberapa kali pemugaran, keaslian arsitektur dan bentuk bangunannya tetap dijaga.

Perbaikan terakhir dilakukan pada tahun 2019-2020 di bagian tiang penyangga. Menariknya, sebelum direhab, tidak ada satu pun paku yang digunakan dalam pembangunan masjid ini; semua struktur bangunannya diperkuat dengan pasak kayu.

Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol sejarah dan kebanggaan masyarakat Kutai yang terus terjaga hingga kini. (ADV)

Pulau Nusa Tuna, Potensi Wisata yang Akan Dikembangkan Pemdes Kayu Batu

Tenggarong – Desa Kayu Batu, yang terletak di Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), sedang mengarahkan upayanya untuk mengembangkan potensi pariwisata melalui pulau eksotisnya, Nusa Tuna.

Pulau ini, yang dikenal sebagai pulau pasir putih, menjanjikan pengalaman wisata alam yang unik berkat keberagaman flora dan fauna serta lokasinya yang strategis di sekitar danau dan Sungai Mahakam.

Kepala Desa Kayu Batu, Andri Shofyandani, bertekad untuk memanfaatkan potensi alam Pulau Nusa Tuna dengan melibatkan masyarakat lokal dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis).

“Langkah ini diharapkan tidak hanya dapat meningkatkan daya tarik pariwisata, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap ekonomi lokal,” katanya, Sabtu (15/6/2024).

Andri menjelaskan, Pulau Nusa Tuna memiliki berbagai potensi wisata alam yang menarik, termasuk keunikan tanaman endemik dan keberadaan beragam spesies burung, termasuk yang dilindungi.

“Kendala kammi saat ini soal pembebesan lahan, pemiliknya tidak tinggal dekat dengan lahannya, kita harus mencari mereka untuk berkolaborasi, untuk dana pembebasan pastinya kita juga kekurangan karena anggaran dari BUMDes terbatas, semoga kedepan kita punya solusinya,” ungkapnya.

Dengan dukungan dari dana desa dan proposal yang akan diajukan ke instansi terkait, pemerintah desa berharap dapat mengoptimalkan pengelolaan Pulau Nusa Tuna sebagai destinasi wisata yang berkelanjutan dan berdaya tarik tinggi bagi wisatawan yang mencari pengalaman alam yang autentik.

“Tentu kita mengharap dukungan pemkab Kukar, Pemerintah Provinsi dan para anggota DPRD, semoga solusi masalah dana bisa terpecahkan, dan wisata di sini bisa berjalan dan berdampak pada ekonomi warga,” pungkasnya. (adv)

Desa Kahala Kembangkan Wisata Alam Tumbuhan Anggrek Solong Pinang Habang

Tenggarong – Desa Kahala, Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), sedang mengembangkan program pemberdayaan potensi wisata alam di wilayahnya. Salah satu potensi wisata yang dikembangkan adalah tempat wisata alam tumbuhan anggrek yang diberi nama Solong Pinang Habang.

Terletak sekitar 30 menit perjalanan dari desa, tempat wisata ini dipenuhi berbagai macam jenis tumbuhan anggrek.

“Wisata alam bunga anggrek ini memiliki 7 varietas atau jenis dan berada di 7 titik. Kalau orang desa menyebutnya ada 7 tingkat,” kata Kepala Desa Kahala, Mahlan.

Dengan luas sekitar 200 hektare, tempat wisata tersebut dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dari dua desa, yakni Desa Kahala dan Kahala Ilir.

Tempat ini sudah didaftarkan oleh Desa Kahala ke Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar dan sudah bisa dikunjungi meski masih memerlukan pengembangan, terutama dari segi akses jalan yang masih kurang memadai.

Untuk itu, Pemerintah Desa Kahala terus berupaya memperbaiki akses jalan menuju tempat wisata tersebut. Setelah itu, mereka berencana membangun dermaga, jembatan, serta kapal feri untuk memudahkan akses wisatawan. Bunga anggrek ini tumbuh di sekitar kawasan danau dan Sungai Berambai.

“Tumbuh secara alami di kawasan pegunungan dan rawa, sehingga perlu pengembangan lebih lanjut agar dapat menarik perhatian para wisatawan,” pungkasnya.  (adv)