Wisata Air Terjun Black Stone Geopark Desa Bhuana Jaya Akan Kembali Dibuka pada 2027

Kondisi Air terjun Black Stone Geopark Desa Bhuana Jaya Kecamatan Tenggarong Seberang. (adakaltim/nur)

Kutai Kartanegara – Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Buana Jaya Agro Ekowisata di Desa Buana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), memfokuskan pengembangan kawasan wisata pada 2026-2027.

Pembenahan kawasan air terjun, rencana pembangunan taman, serta pengembangan agrowisata menjadi bagian dari upaya menyiapkan destinasi wisata terpadu yang diharapkan dapat kembali dibuka untuk pengunjung pada 2027.

Ketua Pokdarwis Buana Jaya Agro Ekowisata, Eko Widodo, mengatakan kunjungan wisatawan belum berjalan rutin sepanjang tahun ini karena akses wisata hanya sempat dibuka pada awal tahun.

Setelah itu, pengelola menghentikan sementara aktivitas kunjungan untuk melakukan pembenahan kawasan air terjun.

“Terus terang, tahun ini kami tidak membuka akses wisata secara rutin. Akses hanya sempat dibuka pada awal tahun, kemudian kami hentikan sementara karena saat ini pihak pengelola sedang melakukan pembenahan kawasan air terjun,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kawasan tersebut direncanakan dikembangkan menjadi destinasi wisata terpadu dengan menghadirkan taman serta kegiatan agrowisata. Sejumlah tanaman produktif, seperti kopi dan durian, direncanakan ditanam untuk menambah daya tarik kawasan sekaligus mendukung pengembangan wisata berbasis pertanian.

Selain itu, pengelola pernah mengajukan permintaan bibit pohon flamboyan kepada Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS).

Penanaman pohon tersebut diharapkan dapat menghadirkan pemandangan menarik ketika memasuki masa berbunga, sehingga menjadi salah satu daya tarik tambahan bagi pengunjung.

Eko juga menyebutkan, pengelola kawasan hutan menemukan dua air terjun tambahan yang berpotensi dikembangkan sebagai objek wisata alam.

Selain itu, terdapat sejumlah pohon berukuran besar yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi mengenai lingkungan dan kekayaan alam di kawasan tersebut.

“Untuk 2026 hingga 2027, fokus kami masih pada pengembangan kawasan. Harapan saya, destinasi ini bisa dibuka kembali pada 2027, bahkan kalau memungkinkan sebelum akhir tahun,” katanya.

Ia menegaskan, saat ini pengelola masih memprioritaskan pembenahan dan penataan kawasan sebelum kembali menerima kunjungan wisatawan secara rutin.

Upaya tersebut diharapkan dapat menghadirkan destinasi yang lebih tertata, memiliki beragam daya tarik, serta memberikan pengalaman wisata alam dan edukasi bagi masyarakat.

“Ya, saat ini kami masih fokus melakukan pembenahan dan pengembangan kawasan agar nantinya bisa menjadi destinasi yang lebih baik,” pungkasnya. (adv/nr/ko)

Bagikan :