13 Tahun Menanti, Kini Warga Bisa Tersenyum: Jembatan Nibung Akhirnya Hadir untuk Rakyat

Kutai Timur – ‎Kepemimpinan Rudy-Seno menjawab 13 tahun penantian urat nadi ekonomi masyarakat di dua kabupaten di Kalimantan Timur.

‎Selama bertahun-tahun, mobilitas warga sangat tergantung pada transportasi sungai yang terbatas, mahal, dan rentan cuaca. Kondisi tersebut menghambat distribusi hasil pertanian, perikanan, serta akses pendidikan dan layanan kesehatan.

‎Gubernur Harum menuturkan bahwa Jembatan Nibung lebih dari sekadar bentang baja yang menghubungkan dua tepian sungai. Menurutnya, jembatan ini adalah bukti nyata kehadiran negara di tengah masyarakat.

‎“Mudah-mudahan jembatan ini memberikan manfaat besar bagi masyarakat Kadungan Jaya dan Pelawan, Kecamatan Kaubun dan Sangkulirang. Yakinlah, jembatan ini bukan hanya milik kita, tetapi milik kita semua,” ucapnya.

‎Jalur ini berpotensi menjadi koridor ekonomi baru yang mempercepat pergerakan barang dan manusia di kawasan pesisir timur Kalimantan.

‎Secara ekonomi, jembatan ini diperkirakan akan menurunkan biaya logistik, mempercepat distribusi komoditas, dan membuka peluang investasi di wilayah yang selama ini relatif terisolasi. Secara sosial, masyarakat tidak lagi bergantung pada jadwal penyeberangan air yang membatasi aktivitas harian

‎Setelah 13 tahun menjadi proyek setengah jadi yang “menghisap” anggaran tanpa manfaat nyata, Jembatan Nibung kini berdiri sebagai infrastruktur vital sekaligus penanda bahwa konsistensi kebijakan pembangunan dapat mengubah wajah kawasan tertinggal.

‎Bagi pemerintahan Rudy–Seno, penyelesaian proyek ini bukan sekadar capaian fisik, tetapi juga pesan politik bahwa proyek lama yang mangkrak dapat dituntaskan ketika ada prioritas dan keberlanjutan kebijakan.

‎Dalam kesempatan itu, ia turut mengingatkan bahwa pergantian kepemimpinan tidak boleh memutus tanggung jawab terhadap rakyat.

‎“Tidak ada pekerjaan yang tidak selesai sepanjang kita punya niat dan komitmen yang kuat. Pemimpin boleh berganti, tetapi tanggung jawab kepada rakyat tidak boleh berhenti,” katanya. (*)

Pembukaan Festival Adat Erau 2025 Tampilkan Perpaduan Tradisi dengan Spirit Pariwisata

Tenggarong – Dentuman gong yang dipukul Sultan Aji Muhammad Arifin dan cahaya obor yang menyala menjadi penanda dimulainya Festival Adat Erau 2025, sebuah pembukaan yang menampilkan perpaduan tradisi sakral Kesultanan Kutai Kartanegara (Kukar) dengan spirit pariwisata modern di Stadion Rondong Demang, Tenggarong pada Minggu (21/9/2025).

Sejumlah tamu kehormatan turut hadir, mulai dari Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana, Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud hingga jajaran Pemkab Kukar.

Kehadiran mereka menegaskan posisi Erau sebagai ruang budaya yang semakin diperhitungkan.

Menteri Pariwisata menilai Festival Adat Erau yang merupakan festival terbesar di Kukar bukan lagi sekadar ritual adat, melainkan ruang perjumpaan budaya.

“Festival ini adalah perayaan kebersamaan dan keberagaman. Kukar sendiri merupakan salah satu pusat peradaban terkuat di Nusantara, dan nilai-nilai luhur Kesultanan Kutai masih hidup dalam keseharian anak bangsa,” ujarnya.

Ia juga menekankan dukungan pemerintah melalui program Kharisma Event Nusantara.

Menurutnya, 113 event di seluruh Indonesia mendapat penguatan, termasuk yang digelar di Kukar.

“Komitmen kita adalah terus menghadirkan event-event berbasis kekayaan lokal yang mampu mengangkat nama Indonesia di kancah nasional maupun internasional,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, menyebut Erau sebagai wujud nyata pelestarian adat di tanah Kutai.

“Harapan kita bersama, seluruh rangkaian acara Erau dapat berlangsung tertib, aman, dan lancar,” ucapnya.

Aulia juga menyinggung transformasi Erau dari ritual lokal menjadi ajang pariwisata dunia.

Meski pernah digelar bersama CIOFF lewat Erau International Folk and Art Festival (EIFAF), sejak 2022 Pemkab mengembalikan festival ke khittahnya agar nilai sakral tetap terjaga.

Tahun ini, Erau mengusung tema “Menjaga Marwah Peradaban Nusantara” yang bermakna menjaga kehormatan dan kemuliaan warisan leluhur.

“Besar harapan kita semua, semoga pelaksanaan Erau tahun ini dapat membawa keberkahan bagi masyarakat serta menjadi pendorong utama perputaran ekonomi, khususnya peningkatan UMKM daerah,” pungkasnya. (ak/ko)