Desa Liang Ulu Buat Posbakum untuk Musyawarah Penyelesaian Masalah Hukum Warga

Tenggarong – Desa Liang Ulu, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), kini memiliki Pos Bantuan Hukum (Posbakum) yang lahir dari inisiatif warga sendiri.

Lewat Posbakum ini, masyarakat dapat menyelesaikan persoalan hukum tanpa perlu menempuh jalur pengadilan.

Kepala Desa Liang Ulu, Mulyadi menyebut, gagasan Posbakum muncul setelah desa berhasil menengahi persoalan keramba warga yang ditabrak ponton batu bara pada 2023 lalu.

“Waktu itu kasusnya kami tuntaskan dengan musyawarah di desa. Dari situ kami sadar perlunya tempat penyelesaian hukum yang berbasis musyawarah,” kata Mulyadi, Jumat (18/7/2025).

Mulyadi mengungkapkan, Posbakum yang dibuat di desanya jadi ruang bagi warga untuk menyelesaikan masalah hukum secara damai.

“Alhamdulillah, kami juga berhasil lolos seleksi Program Pacemaker Kemenkumham. Tinggal menunggu kabar apakah bisa masuk sepuluh besar terbaik di tingkat nasional,” jelasnya.

Menurutnya, Posbakum Liang Ulu sudah aktif sejak 2024 dan beroperasi di Dusun Satu.

Warga yang punya persoalan hukum cukup datang ke balai desa dan masalahnya akan dibicarakan bersama.

“Kalau ada sengketa, langsung kita musyawarahkan. Semua dijalankan terbuka dan tanpa biaya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa rencana untuk membuat Posbakum sebenarnya sudah ada sejak lama.

“Sebenarnya ide ini sudah muncul sejak 2014, tapi baru bisa jalan sekarang karena dulu kami masih kekurangan tenaga dan waktu,” lanjutnya.

Pembentukan Posbakum juga mendapat dukungan dari Kantor Wilayah Kemenkumham Kalimantan Timur.

Dia berharap layanan ini makin dikenal dan dapat jadi contoh bagi desa-desa lain untuk menyediakan penyelesaian hukum murah dan damai.

“Kami ingin program ini satu arah, punya visi misi yang sama. Harapan saya, ke depan ada anggaran khusus dan forum tukar pengalaman antar desa,” tutupnya. (adv/ak/ko)

Petani di Desa Margahayu Alihkan Kebun Karet ke Kelapa Sawit untuk Ekonomi yang Lebih Baik

Tenggarong – Hasil perkebunan yang dikelola masyarakat Desa Margahayu, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) kini mulai mengalami perubahan pola tanam.

Banyak petani yang selama ini menggantungkan hidup dari kebun karet, perlahan beralih menanam kelapa sawit demi mendapatkan hasil ekonomi yang dianggap lebih stabil dan praktis.

Kepala Desa Margahayu, Rusdi, menjelaskan bahwa perubahan ini bukan tanpa alasan. Menurutnya, kelapa sawit dinilai lebih mudah dikelola dibandingkan karet yang harus disadap setiap hari.

Sementara kelapa sawit hanya dipanen sepekan sekali, sehingga beban kerja petani lebih ringan.

“Kalau karet, petani harus nyadap setiap hari tanpa jeda. Sedangkan sawit, panennya cukup seminggu sekali, lebih ringan dan efisien,” jelas Rusdi ketika ditemui, Rabu (16/6/2025).

Rusdi menambahkan, letak Desa Margahayu yang berdekatan dengan pabrik sawit PT Niagamas Gemilang juga menjadi alasan kuat warga memilih komoditas kelapa sawit.

Akses pasar yang lebih dekat membuat hasil panen lebih cepat menghasilkan tanpa memerlukan akomodasi yang besar.

“Banyak warga mulai mengganti kebun karet mereka dengan sawit karena pasarnya lebih jelas. Sawit juga punya harga yang stabil kalau dekat pabrik,” katanya.

Meski begitu, kata dia, tidak semua petani langsung meninggalkan tanaman karet, terdapat sebagian besar petani yang masih bertahan dengan alasan harga getah karet relatif stabil meski biaya operasionalnya lebih tinggi akibat jarak pemasaran yang cukup jauh.

Meski demikian, kata dia, kebun karet masih menjadi andalan sebagian besar petani di Margahayu.

Pasalnya, harga karet yang di nilai masih relatif stabil sehingga tetap bisa menjadi penopang ekonomi rumah tangga para petani.

Namun, ia mengakui terdapat tantangan tersendiri terkait jarak tempuh pemasaran karet yang cukup jauh ke pabrik penampung.

Hal ini membuat biaya operasional menjadi lebih besar, terutama untuk transportasi.

Mengatasi hal itu, pihak desa telah berupaya membantu petani melalui kerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dengan harapan pengelolaan hasil kebun baik karet maupun sawit bisa lebih efisie.

“Kalau pemasaran lancar, ongkos angkut ringan, hasilnya pasti akan terasa untuk keluarga mereka,” tutupnya. (adv/ak/ko)