Tenggarong – Hangatnya senja di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) bukan hanya menghadirkan awan jingga di langit kota, tetapi juga menggerakkan denyut ekonomi warga di halaman Tangga Arung Square (TAS).
Setiap sore selama Ramadan, ratusan pedagang membuka lapak dan ribuan pengunjung berdatangan, menciptakan perputaran transaksi yang terasa hidup di tengah suasana kebersamaan menjelang berbuka puasa.
Denyut Ramadan terasa begitu hidup, deretan tenda berjajar rapi, aroma gorengan hangat bercampur wangi kolak dan aneka minuman segar, sementara langkah warga saling bersahutan, mencari hidangan terbaik untuk berbuka puasa.
Tahun ini, sekitar 200 tenant memadati kawasan tersebut, menjadikannya salah satu pusat Pasar Ramadan terbesar di wilayah Kukar.
Ragam menu yang ditawarkan tidak hanya didominasi makanan populer, tetapi juga kuliner khas Kutai dan kue tradisional daerah yang menghadirkan cita rasa lokal di tengah semaraknya bulan suci.
Harga yang dipatok relatif terjangkau, mulai dari Rp5.000 hingga Rp20.000, membuat masyarakat dari berbagai kalangan dapat menikmati sajian yang tersedia tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
Kondisi ini pula yang membuat arus pengunjung terus mengalir sejak pukul tiga sore hingga menjelang adzan magrib.
Di antara keramaian itu, Dava, seorang pengunjung, tampak sibuk memilih beberapa jenis takjil untuk dibawa pulang.
Ia mengaku hampir setiap sore datang ke Pasar Ramadan TAS karena pilihan menunya yang beragam dan suasananya yang nyaman.
“Menurut saya ini salah satu Pasar Ramadan paling lengkap di Tenggarong. Pilihannya banyak sekali, dari makanan ringan sampai lauk berat juga ada,” ujarnya, Sabtu (21/2/2026).
Ia juga menilai kehadiran makanan khas Kutai menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi generasi muda yang jarang menemukan kuliner tradisional di luar momen tertentu.
“Yang saya suka, ada kue-kue khas Kutai yang jarang dijual di hari biasa. Jadi bukan cuma beli untuk berbuka, tapi juga bisa sekalian mengenalkan makanan tradisional ke anak-anak,” kata dia.
Menurutnya, harga yang relatif terjangkau membuatnya tidak ragu berbelanja lebih dari satu jenis menu setiap kali datang.
“Dengan harga mulai lima ribu sampai dua puluh ribu rupiah, menurut saya masih sangat wajar. Kita bisa dapat banyak pilihan tanpa merasa berat,” tuturnya.
Bagi Dava, Pasar Ramadan TAS bukan sekadar tempat transaksi jual beli, melainkan ruang yang menghadirkan suasana khas Ramadan yang sulit ditemukan di tempat lain.
“Setiap sore rasanya beda, ada nuansa kebersamaan yang terasa. Orang-orang datang dengan tujuan yang sama, menyiapkan buka puasa, tapi di situ juga ada senyum dan sapaan yang bikin suasananya hangat,” pungkasnya. (ak/ko)





