Karhutla Muara Badak Meluas, Water Bombing Dua Kali Dikerahkan ke Desa Saliki

Tenggarong – Asap dan titik api masih menjadi perhatian di Kecamatan Muara Badak, Kutai Kartanegara (Kukar). Dalam kurun waktu sekitar satu bulan, luasan lahan yang terbakar dilaporkan telah menembus lebih dari 200 hektare, sementara upaya pemadaman terus dilakukan dari darat maupun udara.

Salah satu wilayah yang mendapat penanganan dari udara adalah Desa Saliki. Operasi water bombing dikerahkan untuk membantu menjangkau titik-titik api yang sulit ditangani melalui jalur darat. Langkah tersebut menjadi tambahan kekuatan di tengah kondisi kebakaran yang masih dapat memunculkan api berulang.

Camat Muara Badak, Hj. Nurhaeda, mengatakan penanganan karhutla dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan pemerintah desa, relawan, perusahaan dan berbagai stakeholder. Setiap laporan mengenai kemunculan titik api diupayakan segera ditindaklanjuti agar kebakaran tidak semakin meluas.

“Sejak ada karhutla di Muara Badak, penanganannya kami upayakan maksimal. Dari beberapa titik api yang ada, kami lakukan pemadaman,” ujarnya, Kamis (10/9/2026).

Menurut Nurhaeda, pengerahan water bombing ke Saliki sebenarnya telah dijadwalkan sehari sebelumnya. Namun, pelaksanaannya mengalami penundaan dan baru dapat dilakukan pada Kamis. Dalam pemantauannya, operasi pemadaman dari udara bahkan telah dilakukan dua kali pada hari tersebut.

“Alhamdulillah hari ini ada. Sebenarnya dari kemarin jadwalnya, cuma tertunda. Hari ini sudah dilakukan dan kalau saya monitor, ini yang kedua kali. Tadi pagi sudah, kemudian dilanjutkan lagi yang kedua di Desa Saliki,” ujarnya.

Perjuangan memadamkan karhutla tidak selalu selesai setelah api berhasil dijinakkan. Sejumlah titik dilaporkan kembali terbakar sehingga petugas harus melakukan pemadaman secara berulang. Situasi tersebut juga membuat pendataan luasan lahan terdampak masih terus bergerak.

Nurhaeda menyebut angka awal yang diterima pemerintah kecamatan berada di kisaran 107,5 hektare. Namun, berdasarkan pembaruan terakhir, luasan tersebut telah meningkat menjadi lebih dari 200 hektare.

“Data itu tentatif, berjalan cepat. Di lapangan terkadang satu titik berulang kali terbakar, jadi luasan yang sampai saat ini belum ter-update secara pasti,” jelasnya.

Di tengah penanganan api, pemerintah kecamatan juga meminta seluruh unsur tetap bergerak cepat setiap kali menerima informasi mengenai titik kebakaran.

“Kami minta kepada seluruh tim untuk memastikan ketika mendapatkan informasi ada titik api, itu segera dilakukan pemadaman,” pungkasnya. (pr)

Bagikan :