BERITA TERBARU

Desa Loh Sumber Disiapkan Jadi Kawasan Wisata Terpadu di Kecamatan Loa Kulu

Tenggarong – Pemerintah Kecamatan Loa Kulu tengah mempersiapkan Desa Loh Sumber sebagai kawasan wisata terpadu yang menggabungkan potensi sejarah, budaya, dan pertanian.

Kawasan tersebut dinilai memiliki kekayaan alam yang subur, warisan sejarah yang kuat, serta tradisi budaya yang masih lestari, sehingga layak dijadikan sebagai destinasi unggulan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.

Diketahui, Desa Loh Sumber memiliki situs bersejarah penting, seperti Situs Tugu Pembantaian Jepang, yang menyimpan nilai sejarah dari masa penjajahan dan telah dipresentasikan dalam acara pelestarian cagar budaya di Ibu Kota Nusantara (IKN).

Plt Sekretaris Camat Loa Kulu, Khairuddinata, mengatakan bahwa ada sekitar 53 situs sejarah yang telah dipetakan di wilayah Kecamatan Loa Kulu.

Banyak di antaranya berada di Desa Loh Sumber dan berpotensi menjadi objek wisata edukatif yang menarik minat wisatawan.

“Pada tahun 2018, Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur pernah membawa wisatawan ke situs-situs ini, dan mereka sangat antusias dengan nilai sejarah yang kami miliki,” ujarnya saat diwawancara, Senin (27/5/2025).

Tak hanya kaya akan sejarah, Desa Loh Sumber juga dikenal sebagai sentra pertanian dengan lahan subur yang menghasilkan berbagai komoditas pertanian.

Hasil panen tersebut menjadi sumber utama penghidupan warga desa dan membuka peluang pengembangan wisata agrobisnis.

“Potensi pertanian di sini sangat besar. Kami melihat ini sebagai kesempatan untuk mengembangkan wisata edukasi pertanian yang juga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Selain itu, budaya lokal yang kuat juga menjadi daya tarik tersendiri. Tradisi Sedekah Bumi atau bersih desa rutin dilakukan warga sebagai bentuk syukur atas hasil bumi dan kekompakan masyarakat.

Tradisi ini juga mempererat nilai gotong royong dan menjadi bagian penting dari identitas budaya Desa Loh Sumber.

“Kami ingin budaya seperti ini terus dipertahankan karena selain memperkuat jati diri masyarakat, juga bisa menjadi atraksi yang menarik bagi pengunjung,” tuturnya.

Khairuddinata mengungkapkan harapannya agar seluruh potensi wisata, sejarah, budaya, dan pertanian di Desa Loh Sumber bisa terus dijaga dan dikembangkan dengan dukungan masyarakat serta pemerintah.

“Kami optimis pengembangan potensi ini akan membawa manfaat besar bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Loa Kulu,” pungkasnya. (ak/ko)

Pemdes Loh Sumber Upayakan Tekan Angka Stunting

Tenggarong – Desa Loh Sumber, Kecamatan Loa Kulu, berhasil menunjukkan progres nyata dalam menekan angka kasus stunting melalui upaya terpadu yang melibatkan kader Posyandu dan seluruh elemen masyarakat.

Kepala Desa Loh Sumber, Sukirno, menyampaikan bahwa penanganan stunting di wilayahnya dilakukan secara konsisten sesuai arahan Bupati Kukar, sehingga angka stunting yang sempat menyentuh 18 kasus kini terus mengalami penurunan signifikan.

“Kami bekerja sama dengan kader Posyandu, termasuk tim PKK desa yang mengkoordinir dan memberikan makanan gizi tambahan, semua kita lakukan bersama-sama,” ujar Sukirno saat diwawancarai, Selasa (27/5/2025).

Desa Loh Sumber memiliki lima posyandu aktif dengan total 25 kader yang terlatih.

Setiap posyandu beranggotakan lima orang kader yang secara rutin memantau tumbuh kembang balita di desa.

Sukirno menyebut, Kegiatan posyandu berjalan aktif dan melibatkan berbagai unsur masyarakat, sehingga memberikan dampak positif dalam penanganan stunting.

“Pelaksanaan program dilakukan secara konsisten dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, ini juga dapat membantu dalam hal penanganan stunting karena mereka rutin memantau tumbuh kembang balita,” jelasnya.

Data terbaru menunjukkan penurunan kasus stunting di Desa Loh Sumber dalam dua tahun terakhir, hanya tersisa dua atau tiga anak dengan kondisi berat badan kurang, bukan stunting.

“Untuk progres penanganan stunting cukup baik, ini berkat kerjasama semua pihak serta peran dari elemen masyarakat setempat,” ungkapnya.

Pemerintah desa dan seluruh elemen masyarakat berkomitmen untuk terus meningkatkan upaya penanganan stunting demi masa depan generasi yang sehat dan cerdas.

“Kami berharap upaya yang kami lakukan dapat membawa perubahan positif dan menciptakan generasi yang sehat dan cerdas di masa depan,” pungkasnya. (ak/ko)

Reklamasi Sungai di Samarinda Kembali Disorot, DPRD Desak Penghentian Aktivitas Tanpa Izin

Samarinda – Aktivitas reklamasi yang berlangsung di sungai alami wilayah Samarinda kembali menjadi sorotan publik.

Anggota DPRD Kota Samarinda, Joha Fajal, menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak dapat dibenarkan apabila tidak disertai dengan kajian Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) dan izin resmi dari instansi terkait.

Joha mengungkapkan bahwa dirinya menerima banyak aspirasi dari warga yang merasa terdampak oleh proyek reklamasi tersebut. Warga menduga, reklamasi menjadi salah satu penyebab banjir besar yang melanda wilayah Samarinda beberapa waktu lalu.

“Warga meminta agar aktivitas reklamasi segera dihentikan karena diduga memperparah kondisi banjir di kawasan mereka. Jangankan reklamasi, mengubah bentangan sungai saja harus melalui prosedur yang ketat,” tegas Joha kepada awak media, Senin (26/5/2025).

Politikus Partai NasDem ini turut menyampaikan apresiasi kepada pihak perusahaan yang telah merespons keluhan masyarakat. Meski demikian, ia menegaskan komitmen di atas kertas tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan yang ada. “Yang paling penting adalah bagaimana persoalan banjir ini bisa diselesaikan secara nyata, bukan hanya janji,” ujarnya.

Lebih lanjut, Joha menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan. Menurutnya, investasi harus tetap memperhatikan aspek sosial dan tidak boleh merugikan masyarakat sekitar.

“Perusahaan diharapkan bisa berkontribusi positif, terutama dalam menciptakan lapangan kerja yang sehat dan berkelanjutan,” pungkasnya. (adv)

Arie Wibowo: Kritik Influencer untuk OPD, Bukan Serangan ke Wali Kota Samarinda

Samarinda – Sekretaris Komisi III DPRD Kota Samarinda, Arie Wibowo, memberikan tanggapan terkait polemik yang tengah ramai diperbincangkan di media sosial menyusul kritik yang dilontarkan influencer sekaligus politikus muda Partai NasDem, Abdul Giaz, mengenai kondisi jalan rusak di Kota Tepian.

Menurut Arie, pernyataan yang disampaikan Abdul Giaz tidak sepatutnya dianggap sebagai kritik langsung terhadap Wali Kota Samarinda, Andi Harun. Ia menegaskan bahwa kritik tersebut lebih tepat dipahami sebagai bentuk masukan terhadap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang bertanggung jawab atas pembangunan infrastruktur.

“Sebenarnya Pak Andi Harun dan Abdul Giaz itu berteman saja. Hanya saja, kemarin Pak Andi Harun langsung menanggapi, padahal menurut saya tidak perlu. Abdul itu bukan mengkritik secara personal, tapi lebih kepada memberikan masukan terkait hasil pekerjaan dinas,” kata Arie Wibowo, Senin (26/5/2025).

Arie menambahkan bahwa yang disoroti Abdul Giaz adalah kualitas pekerjaan dari perangkat daerah, bukan kepemimpinan Wali Kota yang selama ini dinilainya cukup baik.

“Dia lebih menegur OPD yang bertanggung jawab atas infrastruktur jalan di Samarinda, khususnya Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR). Yang dipermasalahkan itu hasil pekerjaan di lapangan, bukan kinerja Pak Wali secara keseluruhan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Arie mengapresiasi peran konten kreator seperti Abdul Giaz yang dianggap mampu menyuarakan aspirasi masyarakat melalui media sosial. Ia bahkan mendorong lebih banyak anak muda untuk turut aktif memberikan masukan kepada pemerintah.

“Kita perlu lebih banyak orang seperti Abdul Giaz yang mau berbicara dan memberi masukan kepada pemerintah. Tapi kalau bisa, jangan hanya protes saja, sebaiknya juga memberikan solusi,” ujarnya.

Terkait kondisi jalan yang menjadi sorotan, DPRD Kota Samarinda berencana memanggil dinas terkait untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proyek infrastruktur tahun anggaran 2024.

“Kami ingin tahu pekerjaan apa saja yang sudah selesai, mana yang masih dalam tahap pengerjaan, dan mana yang hasilnya belum memuaskan. Kami akan memberikan masukan kepada dinas terkait agar ke depannya lebih baik,” tutup politikus muda Partai Golkar itu. (adv)

Markaca Ingatkan Pentingnya Izin PBG untuk Cegah Risiko Bencana di Samarinda

Samarinda – Anggota Komisi I DPRD Kota Samarinda, Markaca, menegaskan pentingnya regulasi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) sebagai langkah awal dalam melindungi masyarakat dari potensi bencana akibat pembangunan yang tidak sesuai aturan.

Ia menyoroti masih maraknya pembangunan rumah tanpa izin, khususnya di kawasan rawan seperti lereng dan perbukitan, yang mencerminkan lemahnya kesadaran masyarakat terhadap tata ruang yang aman dan berkelanjutan.

“Instansi pemerintah saja butuh kajian lingkungan sebelum memberi izin, apalagi masyarakat umum. Aturannya jelas, ada kajian yang harus dipenuhi,” ujarnya, Senin (26/5/2025).

Markaca menyayangkan kebiasaan sebagian warga yang lebih dulu membangun rumah sebelum mengurus perizinan. Menurutnya, peninjauan lahan sebelum pembangunan sangat penting untuk mencegah dampak buruk seperti tanah longsor dan banjir.

“Kalau ini terus dibiarkan, kesalahan dalam penataan ruang bisa mengancam keselamatan warga,” tegasnya.

Politikus Partai Gerindra itu juga menekankan bahwa pembangunan di wilayah dengan potensi risiko tinggi harus melalui prosedur perizinan yang ketat, termasuk kajian lingkungan dari instansi teknis terkait.

Ia mendorong Pemerintah Kota Samarinda untuk konsisten menegakkan aturan PBG dan meningkatkan komunikasi dengan masyarakat agar regulasi ini benar-benar dipahami dan dijalankan. “Izin itu penting agar masyarakat juga aman,” pungkas Markaca. (adv)

Pemprov Kaltim Tegaskan Larangan Wisuda Berbiaya di Sekolah

Samarinda – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menegaskan komitmennya dalam meringankan beban finansial orangtua siswa dengan melarang keras segala bentuk pungutan biaya untuk acara wisuda di sekolah.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya menciptakan iklim pendidikan yang adil dan bebas dari pembebanan biaya yang tidak perlu.

Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, menyatakan bahwa pihaknya telah menyampaikan teguran kepada sekolah-sekolah yang masih memberlakukan pungutan untuk kegiatan wisuda atau perayaan kelulusan.

“Kami tegaskan, tidak boleh ada pungutan untuk wisuda atau sebutan lainnya di sekolah negeri. Jika masih ditemukan, sekolah harus siap dievaluasi,” ujarnya, Sabtu (24/5/2025).

Regulasi mengenai larangan pungutan biaya di sekolah sebenarnya telah tertuang dalam berbagai aturan, termasuk Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016, Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kemendikbud Nomor 14 Tahun 2023, hingga Surat Edaran Gubernur Kaltim Nomor 400.3.1/7757/2024.

Semua aturan itu menekankan wisuda bukanlah kegiatan wajib, apalagi jika pelaksanaannya dibebankan kepada siswa.

Pemprov Kaltim juga tengah menyusun Peraturan Gubernur (Pergub) sebagai payung hukum yang lebih kuat untuk menertibkan praktik pungutan dalam pelaksanaan wisuda.

“Kita sudah beri peringatan kepada mereka (sekolah yang melakukan pungutan), nanti dibuatkan Pergub-nya. Saat ini sedang dalam proses agar aturan ini memiliki dasar hukum yang kuat, sehingga tidak ada lagi orangtua yang terbebani dengan biaya wisuda,” jelasnya.

Selain soal pungutan, Seno Aji juga mengimbau agar wisuda tidak dijadikan sebagai tradisi dalam dunia pendidikan.

Ia menyebutkan, jika ingin merayakan prosesi wisuda, cukup merayakannya di sekolah aja.

Sebab, wisuda merupakan momen sakral bagi siswa-siswi, bukan untuk ajang pamer kemewahan.

“Saya pikir kelulusan cukup kelulusan, kita tidak perlu berfoya-foya, perjalanan mereka masih panjang, jadi kita minta mereka menghapuskan kebiasaan itu,” pungkasnya. (Ak)