Dorong Ekonomi Kreatif: Festival dan Seni Lomba Burung Berkicau Bupati Cup 2 di Gelar

KUTAI KARTANEGARA – Asisten III Bidang Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Dafip Haryanto, menyatakan bahwa Festival dan Seni Lomba Burung Berkicau Bupati Cup 2 diharapkan dapat memberikan dorongan kemajuan bagi pelaku ekonomi kreatif di daerah tersebut.

Acara ini digelar pada Minggu pagi (16/6/2024) di Arena Kicau Ketinjau Gantangan, Kompleks Olahraga Aji Imbut Tenggarong Seberang.

“Kami berharap melalui Festival dan Seni Lomba Burung Berkicau Bupati Cup 2 ini dapat memberikan dorongan kemajuan bagi pelaku ekonomi kreatif kita,” ucap Dafip, Senin (17/6/2024).

Ia menambahkan bahwa banyaknya peserta dalam acara tersebut bisa memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di sekitar lokasi acara.

“Dari perlombaan ini, UMKM yang bergerak dalam industri kecil seperti pengrajin kandang, makanan, peralatan kicau, dan perlengkapan perawatan burung lainnya akan mendapatkan manfaat ekonomi,” ujarnya.

Pemkab Kukar berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan seperti ini karena memiliki efek ganda, khususnya dalam mendorong kreativitas masyarakat dan meningkatkan ekonomi.

“Pemkab Kukar akan terus mensupport kegiatan seperti ini, karena bisa berefek ganda khususnya mendorong kreativitas masyarakat dan meningkatkan ekonomi,” tambahnya Dafip.

Selain manfaat ekonomi, Dafip juga menilai bahwa Festival dan Seni Lomba Burung Berkicau Bupati Cup 2 dapat menjadi ajang yang bernilai positif untuk mencegah dan mengajak masyarakat serta generasi muda di Kukar agar terhindar dari berbagai hal negatif.

“Dengan digelarnya Festival dan Seni Lomba Burung Berkicau Bupati Cup 2, kita berharap dapat mencegah dan mengajak masyarakat dan generasi muda di Kukar supaya terhindar dari berbagai hal-hal yang negatif,” sambungnya.

“Selamat bersaing buat peserta dan semoga Festival dan Seni Lomba Burung Berkicau Bupati Cup 2 ini berjalan lancar dan menjadi kenangan yang menyenangkan bagi kita semua,” tegas Dafip. (ADV)

Wisata Religi Makam Kesultanan Kutai Kartanegara di Kutai Lama Kecamatan Anggana

Tenggarong – Bagi para penggemar wisata sejarah di Kalimantan Timur (Kaltim), kunjungan ke Anggana, Kutai Lama, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) adalah sebuah keharusan. Tempat ini dikenal sebagai lokasi pertama kali Islam masuk ke Benua Etam.

Di Kutai Lama, pengunjung akan menemukan makam Kesultanan Kutai Kartanegara yang pertama memeluk Islam dan ulama yang berperan penting dalam penyebaran Islam di bumi Kutai.

Setiap akhir pekan, hari libur nasional, dan menjelang bulan puasa, kompleks makam ini dipenuhi oleh ratusan peziarah. Situs makam Raja Kutai Lama yang terletak di Desa Kutai Lama Anggana, Kutai Kartanegara, menjadi tujuan utama bagi mereka yang ingin menapaktilasi sejarah penyebaran Islam di wilayah ini.

“Terutama hari Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional, pengunjung membludak. Walaupun hari-hari biasa juga tetap ada kunjungan peziarah dengan berbagai keperluan doa maupun hajat,” kata pengelola makam, Abdullah.

Salah satu tokoh terkenal yang selalu diperingati setiap tahunnya adalah Tuan Habib Tunggang Parangan, seorang ulama yang berjasa dalam mengislamkan Benua Etam dan dihormati oleh masyarakat Kutai. Tunggang Parangan, yang dikenal dengan julukan Si Janggut Merah, bersama Datuk Ribandang, adalah tokoh penyebar agama Islam pertama di Kerajaan Kutai pada masa pemerintahan Raja Aji Mahkota (1525–1589).

Seiring waktu, penyebaran Islam di Kutai semakin meluas berkat upaya Sultan Aji Dilanggar atau Aji Gendung. Dalam versi sejarah lainnya, sebelum kedatangan Tuan Habib Tunggang Parangan, para saudagar Arab, termasuk Sayyid Muhammad bin Abdullah bin Abu Bakar al-Marzak, telah mencoba menyebarkan Islam di Kutai, namun Raja Mahkota belum bersedia memeluk Islam saat itu.

Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kertanegara Ing Martadipura, Drs. Adji Pangeran Adipati Praboe Anoem Soryo Adiningrat, telah menetapkan berbagai tata tertib bagi para peziarah dalam surat No 003/SEK-KD/KK/I/2009. Pengelolaan makam keramat Raja Kutai Lama, Sultan Adji Raja Mahkota Mulia Islam, yang merupakan anak dari Sultan Adji Dilanggar, serta makam ulama besar Tunggang Parangan, diserahkan kepada Kepala Desa dan Kepala Adat yang terdiri dari delapan pengurus.

Para peziarah yang datang dalam jumlah rombongan dengan membawa berbagai makanan untuk selamatan dapat memanfaatkan pendopo selamatan keramat Kutai Lama. Jika makanan sudah dimasak dari rumah, akan langsung diadakan prosesi doa bersama sesuai hajat mereka yang dipimpin oleh pengurus adat Kutai Lama. “Namun bagi peziarah yang melakukan penyembelihan kambing atau sapi, hal ini akan dikoordinasikan dengan pengurus adat,” tambah Abdullah.

Prosesi selanjutnya adalah naik ke area makam kedua raja, dengan membawa makanan yang telah dibungkus untuk didoakan oleh juru kunci makam. Setelah itu, makanan akan dibagikan kepada puluhan anak maupun orang dewasa yang sudah antre. Setelah ziarah di kompleks makam raja, biasanya dilanjutkan dengan ziarah di makam ulama besar Tunggang Parangan yang terletak di seberang jalan.

Sama seperti di area kompleks makam raja, di area makam ulama ini puluhan anak dan orang dewasa juga menunggu sedekah makanan maupun uang dari para peziarah. Banyaknya kunjungan peziarah ini membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat, seperti warung makanan dan penjualan bunga untuk ziarah. (adv)

Gandeng Bumdes, Pemerintah Desa Kelekat Kembangkan Destinasi Wisata Air Danau Ubi

Tenggarong – Pemerintah Desa Kelekat di Kecamatan Kembang Janggut, Kabupaten Kutai Kartanegara, telah merencanakan keterlibatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) dalam pengelolaan destinasi wisata alam mereka, Wisata Air Danau Ubi.

Danau ini, yang terbentuk secara alami, masih mempertahankan keasrian dan kehijauannya. Sebagai tempat pemancingan ikan bagi masyarakat lokal, Danau Ubi telah lama menjadi daya tarik yang menonjol.

Kepala Desa Kelekat, Cawal, menjelaskan bahwa meskipun memiliki potensi untuk menarik wisatawan, saat ini danau tersebut belum dioptimalkan secara penuh sebagai destinasi wisata. Namun, Pemdes berencana untuk mengubah hal ini pada tahun ini dengan melibatkan BUMDES dalam pengelolaannya, dengan harapan dapat meningkatkan pendapatan asli desa.

“Kami yakin bahwa dengan pengelolaan yang baik, Wisata Air Danau Ubi akan menjadi daya tarik yang signifikan bagi pengunjung yang mencari keindahan alam yang masih alami,” katanya, Minggu (16/6/2024).

Dia juga berharap bahwa langkah ini tidak hanya akan meningkatkan pengunjung dan pendapatan desa, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang positif bagi masyarakat sekitar.

Pengelolaan yang lebih terstruktur diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi keberlanjutan dan pertumbuhan ekonomi lokal, sambil tetap mempertahankan kelestarian lingkungan dan keasrian alam Danau Ubi. (adv)

Tingkatkan Destinasi Wisata dan Budaya: Upaya Startegi Pemkab Kukar Tingkatkan Promosi Wisata

KUTAI KARTANEGARA – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kutai Kartanegara (Kukar) tengah gencar mempromosikan potensi wisata dan budaya daerah melalui berbagai strategi inovatif.

Triyatma, Kepala Pemasaran di Dispar Kukar, menguraikan langkah-langkah yang diambil untuk meningkatkan kesadaran dan minat wisatawan, khususnya di kalangan pelajar.

“Kami berkomitmen untuk memperkenalkan warisan budaya dan situs menarik di Kukar kepada masyarakat luas,” ujar Triyatma, Sabtu (15/6/2024).

Salah satu inisiatif unggulan adalah dialog wisata yang menyasar siswa SMA/SMK. Melalui kegiatan ini, Dispar Kukar berharap dapat memberikan pemahaman mendalam kepada generasi muda mengenai kekayaan budaya dan potensi wisata daerah.

“Kami juga melibatkan mahasiswa dari Yogyakarta untuk berperan aktif dalam kampanye promosi ini,” pungkas Triyatma.

Triyatma mengungkapkan bahwa dialog wisata yang telah diselenggarakan selama tiga tahun terakhir mendapatkan respons positif. Acara ini pernah diadakan di Kecamatan Sanga-Sanga dengan melibatkan SMA 1, SMK 1, dan SMU 1.

“Kami berencana untuk memperluas kegiatan ini ke wilayah lain di Tenggarong,” ucapnya.

Selain itu, Dispar Kukar berharap para siswa SMA yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi dapat menjadi duta pariwisata untuk Kukar, membantu mempromosikan kekayaan budaya dan destinasi wisata daerah mereka.

Triyatma juga menyatakan bahwa Dispar Kukar akan terus memperluas jangkauan promosi dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian warisan budaya lokal. Upaya ini tidak hanya untuk menarik wisatawan tetapi juga untuk memastikan bahwa warisan budaya Kukar tetap terjaga dan dikenal oleh generasi mendatang.

Dengan berbagai strategi dan inisiatif ini, Kukar berupaya menjadikan daerahnya sebagai destinasi wisata yang dikenal luas, menarik minat wisatawan lokal maupun internasional, serta mendorong perkembangan ekonomi lokal melalui sektor pariwisata. (ADV)

Wisata Budaya di Kota Bangun: Festival Pekan Budaya Bahari Sukses di Gelar

KUTAI KARATNEGARA – Kecamatan Kota Bangun baru saja menyelesaikan rangkaian Festival Pekan Budaya Bahari yang berlangsung dari 11 hingga 15 Juni 2024 di eks Lapangan Pesawat Terbang, Desa Kota Bangun Ulu.

Acara yang digagas oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) ini menjadi magnet baru bagi para wisatawan yang ingin menikmati kekayaan budaya lokal.

Festival Pekan Budaya Bahari tidak hanya menghadirkan berbagai pertandingan olahraga tradisional, seperti engkrang dan terompa, tetapi juga menampilkan lomba karaoke lagu Kutai, busana batik Kutai, dan lomba mewarnai. Keberagaman kegiatan ini memberikan pengalaman yang kaya dan beragam bagi para pengunjung, baik lokal maupun luar daerah.

Kepala Desa Kota Bangun Ulu, Khairul Umam, S.Pd, mengucapkan terima kasih kepada Disdikbud Kukar yang telah melaksanakan kegiatan ini di wilayah mereka.

“Kami berharap kegiatan ini terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya dan adanya lebih banyak event-event dari Kabupaten yang dilaksanakan di Desa Kota Bangun Ulu. Dengan banyaknya event, UMKM di Desa Kota Bangun Ulu khususnya akan semakin meningkat dan berkembang,” ucap Khairul Umum, Sabtu (15/6/2024).

Pemdes KBU juga menyampaikan apresiasi kepada para pelaku seni dan budaya yang telah menampilkan penampilan terbaik mereka selama festival berlangsung.

“Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang hiburan tetapi juga sarana edukasi dan pelestarian budaya bagi generasi muda yang akan datang” ungkapnya.

Festival ini menjadi daya tarik wisata tersendiri, membawa nuansa baru dan memberikan pengalaman berbeda bagi para wisatawan. Pengunjung dapat menikmati suasana tradisional yang kental dengan berbagai aktivitas budaya dan kesenian khas Kutai.

Selain itu, adanya berbagai event dalam festival ini diharapkan mampu mendorong perkembangan ekonomi lokal melalui peningkatan UMKM. Kegiatan seperti ini memberikan kesempatan bagi para pelaku usaha kecil dan menengah untuk memperkenalkan produk mereka kepada khalayak yang lebih luas.

Festival Pekan Budaya Bahari ini diharapkan terus berlanjut di masa mendatang dan menjadi agenda tahunan yang selalu dinanti. Dengan demikian, Desa Kota Bangun Ulu bisa semakin dikenal sebagai destinasi wisata budaya yang kaya akan tradisi dan potensi lokal, menarik minat wisatawan untuk berkunjung dan mengeksplorasi keindahan serta keunikan budaya daerah ini. (ADV)

Kawasan Wisata Menantang di Goa Batu Gelap: Wisata Alam Menawan di Kutai Kartanegara

KUTAI KARTANEGARA – Kalimantan Timur (Kaltim) terkenal dengan keindahan goanya yang memukau, salah satunya adalah Goa Batu Gelap yang terletak di Desa Separi, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara (Kukar).

Berjarak sekitar 43 kilometer dari pusat Kota Tenggarong, ibu kota Kabupaten Kukar, goa ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1,5 jam, dari Kota Balikpapan sekitar 150 kilometer atau 3 jam perjalanan dari kota minyak tersebut dan jika dari Samarinda sekitar 43 kilometer dan bisa ditempuh dengan waktu 1,2 jam dari Ibu Kota Kaltim ini.

“Iya jaraknya lumayan ya, tapi sesuai sih dapatnya pas sudah disini,” ucap Pecinta Alam dari Balikpapan, Buniyamin, Sabtu (15/6/2024).

Dari Balikpapan, sengaja pergi wisata alam Batu Gua Gelap di Separi, karena penasaran dengan keindahan dan tantangan dari Gua ini.

“Kami juga baru kali ini kesini, buat menambah pengalaman disini dan menikmati alam disini,” tambahnya.

Batu Gelap menawarkan pengalaman wisata alam yang menantang dan menakjubkan bagi para pecinta alam.

Saat memasuki goa ini, pengunjung harus merundukkan badan hingga 90 derajat karena pintu masuknya yang sempit.

Namun, setelah melewati pintu masuk, wisatawan akan disambut oleh dinding goa yang tinggi dan kokoh, terbuat dari batu gamping dengan formasi batuan.

Goa Batu Gelap dihiasi oleh stalagmit dan stalaktit yang mengesankan, yang terbentuk oleh aliran sungai bawah tanah yang melintasi goa ini. Keindahan alam ini semakin memukau dengan adanya sinar matahari yang masuk melalui celah-celah goa, menciptakan pemandangan yang menakjubkan. (ADV)