Program Da’i Masuk Desa Terus Berlanjut, Pemkab Kukar Fokus Penuhi Kebutuhan Pembinaan Keagamaan

Pembukaan seleksi Da’i angkatan ke-6. (Istimewa)

Tenggarong – Program Da’i Masuk Desa kembali dilanjutkan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) sebagai bagian dari implementasi visi Kukar Idaman Terbaik, yang menempatkan pembinaan keagamaan sebagai salah satu pilar pembangunan masyarakat.

Memasuki angkatan ke-6, Pemkab mulai membuka proses seleksi dan bimbingan bagi calon da’i dari berbagai kecamatan, dengan fokus memperluas jangkauan dakwah dan mengisi desa-desa yang masih kekurangan pendamping spiritual.

Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setkab Kukar, Dendi Irwan Fahriza, mengungkapkan bahwa total 51 peserta dari 15 kecamatan turut ambil bagian dalam proses seleksi.

Seluruh peserta merupakan utusan resmi dari desa atau kelurahan, sehingga setelah dinyatakan lolos mereka dapat kembali mengabdi di wilayah asal masing-masing.

“Agenda hari ini terkait seleksi dan bimbingan teknis Program Da’i Masuk Desa Angkatan ke-6,” jelasnya, Rabu (26/11/2025).

Penilaian dilakukan oleh tim seleksi yang melibatkan unsur MUI, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Dewan Masjid Indonesia hingga Kementerian Agama.

Keterlibatan banyak lembaga dilakukan agar kualitas peserta benar-benar terukur dan sesuai kebutuhan desa.

“Untuk seleksi ada tiga materi utama yang diuji, yaitu Al-Qur’an, fikih dan dakwah,” ungkapnya.

Pemkab Kukar menargetkan sebanyak 50 da’i dan da’iah dapat melaksanakan tugas setelah seleksi dan pembinaan selesai.

Penempatan dilakukan mengikuti daerah pengusul, sehingga peserta yang lulus langsung dipulangkan untuk membantu penguatan kehidupan keagamaan di desa masing-masing.

“Program ini menargetkan menghasilkan 50 da’i dan da’iah,”tuturnya.

Namun begitu, kebutuhan nyata masih cukup besar. Berdasarkan pemetaan terbaru, dari 193 desa di Kukar, sekitar 20 persen wilayah belum memiliki pendamping dakwah tetap.

Desa-desa dengan komposisi penduduk non-Muslim lebih dominan, seperti sebagian titik di Kenohan dan Kota Bangun Darat, menjadi wilayah dengan tantangan pemenuhan paling tinggi.

Selain itu, keterbatasan peserta yang dapat diutus juga membuat beberapa desa belum terlayani optimal.

Dendi menilai dengan hadirnya da’i yang berasal dari sekitar wilayah tersebut, ruang pembinaan tetap dapat berjalan sekalipun jumlah tenaga belum sepenuhnya terpenuhi.

“Harapan kami, dengan penugasan da’i yang berdomisili dekat desa-desa ini, kebutuhan tetap bisa terpenuhi,” tutupnya. (adv/ak/ko)

Bagikan :