Tenggarong – Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah hulu Sungai Belayan sejak Rabu malam memicu peningkatan volume air secara drastis hingga melampaui batas sungai.
Hal tersebut menyebabkan genangan air meluas ke permukiman dan akses jalan di sejumlah desa di Kecamatan Tabang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), mulai Kamis (8/1/2026) sore.
Kondisi tersebut membuat beberapa kawasan menjadi tergenang, dengan Desa Sidomulyo dan Kampung Baru sebagai titik awal terdampak sebelum air menyebar ke wilayah sekitarnya.
Situasi ini sempat mengganggu aktivitas masyarakat sebelum kondisi perlahan membaik.
Kapolsek Tabang, Iptu Aldino Subroto, menyampaikan, genangan air di beberapa titik mencapai setengah meter dan hingga saat ini menunjukkan tren penurunan.
“Air mulai surut. Rata-rata ketinggian sekitar 50 sentimeter, dan ini terjadi sejak kemarin,” ujarnya, Jumat (9/1/2026).
Wilayah yang terdampak meliputi Desa Sidomulyo, Kampung Baru, Tabang Lama, Umaq Tukung, Umaq Bekuay, Muara Tiq, Muara Kebag, Tuboq, Belinau, serta Muara Salung.
Meski sempat merata di hampir seluruh wilayah tersebut, kondisi kini relatif terkendali dan menunjukkan pemulihan bertahap.
Aldino menegaskan, tidak terdapat korban jiwa maupun kerusakan berarti akibat peristiwa ini.
Dampak utama yang dirasakan warga hanyalah gangguan distribusi bahan bakar minyak ke pembangkit listrik, yang sempat mengakibatkan pemadaman sementara di sejumlah kawasan.
“Situasi aman, tidak ada korban. Hanya sempat terkendala suplai BBM ke PLN sehingga terjadi mati lampu,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kukar, Edy Haryadi, menjelaskan peningkatan debit Sungai Belayan terjadi setelah wilayah tersebut diguyur hujan lebat dalam durasi cukup lama.
“Usai diguyur hujan semalam, hingga pagi tadi debit air di Tabang naik,” ujarnya.
Ia mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan banjir susulan, sekaligus memperhatikan potensi bahaya yang menyertai kondisi banjir.
“Warga harus berhati-hati saat dilanda banjir, terutama terhadap serangan hewan buas, seperti buaya, ular dan lainnya,” terangnya.
Edy juga mengingatkan wilayah di hilir berpotensi ikut terdampak apabila banjir kembali terjadi di kawasan hulu.
“Kalau Tabang banjir, otomatis daerah yang berada di bawahnya seperti Muara Muntai, Kota Bangun, Muara Kaman dan lainnya ikut terdampak banjir karena airnya mengalir ke sana,” ungkapnya.
Sebagai upaya jangka panjang, pihaknya bersama salah satu perusahaan di kawasan tersebut telah membahas opsi penanganan melalui normalisasi Sungai Belayan.
Namun hingga kini rencana tersebut belum dapat direalisasikan karena masih menunggu rekomendasi dari Balai Wilayah Sungai (BWS).
“Normalisasi sungai itu membutuhkan rekomendasi dari Balai Wilayah Sungai (BWS). Semoga apa yang sempat kita bahas bersama itu dapat segera ditindaklanjuti dan luapan air Sungai Belayan semoga cepat surut,” tandasnya. (ak/ko)





