Kecelakaan Maut di Tabang Berujung Pembakaran Bus dan Penutupan Jalan Hauling

Pembakaran satu unit bus oleh warga. (Istimewa)

Tenggarong – Kecelakaan lalu lintas maut yang terjadi di Jalan Poros Long Lalang menuju Gunung Sari, Kecamatan Tabang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), berujung pada pembakaran bus perusahaan dan penutupan jalan hauling oleh warga, setelah satu orang pengendara sepeda motor meninggal dunia, Jumat (19/12/2025).

Kecelakaan tersebut terjadi sekitar pukul 07.05 Wita dan melibatkan sepeda motor dengan sebuah bus milik CV Bagong selaku kontraktor PT Antareja Mahada Makmur (AMM).

Korban diketahui bernama Bang Unjin (51), warga Desa Tukung Ritan, Kecamatan Tabang.

Kapolres Kutai Kartanegara, AKBP Khairul Basyar mengatakan, korban mengalami luka berat dan meninggal dunia sebelum sempat mendapatkan pertolongan medis.

“Korban mengalami luka berat di sejumlah bagian tubuh dan dinyatakan meninggal dunia sebelum mendapatkan pertolongan medis di Puskesmas Tukung Ritan,” ujarnya.

Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara sementara, kecelakaan diduga disebabkan kelalaian pengemudi bus yang mengambil jalur kanan saat melintas dari arah Muara Ritan menuju Gunung Sari.

“Pengemudi bus diduga kurang berhati-hati dan mengambil jalur kanan sehingga terjadi tabrakan frontal,” kata dia.

Pasca kejadian, keluarga korban dan warga mendatangi lokasi hingga berujung pada pembakaran satu unit bus perusahaan serta penutupan jalan hauling Km 78–79 Pos Belayan di Desa Muara Ritan.

Penutupan tersebut, lanjutnya, sempat menghentikan aktivitas kendaraan hauling dan memicu situasi tegang di sekitar lokasi.

Sementara itu, Camat Tabang Rakhmadani Hidayat menjelaskan, kejadian tersebut terjadi di jalan poros umum yang memang memiliki aktivitas lalu lintas cukup tinggi pada jam-jam tertentu.

“Ini kejadiannya di jalan poros umum, Jalan Poros Tabang, sekitar jam tujuh pagi. Pada jam tersebut aktivitas masyarakat dan kendaraan perusahaan memang cukup padat,” jelasnya.

Ia menyebut, kepadatan lalu lintas pada pagi hari kerap terjadi karena bertepatan dengan aktivitas sekolah dan mobilisasi kendaraan operasional perusahaan yang berada di sekitar permukiman warga.

“Biasanya pagi dan sore itu lalu lintas ramai, ada aktivitas sekolah dan juga hilir mudik bus penjemputan karyawan perusahaan,” ujarnya.

Terkait aksi warga pasca kecelakaan, Rakhmadani menilai hal tersebut merupakan reaksi spontan dari keluarga dan masyarakat setempat.

“Reaksi warga dan keluarga korban beragam, situasi sempat sedikit chaos dan akhirnya berimbas pada pembakaran bus,” kata dia.

Untuk meredam situasi, pemerintah kecamatan bersama pemerintah desa, lembaga adat, dan pihak perusahaan segera memfasilitasi pertemuan.

“Mediasi sudah dilakukan siang hari di kantor desa dan sudah ada kesepakatan, sehingga kondisi di lapangan saat ini relatif aman dan kondusif,” tandasnya. (ak/ko)

Bagikan :