Samarinda – Di tengah tantangan lingkungan dan persoalan sampah yang kerap membayangi kota, Kelurahan Gunung Lingai hadir sebagai cerita inspiratif.
Terletak di Kecamatan Sungai Pinang, kawasan ini menjelma menjadi pusat inovasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat, dengan 11 Bank Sampah Unit (BSU) aktif terbanyak se-Kota Samarinda.
Saat Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Andriansyah, datang langsung ke lokasi beberapa waktu lalu, ia menyaksikan sendiri bagaimana gerakan lingkungan ini bukan sekadar wacana.
Dari rumah ke rumah, dari gang sempit ke bantaran sungai, warga bergotong royong mengubah cara pandang terhadap sampah.
Uniknya, setiap BSU punya gaya sendiri. Ada yang menukar sampah dengan sembako. Ada pula yang lebih kreatif mengolah cangkang udang menjadi sambal khas yang mulai dikenal.
“Lainnya membuat kompos, menanam ratusan pucuk merah, hingga menggali lebih dari 500 lubang biopori. Semua bergerak bersama dalam semangat kebersamaan,” ungkapnya.
Warga bahkan rutin membersihkan sungai dan menanami bantaran yang rawan longsor dan pencemaran. Semua BSU ini juga terhubung ke Bank Sampah Induk (BSI), yang menjadi pusat distribusi hasil daur ulang mereka.
Meski penuh semangat, tak semua berjalan mulus. Kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan armada pengangkutan sampah. Gang-gang kecil di Gunung Lingai tak bisa dijangkau kendaraan besar.
Andriansyah pun mendorong adanya sinergi lebih lanjut dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH). “Harapannya, DLH bisa fasilitasi armada kecil agar distribusi lebih lancar. Potensi Gunung Lingai ini luar biasa,” ujarnya.
Di tengah kompleksitas persoalan lingkungan perkotaan, Gunung Lingai membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari hal kecil. Dari rumah, dari sampah, dan dari semangat warga yang tak pernah padam. (adv/hr/ko)





