Tenggarong – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kutai Kartanegara (Kukar) memfokuskan strategi penurunan stunting pada pemanfaatan data akurat dan keterlibatan sektor swasta.
Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan intervensi tepat sasaran dan tidak bergantung sepenuhnya pada anggaran pemerintah daerah.
Plt Kepala DP2KB Kukar, Dafip Haryanto menjelaskan, kunci keberhasilan program ini terletak pada kinerja Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang berada di bawah koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS).
“Kami bertugas sebagai sekretariat TPPS, mengelola data lapangan yang menjadi dasar langkah intervensi,” ujarnya saat di wawancarai adakaltim.com, Rabu (4/6/2025).
Salah satu program unggulan yang dijalankan adalah Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Stunting), yang melibatkan perusahaan dan donatur sebagai penyandang dana.
“Program ini tidak menggunakan APBD. Ini adalah bentuk nyata peran swasta dalam pembangunan sumber daya manusia,” lanjutnya.
Program lain adalah Taman Keluarga, ruang edukatif bagi orang tua untuk memahami pengasuhan dan gizi anak secara lebih baik.
Dari berbagai upaya tersebut, DP2KB berharap hal tersebut dapat mencegah potensi terjadinya stunting sejak dini.
“Kami juga mengusulkan program ini masuk ke Sinovik dan sedang berkoordinasi dengan BRIN untuk pengembangan lebih lanjut,” jelasnya.
Dafip menilai bahwa kerja sama lintas sektor merupakan kunci keberlanjutan program.
“Tantangan memang ada, tapi kolaborasi adalah cara terbaik untuk mewujudkan generasi Kukar yang sehat dan tangguh,” tutupnya. (ak/ko)





