Kutai Kartanegara – Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menyiapkan strategi pengembangan ekonomi kreatif yang berfokus pada perluasan pemasaran produk hingga peluang ekspor.
Langkah ini dilakukan agar program pelatihan yang selama ini dijalankan tidak hanya meningkatkan keterampilan pelaku usaha, tetapi juga mampu mendorong penjualan produk.
Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kukar, Zikri Umulda, mengatakan berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) telah menjalankan program pelatihan, mulai dari manajemen keuangan hingga desain produk. Namun, program tersebut perlu dilanjutkan dengan upaya konkret untuk memperluas akses pasar.
“Jangan sampai program-program tersebut hanya menjadi seperti templat yang terus diulang. Yang ingin kita lakukan berikutnya adalah bagaimana produk itu benar-benar bisa terjual, terutama melalui penguatan pemasaran,” ujar Zikri, Senin (12/10/2026).
Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi pelaku ekonomi kreatif bukan hanya menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga membangun jaringan pemasaran. Proses tersebut membutuhkan biaya, waktu, dan koneksi yang tidak mudah dibangun.
“Membangun jaringan pemasaran jauh lebih sulit daripada sekadar mendesain sesuatu. Jaringan itu membutuhkan biaya dan proses yang tidak mudah,” jelasnya.
Karena itu, Dispar Kukar berencana memperluas orientasi pengembangan ekonomi kreatif dengan menjajaki peluang pemasaran ke luar negeri. Untuk tahun depan, pihaknya menargetkan penjajakan skema ekspor secara bertahap melalui koordinasi dengan sejumlah pihak terkait.
“Untuk tahun depan, kami berencana masuk ke skema ekspor secara bertahap. Mudah-mudahan bisa terlaksana,” ungkap Zikri.
Ia mengatakan, komunikasi telah dilakukan dengan Burhan dari bidang perdagangan serta sejumlah pihak terkait lainnya untuk membahas peluang pengembangan pasar tersebut.
Koordinasi ini diharapkan dapat membuka jalan bagi produk ekonomi kreatif Kukar untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.
Selain memperkuat pemasaran produk, Dispar Kukar juga menyiapkan gagasan pengembangan sumber daya manusia (SDM) melalui program pemagangan.
Program ini dirancang untuk memberikan pengalaman industri kepada pelaku ekonomi kreatif, termasuk lulusan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI).
Salah satu bidang yang menjadi perhatian adalah perfilman. Zikri menilai, lulusan ISBI yang memiliki kompetensi di bidang tersebut perlu mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan sekaligus membangun portofolio profesional.
Ia mencontohkan, peserta magang dapat difasilitasi untuk belajar di rumah produksi atau production house (PH) di luar daerah, termasuk rumah produksi yang melibatkan sineas nasional seperti Hanung Bramantyo atau Ernest Prakasa.
Melalui pengalaman tersebut, peserta diharapkan dapat memahami proses kerja industri perfilman secara langsung.
“Teman-teman dari bidang perfilman bisa kita fasilitasi untuk magang di rumah produksi atau production house di luar daerah. Mereka bisa belajar sehingga mendapatkan pengalaman langsung di industri perfilman,” tuturnya.
Zikri menambahkan, pembahasan mengenai bentuk kolaborasi pemagangan telah dilakukan bersama pihak terkait, termasuk Dendi. Aspek regulasi dan aturan pemagangan tenaga kerja juga menjadi perhatian agar program tersebut dapat dilaksanakan sesuai ketentuan.
Menurutnya, pengembangan ekonomi kreatif harus berjalan seiring antara penguatan pemasaran dan peningkatan kapasitas pelakunya. Dengan demikian, produk yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai kreativitas, tetapi juga peluang untuk berkembang secara komersial.
“Kita tidak hanya berbicara tentang produk, tetapi juga strategi menjual produk dan bagaimana meningkatkan kapasitas orang-orang yang berada di balik produk tersebut,” pungkasnya.
Melalui strategi tersebut, Dispar Kukar berharap pelaku ekonomi kreatif dapat memperoleh akses pasar yang lebih luas sekaligus meningkatkan kompetensi sesuai kebutuhan industri.
“Penguatan jaringan pemasaran, penjajakan ekspor, dan program pemagangan nantinya diharapkan menjadi bagian dari upaya mendorong daya saing ekonomi kreatif di Kutai Kartanegara,” tutup Zikri. (adv/nr/ko)




