Dispar Kukar Fasilitasi Seni Teater Mamanda Panji Berseri Tampil di Simpang Odah Etam, Jaga Tradisi Beladon

Penampilan Sanggar Mamanda Panji Berseri di Simpang Odah Etam, Tenggarong. (nur/adakaltim)

Kutai Kartanegara – Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memfasilitasi Sanggar Mamanda Panji Berseri Tenggarong untuk tampil di panggung Simpang Odah Etam, Tenggarong.

Upaya ini dilakukan untuk mengenalkan kembali seni teater tradisional khas Kutai yang mulai terlupakan sekaligus menjaga keberlangsungan tradisi Mamanda di tengah masyarakat.

Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kukar, Zikri Umulda, mengatakan fasilitasi tersebut merupakan bentuk dukungan pemerintah daerah dalam menyediakan ruang bagi para pelaku seni untuk menampilkan karya mereka kepada masyarakat.

“Sebetulnya, kami hanya memberikan etalase, memfasilitasi mereka para pelaku Ekraf,” ujar Zikri, Senin (12/10/2026).

Menurutnya, upaya menghidupkan kembali kesenian Mamanda juga melibatkan kolaborasi dengan para peneliti yang mengkaji cara agar seni teater tradisional tersebut dapat kembali eksis dan dikenal luas.

Zikri menyebut, munculnya klaim terhadap kesenian Mamanda dari Kalimantan Selatan turut memacu para pelaku seni untuk memperkuat kecintaan masyarakat terhadap kesenian daerah sendiri, khususnya Mamanda yang berkembang di Kutai Kartanegara.

“Hal tersebut membuat mereka terpacu untuk kembali menumbuhkan kecintaan masyarakat Kutai Kartanegara, khususnya para pelaku kesenian Mamanda, agar kesenian ini bisa eksis kembali,” jelasnya.

Melalui kolaborasi tersebut, Dispar Kukar menyediakan tempat sekaligus memfasilitasi sanggar untuk tampil. Dengan begitu, masyarakat dapat berinteraksi langsung dengan pertunjukan Mamanda dan mengenal lebih dekat warisan seni tradisional yang tumbuh di daerahnya.

Zikri menjelaskan, Mamanda yang berkembang di wilayah Kutai merupakan kesenian yang memadukan berbagai unsur pertunjukan, termasuk pengaruh dari Kalimantan Selatan. Namun, Mamanda di Kukar memiliki karakteristik tersendiri yang menjadi pembeda, salah satunya melalui tradisi beladon.

Beladon atau ladon merupakan unsur seni lisan yang memadukan pantun, nyanyian, dan iringan musik tradisional. Dalam pertunjukan Mamanda, unsur ini menjadi bagian pembuka yang membangun suasana sebelum cerita utama dimainkan.

Pantun dilantunkan mengikuti melodi tertentu dengan iringan alat musik tradisional, seperti gong, biola atau piul, serta gendang atau babon. Perpaduan sastra lisan dan musik tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga karakter pertunjukan Mamanda.

Bagi Sanggar Mamanda Panji Berseri, beladon menjadi salah satu ciri khas yang terus dipertahankan. Keberadaannya tidak hanya memperkaya pertunjukan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas kesenian Mamanda yang berkembang di Kutai Kartanegara.

“Beladon itulah yang menjadi ciri khas Mamanda Panji Berseri ini,” kata Zikri.

Melalui penampilan di Simpang Odah Etam, Dispar Kukar berharap kesenian Mamanda semakin dikenal masyarakat, terutama generasi muda.

“Ruang pertunjukan di SOE ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi pelaku seni untuk terus berkarya sekaligus menjaga tradisi lokal agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” pungkasnya. (adv/nr/ko)

Bagikan :