Kutai Kartanegara – Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Pesta Laut Samboja sebagai bentuk pelestarian tradisi adat masyarakat pesisir, yang lebih dari itu juga memiliki berpotensi peningkatan pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispar Kukar, Awang Agus Dharmawan, mengatakan evaluasi masih berlangsung menyusul berakhirnya rangkaian kegiatan yang digelar selama tiga hari tersebut sekitar satu minggu lalu.
Pihaknya kini sedang mengumpulkan data untuk mengukur bagaimana dampak kegiatan bagi peningkatan perekonomian masyarakat.
Menurutnya, evaluasi diperlukan untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan Pesta Laut Samboja memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terlibat selama kegiatan berlangsung.
“Yang ingin kami ketahui adalah berapa besar perputaran uang selama kegiatan, bagaimana peningkatan jumlah pelaku UMKM yang terlibat, serta sejauh mana sektor ekonomi kreatif bergerak selama acara tersebut,” ujarnya, Kamis (22/10/2026).
Ia menjelaskan, penghitungan juga mencakup paket kunjungan wisatawan yang ditawarkan dalam rangkaian kegiatan.
Data tersebut nantinya menjadi salah satu bahan untuk melihat potensi Pesta Laut Samboja sebagai daya tarik wisata budaya yang mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian lokal.
Selain dampak ekonomi, Pesta Laut Samboja memiliki nilai budaya yang kuat bagi masyarakat setempat.
Salah satu prosesi utamanya adalah Melarung, yakni membawa sesaji menggunakan perahu untuk dilarungkan ke laut sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas rezeki yang diperoleh dari hasil laut.
Awang Agus Dharmawan menjelaskan, tradisi Melarung merupakan wujud sukacita masyarakat Samboja, khususnya para nelayan, atas hasil tangkapan ikan yang melimpah. Tradisi tersebut juga menjadi ungkapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang diberikan melalui laut.
“Melarung merupakan kegiatan melarung sesajen ke laut. Berdasarkan pemahaman saya, tradisi tersebut merupakan bentuk rasa syukur masyarakat Samboja atas hasil tangkapan ikan yang melimpah,” jelasnya.
Dispar Kukar pun masih menunggu hasil penghitungan dan evaluasi secara menyeluruh untuk mendapatkan gambaran mengenai dampak penyelenggaraan kegiatan tersebut.
“Hasil evaluasi kita harapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan kegiatan serupa ke depan, sehingga pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan peningkatan kunjungan wisatawan dan peluang usaha bagi masyarakat setempat,” harapnya.
Berikut rangkaian adat pesta laut Samboja :
– Persiapan ritual dan pembacaan doa adat, sebagai tahap awal sebelum prosesi adat dimulai.
– Injak Bara, prosesi tradisional yang menjadi bagian dari rangkaian adat masyarakat setempat.
– Arak-arakan Lawa Suji / Wala Suji, yaitu membawa wadah sesaji dari rumah tokoh adat menuju Pelabuhan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Samboja Kuala.
– Melarung, prosesi membawa sesaji menggunakan perahu untuk dilarungkan ke laut sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil tangkapan ikan dan rezeki yang diperoleh masyarakat.
– Belimbur, tradisi saling menyiram air yang melibatkan masyarakat sebagai bagian dari kemeriahan acara sekaligus mempererat kebersamaan warga pesisir. (adv/nr/ko)




