Tenggarong – Delapan kecamatan di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dipastikan akan menerima program bantuan ayam petelur dengan total anggaran sekitar Rp8 miliar pada tahun 2026.
Bantuan tersebut disalurkan melalui Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar dalam bentuk paket usaha ternak skala rumah tangga.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Distanak Kukar, Muhammad Rifani, menyampaikan program ini diarahkan kepada kelompok peternak yang telah memiliki struktur organisasi yang aktif serta sumber daya manusia yang dinilai siap mengelola usaha secara konsisten.
“Untuk tahun ini sekitar 37 paket atau 37 unit. Itu tersebar di delapan kecamatan yang ada di Kukar. Total anggarannya kurang lebih Rp8 miliar,” ungkapnya, Sabtu (21/2/2026).
Ia memaparkan, setiap paket bantuan dirancang secara menyeluruh, meliputi penyediaan kandang portable, suplai pakan awal, hingga ayam petelur yang telah memasuki fase produktif sekitar usia 22 minggu.
Dengan konsep tersebut, kata dia, kelompok penerima dapat langsung memulai produksi tanpa harus menunggu masa pertumbuhan dari bibit.
Wilayah yang masuk dalam cakupan program meliputi Kecamatan Loa Janan, Loa Kulu, Kota Bangun, Kota Bangun Darat, Sebulu, Muara Wis, Muara Muntai, dan Muara Kaman.
Penentuan kecamatan dilakukan melalui proses seleksi berbasis prioritas, terutama pada daerah yang memiliki kelompok peternak aktif dan telah mengikuti pembinaan teknis sebelumnya.
“Kita pilih yang memang basic masyarakatnya peternak dan kelompoknya sudah berjalan. Jadi tidak kita lepas begitu saja, tapi kita bantu dan dampingi sampai mereka menghasilkan,” jelasnya.
Rifani menegaskan, bantuan diberikan kepada kelompok, bukan perorangan, dengan jumlah anggota rata-rata 10 hingga 15 orang.
Dalam jumlah tersebut, lanjutnya, satu kelompok berpeluang menerima lebih dari satu paket apabila dinilai mampu mengelola unit tambahan.
Dari sisi sarana pendukung, Rifani menjelaskan setiap unit usaha memerlukan lahan minimal berukuran 8×15 meter dengan status kepemilikan yang jelas.
Pengaturan penggunaan lahan sepenuhnya menjadi kesepakatan internal kelompok, baik melalui skema kerja sama antaranggota maupun hibah.
Ia menekankan program ini tidak semata-mata ditujukan untuk meningkatkan suplai telur di pasar, tetapi juga sebagai langkah memperkuat ketahanan pangan keluarga di tingkat desa.
“Paling tidak mereka tidak susah lagi membeli telur untuk kebutuhan sendiri. Kalau ada lebihnya bisa dijual. Minimal kebutuhan kelompoknya terpenuhi, itu sudah luar biasa,” kata dia.
Menurutnya, meski masih dalam skala rumah tangga, program ini disiapkan dengan pola pendampingan berkelanjutan agar dapat tumbuh menjadi sumber penghasilan tambahan yang stabil bagi masyarakat penerima.
“Intinya kita pantau terus perkembangannya. Tidak dilepas begitu saja. Kita dampingi sampai benar-benar berjalan,” tutupnya. (ak/ko)





