Kutai Kartanegara – Sungai, pepohonan, dan bekantan menjadi perpaduan daya tarik yang ditawarkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sungai Hitam Lestari di Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara (Kukar).
Di kawasan ini, wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan. Pengunjung dapat menaiki perahu dan menyusuri aliran sungai sembari mengenal kehidupan satwa serta tumbuhan yang tumbuh di kawasan hutan Sungai Hitam.
Pokdarwis Sungai Hitam Lestari menjadi bagian dari masyarakat yang mengembangkan potensi tersebut menjadi wisata berbasis alam. Kelompok ini tercatat berdiri sejak 2019 dan memiliki 27 anggota aktif.
Sebelum berkembang sebagai kegiatan wisata, kepedulian terhadap habitat bekantan menjadi salah satu dasar masyarakat dalam menjaga kawasan Sungai Hitam.
Potensi tersebut kemudian dikembangkan menjadi ekowisata yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk terlibat sekaligus mengenalkan kekayaan alam setempat kepada pengunjung.
Ketua Pokdarwis Sungai Hitam Lestari, Aidil, mengatakan pengalaman wisatawan selama berada di sungai tidak dilepaskan dari peran pemandu.
“Setiap perjalanan kami arahkan supaya pengunjung mendapat gambaran tentang kawasan yang mereka lewati. Jadi ada pemandu yang menemani sekaligus menjelaskan apa saja yang mereka lihat di sepanjang sungai,” ujar Aidil saat dihubungi via telepon, pada Kamis (8/10/2026).
Pemandu menjadi penghubung antara wisatawan dengan lingkungan yang mereka kunjungi. Informasi mengenai flora dan fauna diberikan selama perjalanan sehingga aktivitas susur sungai tidak sekadar menjadi perjalanan menikmati pemandangan.
Pepohonan yang tumbuh di tepian sungai menjadi bagian dari lanskap perjalanan. Di kawasan tertentu, wisatawan juga berpeluang menemukan bekantan yang beraktivitas di atas pohon atau berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya.
Bagi Aidil, pertemuan wisatawan dengan bekantan justru menjadi bagian menarik dari pengalaman di Sungai Hitam.
“Kalau kebetulan bertemu bekantan saat perjalanan, itu menjadi pengalaman tersendiri bagi pengunjung. Mereka bisa melihat langsung bagaimana satwa itu hidup di kawasan yang memang menjadi habitatnya,” katanya.
Namun, keberadaan bekantan tidak hanya dilihat dari sisi daya tarik wisata. Satwa endemik Kalimantan tersebut juga menjadi alasan bagi masyarakat untuk memperhatikan kondisi lingkungan di sekitar sungai.
Aidil menyebut kegiatan wisata yang dikembangkan di kawasan tersebut sekaligus membawa pesan mengenai pentingnya menjaga habitat satwa.
“Kami ingin wisatawan pulang tidak hanya membawa pengalaman melihat bekantan, tetapi juga tahu kenapa kawasan seperti ini harus dipertahankan. Alamnya tetap menjadi bagian utama dari wisata yang kami tawarkan,” jelasnya.
Konsep yang terus dibangun dan dikembangkan Pokdarwis Sungai Hitam Lestari memberikan pengalaman yang berbeda bagi wisatawan. Mereka tidak hanya duduk di atas perahu dan menikmati suasana sungai, tetapi juga diajak memahami apa yang ada di balik kawasan tersebut.
Hutan, sungai, tumbuhan, dan bekantan menjadi satu kesatuan yang membentuk karakter wisata Sungai Hitam Lestari. Keberadaan pemandu membantu pengunjung mengenali unsur-unsur tersebut selama perjalanan.
Bagi wisatawan yang ingin mencari pengalaman wisata alam di Kukar, susur Sungai Hitam di Samboja menawarkan perjalanan yang sederhana namun memiliki cerita.
Menyusuri sungai dengan perahu, menikmati suasana hutan, serta berkesempatan melihat bekantan di habitat alaminya menjadi pengalaman yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkenalkan pentingnya menjaga kelestarian alam Kalimantan.
Dengan konsep tersebut, susur sungai menjadi sarana untuk mempertemukan wisata dan edukasi. Pengunjung dapat menikmati perjalanan menggunakan perahu, tetapi pada saat yang sama mendapatkan informasi mengenai ekosistem yang ada di sekitar mereka.
Lebih lanjut Aidil menambahkan, keberadaan bekantan menjadi salah satu kekuatan utama Sungai Hitam Lestari. Satwa tersebut merupakan bagian dari kekayaan alam yang keberadaannya perlu dipertahankan.
“Bekantan merupakan satwa yang dilindungi, sehingga keberadaannya di sini harus dijaga. Bagi kami, wisata dan upaya menjaga habitatnya harus berjalan bersama,” pungkasnya. (adv/nr/ko)




