Tenggarong – Di tengah kesibukan menjalankan tugas sebagai anggota DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Rahmat Darmawan memilih cara yang berbeda untuk merekam perjalanan politiknya.
Satu tahun masa pengabdiannya di parlemen, ia rangkai dalam sebuah film dokumenter berjudul Penyambung Lidah Rakyat.
Film tersebut menjadi potret perjalanan Rahmat sejak dipercaya duduk di Komisi II DPRD Kukar pada periode 2024–2029.
Berbagai aktivitasnya di tengah masyarakat, mulai dari menyerap aspirasi hingga mengawal program pemerintah daerah, didokumentasikan dan dirangkai menjadi sebuah kisah visual tentang perjalanan seorang wakil rakyat.
Rahmat yang merupakan kader PDI-Perjuangan mengungkapkan bahwa gagasan pembuatan film ini berawal dari inisiatif tim dan relawan yang ingin merangkum perjalanan kerjanya selama satu tahun terakhir.
“Dokumentasi perjalanan saya selama satu tahun menjabat sebagai anggota DPR. Dari advokasi masyarakat, mengawal program pemerintah, sampai membantu agar program itu benar-benar terfasilitasi,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).
Bagi Rahmat, film ini bukan sekadar dokumentasi aktivitas politik. Ia melihatnya sebagai ruang refleksi, sekaligus upaya keterbukaan kepada masyarakat bagaimana proses kerja seorang anggota dewan dalam menjalankan amanah.
Rencananya, film Penyambung Lidah Rakyat akan diputar di tiga kecamatan yang menjadi daerah pemilihannya, yakni Samboja, Muara Jawa, dan Sanga-Sanga.
Pemutaran perdana dijadwalkan berlangsung setelah Idulfitri 2026 melalui kegiatan nonton bareng bersama masyarakat.
“Trailernya sudah ada, tinggal menunggu waktu. Anak-anak muda di sana yang banyak membantu menyiapkan tempat dan teknisnya,” jelasnya.
Judul Penyambung Lidah Rakyat sendiri memiliki cerita tersendiri bagi Rahmat.
Ia mengingat kembali saat pertama kali menerima buku berjudul Penyambung Lidah Rakyat Indonesia dari mentornya, Muhammad Samsun, yang kini menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur.
Buku yang terinspirasi dari perjalanan Bung Karno tersebut dibacanya berulang kali.
Dari sana ia mulai memahami bahwa politik, bagi dirinya adalah jalan untuk menyuarakan aspirasi masyarakat.
“Dulu saya diberi buku berjudul Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Saya baca berkali-kali dan dari situ saya merasa bahwa perjalanan politik saya harus berangkat dari menyuarakan aspirasi masyarakat,” tuturnya.
Rahmat menyadari jalan politik yang ia tempuh tidak berasal dari latar belakang keluarga politisi.
Ibunya seorang pedagang, sementara ayahnya seorang petani. Ia tumbuh dari keluarga sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Saya ini tidak punya rekam jejak sebagai politisi. Jadi ketika saya banyak menyuarakan isu-isu masyarakat, orang bilang lewat saya aspirasi mereka bisa tersampaikan,” ucapnya.
Melalui film tersebut, Rahmat juga ingin menghadirkan edukasi politik kepada masyarakat.
Penonton diajak memahami proses politik tidak hanya terjadi di ruang sidang, tetapi juga lahir dari interaksi dengan masyarakat, diskusi, hingga perjuangan mengawal kebijakan.
Ia berharap film ini dapat mengubah cara pandang sebagian masyarakat yang kerap melihat politik hanya dari sisi negatif.
“Politik itu ibarat pisau. Tergantung siapa yang memegang dan bagaimana menggunakannya. Kalau digunakan untuk kebaikan, maka hasilnya baik. Tapi kalau dijalankan oleh orang yang tidak baik, tentu kebijakannya juga tidak akan baik,” tegasnya.
Bagi Rahmat, pilihan politik masyarakat memiliki dampak jangka panjang terhadap arah kebijakan yang lahir di kemudian hari.
“Kebijakan yang kita nikmati hari ini adalah hasil dari pilihan politik kita kemarin,” pungkasnya. (ak/ko)





