Tenggarong – Si jago merah melahap enam ruang kelas SDN 024 Sebulu RT 19, Desa Sumber Sari, Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) pada Selasa (4/11/2025).
Kobaran api yang diduga berasal dari korsleting listrik juga merusak sejumlah fasilitas sekolah lainnya.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Kukar, Fida Hurasani menyebut, petugas sempat kesulitan dalam memadamkan api karena sekolah berada di kawasan dataran tinggi yang sulit dijangkau sumber air.
“Api pertama kali terlihat sekitar pukul 16.38 WITA, dan beruntung saat itu seluruh siswa sudah pulang sekolah. Kami langsung berkoordinasi dengan relawan kebakaran Desa Sumber Sari serta Damkar Kecamatan Sebulu dan Segihan untuk melakukan pemadaman,” jelasnya.
Menurutnya, medan yang menanjak dan terbatasnya pasokan air menjadi tantangan utama dalam proses pemadaman.
“Lokasi sekolah jauh dari sungai, sementara sumur di sekitar tidak mampu memenuhi kebutuhan air. Mobil tangki bahkan harus bolak-balik mengambil air dari titik terdekat,” lanjutnya.
Dalam proses pemadaman, Disdamkartan Kukar mengerahkan tiga unit mobil pemadam dari Pos SP1, Segihan, dan Pos Induk Matan Kukar.
Bantuan juga datang dari PT Surya Hutani Jaya serta warga setempat yang menyediakan dua tandon air darurat.
“Berkat kerja keras petugas dan relawan, api akhirnya berhasil dikendalikan sekitar pukul 18.35 WITA setelah lebih dari satu jam upaya penyiraman nonstop,” terang Fida.
Ia mengungkapkan, hasil pemeriksaan awal menunjukkan api diduga berasal dari ruang perpustakaan.
Material bangunan yang sebagian besar terbuat dari kayu dan beratap seng membuat si jago merah cepat menjalar ke ruang-ruang kelas.
“Enam ruang kelas hangus terbakar, yakni kelas 4B, 5A, 5B, dan 6, serta dua ruang guru. Sementara ruang koperasi, dapur, dan perpustakaan mengalami kerusakan berat,” ungkapnya.
Fida mengungkapkan, hanya tujuh ruang sekolah yang tersisa dalam kondisi utuh, sementara sebagian besar buku, alat pembelajaran, dan arsip sekolah tidak dapat diselamatkan.
“Peristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak untuk meningkatkan kesiapsiagaan di fasilitas umum, terutama di wilayah dataran tinggi,” ujarnya.
Ia menyebutkan bahwa pentingnya sarana pendukung darurat di kawasan perbukitan agar penanganan kebakaran lebih cepat.
“Wilayah seperti SP1 dan sekitarnya perlu memiliki tandon air permanen. Selain itu, pemeriksaan rutin instalasi listrik di sekolah harus dilakukan untuk mencegah korsleting,” tutupnya. (ak/ko)





