Tenggarong – Menghadapi gelombang pensiun ratusan aparatur sipil negara (ASN) tahun ini, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mendorong para pegawai yang memasuki masa purnabakti untuk mulai menyiapkan diri berwirausaha.
Langkah ini dilakukan sebagai upaya menjaga produktivitas dan kemandirian ekonomi ASN setelah tidak lagi aktif bertugas.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kukar, Arianto, menyebut jumlah ASN yang akan mencapai batas usia pensiun (BUP) pada 2026 tergolong besar.
“Ada sekitar 600 ASN Kukar yang akan memasuki masa pensiun tahun ini, sehingga mereka perlu mendapat pengenalan usaha dan strategi dalam berwirausaha,” ujarnya saat dihubungi pada Sabtu (14/2/2026).
Menurutnya, masa transisi menuju pensiun bukan sekadar penyelesaian administrasi, tetapi juga momentum untuk merancang aktivitas pascapensiun agar tetap memiliki penghasilan dan kegiatan produktif.
Karena itu, lanjutnya, Pemkab Kukar menggandeng PT Taspen dan Bank Mandiri Taspen guna memberikan pembekalan sejak dini.
Sebagai tahap awal, sebanyak 135 ASN mengikuti sosialisasi yang mencakup pengurusan berkas pensiun, pemanfaatan layanan digital, serta pemaparan peluang usaha yang bisa dijalankan setelah purnabakti.
Sementara, kata dia, sisanya akan dilakukan secara bertahap menyesuaikan jadwal ASN yang lebih dulu memasuki masa pensiun.
“Dalam data yang kami punya memang ada sekira 600 orang memasuki BUP, jadi sosialisasinya dilakukan bertahap, dimulai dari 135 orang. Nanti akan kami sesuaikan siapa yang duluan pensiun, itulah yang diundang mengikuti sosialisasi dan pengenalan usaha,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa PT Taspen nantinya akan memberikan penjelasan terkait hak pensiun, tabungan hari tua, serta mekanisme klaim layanan.
Sementara Bank Mandiri Taspen memaparkan berbagai produk keuangan dan akses permodalan yang dapat dimanfaatkan para pensiunan untuk memulai usaha.
“PT Taspen dan Bank Mandiri Taspen Samarinda mengisi sosialisasi supaya kawan-kawan yang memasuki usia pensiun dapat menyiapkan kegiatan setelah mereka pensiun untuk wirausaha,” jelas Arianto.
Ia berharap, melalui pembekalan tersebut, para ASN tidak hanya siap secara administratif, tetapi juga memiliki gambaran konkret tentang peluang usaha yang sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing.
Menurutnya, kewirausahaan dapat menjadi alternatif strategis untuk menjaga stabilitas finansial sekaligus tetap berkontribusi terhadap perekonomian daerah.
“Program ini diharapkan mampu melahirkan pensiunan ASN yang mandiri secara ekonomi, adaptif terhadap perubahan, serta tetap aktif berkarya di tengah masyarakat meski telah memasuki masa purnabakti,” pungkasnya. (ak/ko)





